FanFic – My Stalker


Title            : My Stalker

Cast            :

  1. Yesung
  2. Lee Hae Ra (OC)
  3. Kyuhyun
  4. Park Min Jung (OC)
  5. Others

Author       : Virniari ( @virniari )

Genre         : Romance

Rating        : PG-15

Length       : OneShoot

 

Please Don’t be silent reader! Don’t be plagiator! Coment untuk menghargai karya saya ><

 

***

 

Es krim yang kau pegang tiba- tiba jatuh dari genggamanmu. Pasti ada orang yang sedang memandangimu. Hal ini sudah sering terjadi dan ini terbukti. Setiap sesuatu yang kau pegang terjatuh, di saat itulah pasti ada orang yang memperhatikanmu.

“Hae ra-ya~” panggil Min Jung dari belakang. “es krim-mu jatuh?”

Kau mengangguk lemah. “pasti ada yang memperhatikanku”

“susah juga ya kalau begini,” kata Min Jung sambil mengedikkan bahu. “Sudahlah, makan es krim-ku saja. Kita bagi dua.” lanjutnya sambil tersenyum.

Kau mengangguk senang. Memang tidak salah kau mempunyai sahabat seperti Min Jung.

 

***

 

“Apa-apaaan ini? enam?” sentak appa-mu saat melihat nilai ulanganmu yang merah merekah. Kau hanya meringis, tidak tahu harus menanggapinya bagaimana. “Sebenarnya kau belajar atau tidak sih?”

“Belajar kok, appa…” ujarmu sambil menunjukkan eyes smile. Namun sepertinya jurusmu kali ini tidak mempan.

“Belajar saja nilaimu segini. Kalau tidak belajar bagaimana, hah?!” sambung eomma-mu.

Kau menghela nafas berat. Sepertinya appa dan eomma-mu sekongkol menyudutkanmu.

“Pokoknya mulai sekarang, kau harus les privat! eomma tidak yakin nilaimu akan tinggi jika setiap hari kerjamu hanya nonton drama!”

“MWO?! andwae!” tolakmu mentah-mentah. Eomma-mu menatapmu dengan tatapan jika-kau-menolak-habislah-kau. Akhirnya kau menunduk pasrah.

“Jadi, mulailah mencari sasaran untuk menjadi gurumu,” suruh appa dengan tegas.

“ne~” sahutmu malas.

 

***

 

Min Jung tertawa keras saat kau selesai menceritakan kejadian kemarin. Di mana kau harus mencari satu sasaran yang akan menjadi mentor-mu.

“Ya, Min Jung-ah! Jangan tertawa!” sungutmu kesal. Min Jung memegangi perutnya yang sakit karena banyak tertawa.

“Ba-bagaimana..hah..tidak tertawa..haha…” ucap Min jung tak jelas. Ia masih ngos-ngosan karena tertawa. “Salahmu sendiri..hah..mendapat nilai merah..hah..dan kau jadi harus les privat..” lanjutnya dengan seringai lebar.

Kau mencibirnya, lalu bergumam, “Tidak ada gunanya aku cerita padamu, Min jung…”

“ya! Aku dengar, ppabo!” ketus Min jung. “Sudahlah, lebih baik kau cari orang yang bersedia mengajarimu.”

“Araseo. Tapi siapa?” tanyamu bingung. Kau mengedarkan pandanganmu ke penjuru kelas, lalu matamu menangkap sosok Kyuhyun. Ya. Kau bisa minta ajari dia. Namja itu sangat pintar.

“Kyuhyun-ah!” serumu.

Namja yang sedari tadi menunduk sambil membaca kamus tebal, mengangkat wajahnya dan tersenyum saat kau menghampirinya.

“Ada apa, Hae ra-ya?” tanyanya ramah.

“em.. Kyuhyun-ah… mau tidak kau menjadi guru privatku? Appa menyuruhku untuk mencari orang yang bisa mengajariku matematika dan pelajaran lain karena kemarin nilaiku merah…” pintamu dengan puppy eyes. Senyum manis tidak tertinggal di wajahmu.

“Ne, tentu saja.” Kyuhyun menyanggupi. Ia tersenyum ramah. “Mau di mulai kapan?” tanyanya.

“Hari ini, bagaimana?” tanyamu balik.

Kyuhyun kembali tersenyum. “Baiklah.”

 

***

 

“Aku tidak mengerti, Kyuhyun-ah~” katamu lemas. Sudah ketiga kalinya Kyuhyun mengajarimu rumus matematika dan kau masih tidak mengerti juga.

“Yah, bagaimana ya?” Kyuhyun menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Aku menyerah mengajarimu, Hae ra-ya~”

“aah, Kyuhyun… jangan menyerah…” pintamu sambil menarik- narik lengannya.

Kyuhyun tampak berpikir sebentar, lalu ia berkata, “Sepertinya kau harus bertemu dengan hyung-ku. Ia lebih pintar dariku.”

“Jinjja?! ahh… gomawo Kyuhyun-ah!!” Serumu histeris. Kau melompat- lompat kegirangan sampai-sampai tidak menyadari bahwa kyuhyun tertawa kecil.

“Ya. Sudah-sudah. Kenapa kau kegirangan seperti itu?” Ujar Kyuhyun seraya mencoba menghentikan tawanya.

Kau menyeringai malu, lalu berkata, “Aku senang, Kyuhyun-ah~ jadi aku tidak akan dimarahi appa dan eomma-ku lagi~”

“Hm.. Araseo..” Kata Kyuhyun akhirnya. Ia bangkit dari duduknya dan membereskan buku- bukunya yang berserakan di atas meja.

“Eh? Kau mau pulang?” Tanyamu bingung.

Kyuhyun menoleh menatapmu, lalu mengangguk.

“Ne. Aku mau pulang dan menemui hyung-ku. Berdoa saja ia mau mengajarimu.” Ia menarik napas, lalu berjalan ke arahmu.

“Soalnya dia itu orangnya tidak sabaran. Tapi, ia juga tidak pantang menyerah.”

“Jinjja? Ahh, gomawo kyuhyun-ah~” katamu untuk kesekian kalinya.

Kyuhyun tersenyum, lalu mengacak-ngacak rambutmu sesaat.

 

***

 

Seperti yang sudah Kyuhyun perintahkan, ia menyuruhmu datang ke apartemennya. Kau menurut saja dan saat ini kau tepat berada di depan pintu apartemen nomor 432. Kau menekan bel beberapa kali hingga akhirnya seseorang membukakan pintu.

“Nuguya?” seorang namja dengan tidak ramahnya menyambut kedatanganmu.

Kau mengernyitkan dahi. Salah pintu, Mungkin?

“Ya! Nuguya?” Tanya namja itu untuk kedua kalinya. Kau tersentak. Kasarnya namja ini!

“Eh? Annyeong haseyo. Lee hae ra imnida. E-em, benar ini tempat tinggal Cho Kyuhyun?” Kau membungkukkan badan sedikit, berusaha untuk tidak menendang namja di depanmu.

“Ne. Nuguya?” Namja itu bertanya lagi.

“Aku temannya Kyuhyun. Ia menyuruhku datang ke sini. Tapi sepertinya dia tidak ada, ne?” Katamu sambil memanjangkan lehermu, mencoba melihat keadaan yang ada di belakang namja ini.

“Oh. Kau yeoja ppabo yang minta diajari oleh Kyu, ne?” Tanya namja itu sarkastik.

Eh? Ppabo? Yak! Kau bukan ppabo! Hanya sedikit tidak pintar!

“Ya! Apa kau bilang? Ppabo?!” Serumu sambil menunjuk- nunjuk wajahnya.

Namja di depanmu mendengus lalu melengos masuk ke dalam apartemen. Eh? Kau melongo dengan suksesnya. Begini ya rasanya dicuekin?

“Ya! Apa yang kau lakukan di situ, ppabo?” Seru namja itu dari dalam apartemen.

Kau menoleh menatapnya dengan kening berkerut, tidak mengerti. Ia melambaikan tangannya, bermaksud menyuruhmu masuk. Kau menggeleng pelan. Tidak yakin bahwa namja di depanmu kini adalah orang baik- baik.

 

“Aish! Ppabo yeoja! Menyusahkan!” Ketusnya sambil berjalan mendekatimu, lalu menarikmu masuk ke apartmen.

Ia menutup pintu apartmen itu, bahkan menguncinya sesaat setelah kau masuk ke dalam apartemen. Tiba- tiba bulu kudukmu meremang.

“Ya! Kenapa kau tutup pintunya?” Tanyamu takut- takut.

“Dan, kenapa kau kunci, hah?!” Lanjutmu dengan suara bergetar.

Namja itu mendengus.

“Ya, yeoja ppabo! Musnahkan pikiran mesum-mu itu. Apa kau lupa, Kyuhyun menyerah mengajarimu? Dan sekarang aku yang harus mengajarimu. Apa kau lupa?” Kata namja itu bertubi.

Ia menyedekapkan tangannya di depan dada.

“Eh? Mianhae, aku lupa.” Jawabmu sambil menyentuh kepalamu, malu.

“Tsk. Benar-benar bodoh.” Katanya lagi sambil berjalan lalu duduk di sofa putih yang melintang di tengah- tengah ruangan.

Kau mendengus sebal. Apa enaknya dihina di depan muka?!

“Ya! Kenapa melamun? Cepat kemari. Buka bukumu, dan lihat aku baik- baik.” Perintah namja itu.

Lagi- lagi kau mendengus. ‘Bossy,’ pikirmu. Kau membuka tasmu dan mengeluarkan beberapa buku tebal dan menghempaskannya kasar keatas meja. Kau duduk di sampingnya dengan wajah cemberut. Ini kah yang akan menjadi guru-ku? Yang benar saja!

 

***

 

Pagi ini kau datang lebih awal dari biasanya. Keadaan sekolah lumayan sepi. Hanya ada beberapa murid yang bermain di lapangan. Kau berjalan menyusuri koridor, berjalan menuju kelasmu. Awalnya kau pikir, kau adalah murid pertama yang datang. Namun, rupanya ada sosok namja yang sudah duduk tenang di bangkunya.

“Annyeong, Kyuhyun-ah~” sapamu riang.

Kyuhyun menoleh, lalu tersenyum lembut. “Annyeong, Hae ra-ya~” Kyuhyun balas menyapa. “Jadi, bagaimana kemarin? Hyung-ku pintar, ne?” Tanyanya seraya menutup buku tebal yang sedang ia baca tadi.

Kau cemberut seketika. Tiba- tiba pikiranmu melayang ke hari kemarin. “Tragis.” Sahutmu sambil duduk di bangku sampingnya.

“Tragis? Wae?” Tanyanya dengan kening berkerut.

“Hyung-mu yang entahlah siapa namanya itu mengajariku dengan setengah hati, sepertinya.” Jawabmu dengan nada murung.

“Eh?” Kyuhyun melongo. “Kau tidak tahu siapa namanya?” Tanyanya lagi.

Kau menggeleng pelan. “Ia tidak menyebutkan namanya. Saat aku datang, ia langsung mengajariku. Dengan kasar, tentunya.”

Kyuhyun berpikir sejenak, lalu bergumam, “Jarang sekali ia berperilaku kasar. biasanya ia hanya kasar ketika ia gugup.”

“Ne? Aku tidak mendengarnya.” Katamu sambil mendekatkan telingamu ke wajahnya.

“Ani, aniya.” Kyuhyun menggeleng cepat. “Namanya Kim Jong Woon. Tapi ia biasa dipanggil Yesung.”

“Kim? Namja itu bermarga Kim?”

“Ne. Dia bukan hyung-ku, sebenarnya. Hanya teman dari kecil. Tapi ia sudah kuanggap sebagai hyung-ku.” Jelasnya tanpa jeda.

“Oh.”

 

***

 

Kau menghela napas sesaat sebelum tanganmu akan menekan bel apartemen dengan pintu nomor 432. Kau menguatkan hatimu, mencoba melatih batinmu untuk menerima kekasaran yang akan diterima beberapa menit lagi. Akhirnya, dengan setengah hati, kau menekan bel itu beberapa kali.

“Oh, sudah datang?” Gumam Yesung saat melihatmu berdiri di depan pintu sambil mempersilakanmu masuk.

Kau melenggang dengan santainya masuk ke dalam apartemen dan menghempaskan tubuhmu di sofa putih. Matamu menatap ke sekeliling.

 

“Kyuhyun mana?” Tanyamu pada Yesung.

Yesung menoleh sebentar, lalu melanjutkan kegiatannya di dapur.

“Belum pulang.” Jawabnya singkat.

Kau mencibir. Pelit sekali namja ini bersikap ramah.

“Kau tunggu di sini. Aku keluar sebentar.” Katanya sambil meraih jaket hitam yang tersampir di tepi sofa. “Coba pelajari dulu sebentar. Kalau masih tidak mengerti, baru nanti aku jelaskan.”

“Ne.” Sahutmu malas.

Yesung melirikmu sebentar, lalu meraih kenop pintu dan menghilang di baliknya. Huft. Akhirnya namja itu pergi juga. Kau menyandarkan punggungmu di sofa. Matamu meneliti setiap penjuru ruangan. Kau tidak pernah benar- benar memperhatikan apartemen ini kemarin. Yah, bagaimana bisa kau memperhatikan keadaan sekitar? Namja bernama Yesung itu tidak memperbolehkan matamu melihat sesuatu selain dirinya dan buku- buku tebal di depanya.

Eh? Tanpa sengaja matamu mendapati beberapa bingkai foto yang terpajang di atas meja kecil di samping pintu sebuah ruangan. Kamar mandi, mungkin.

“Daebak~” kau berdecak kagum akan foto- foto itu.

Sebenarnya hanya foto- foto biasa. Namun karena bidikkan yang tepat, membuat foto- foto itu terlihat mewah. Lagi, kau mendapati bingkai- bingkai foto di dekat televisi. Dan untuk kesekian kalinya, kau berdecak kagum. Kau kembali ke meja kecil tadi dan meraih satu foto yang benar- benar kau suka. Foto dengan nuansa senja dan pohon besar yang daunnya sudah mulai gugur. Jauh di depan pohon besar tersebut, ada seorang yeoja yang berdiri sambil merentangkan tangannya.

Eh? Yeoja? kau seperti mengenal orang ini. Kau mendekati wajahmu ke foto tersebut, menyipitkan matamu, berupaya bisa mengetahui siapa yeoja ini. Eh? Bukannya ini dirimu? Tapi, apa benar? Kenapa foto ini terasa sengaja di ambil karena yeoja ini? Ahh, molla.

Kau kembali meletakkan foto itu dan berjalan ke arah pintu di samping meja itu. Baru saja kau ingin meraih kenop pintu itu, sebuah seruan terdengar.

“Ya!!” Seru namja bernama Yesung yang ternyata sudah berada di belakangmu.

Kau terlonjak kaget dan langsung melepaskan tanganmu yang bertengger di kenop pintu. Kau membalikkan tubuhmu dan langsung di sambut dengan tatapan tajam Yesung.

“Ya! Apa yang kau lakukan, hah?! Berusaha jadi pencuri dengan masuk ke kamar orang sembarangan?!” Bentaknya keras.

Kau menahan napas karena di bentak begitu kasar. Kau memegangi dadamu, sakit.

“A-aku pikir ini kamar mandi,” jawabmu takut-takut.

“Cih. Kau pikir aku percaya?!” Tanya Yesung dengan nada sinis.

Kau menunduk. Kau merinding mendengar suara sinis Yesung. Kau… Tidak suka mendengarnya.

“Kenapa menunduk, hm?” Yesung meraih dagumu dan mengangkat kepalamu. Ia memaksamu untuk balas menatapnya. Kau berusaha mati- matian untuk tidak menjatuhkan air mata di depan namja ini. Kau tidak mau terlihat lemah. Tidak untuk kedua kalinya setelah satu masa lalu.

“Kau… Jangan bilang kau sudah masuk ke dalam kamar ini,”

“Kalau iya, kau mau apa?” Balasmu menantang setelah beberapa saat terdiam.

Kau sadar Yesung tengah menahan amarah saat ini. Namun kau bingung. Ada apa di balik pintu ini? Kenapa Yesung sangat takut jika kau memasukinya?

“Ya!” Yesung melangkah maju, membuatmu terhimpit antara pintu dan dirinya. Ia meninju dinding di belakangmu hingga kau yang hanya mendengarnya meringis kesakitan.

“Benar kau sudah masuk?” Tanya Yesung tajam.

Kau menunduk lagi, tidak berani membalas tatapan Yesung yang seperti menghujanimu dengan pisau- pisau tajam.

“Jawab pertanyaanku!” Perintah Yesung tegas.

Kau menghela napas sejenak. “Sudah kubilang, kalau iya kau mau apa?” Tanyamu malas.

Sebenarnya kau belum masuk ke ruangan itu. Membukanya saja belum. Namun entah kenapa kali ini kau ingin melawannya.

“Damn!” Bentaknya keras. Ia meraih tanganmu kasar dan langsung membawamu ke depan pintu.

Bam!

Pintu itu tertutup dengan sempurna tepat di depan wajahmu.

 

***

 

Kyuhyun berjalan cepat memasuki apartemenya. Sesaat di sapanya Yesung yang tengah duduk di sofa putih sambil memejamkan matanya. Sesekali matanya melirik jam dinding di dekatnya. Kenapa kau belum datang?

Setelah Kyuhyun mengambil dompetnya di dalam kamar, ia kembali berkata, “Aku pergi dulu, hyung. Mungkin akan sampai malam.”

“Kau mau kemana?” Tanya Yesung dengan kening berkerut.

“Mau kerumah Hae ra. Tadi dia tidak masuk. Katanya ia sakit.” Jawab Kyuhyun sembari berjalan ke arah pintu.

Yesung bangkit seketika. Rasa bersalah juga mulai muncul. “Aku ikut.” Katanya sambil meraih buku- buku tebal milikmu yang tertinggal kemarin.

Walau Kyuhyun bingung, namun ia tidak berkomentar. Akhirnya Yesung dan Kyuhyun berangkat bersama kerumahmu.

Ternyata tidak hanya Kyuhyun dan Yesung yang menjengukmu di rumah. Ada beberapa temanmu yang lain, termasuk Min Jung. Kau baru saja akan memejamkan matamu setelah makan siang ketika Min Jung menyeruak masuk ke kamarmu dan langsung menghambur memelukmu. Sedetik kemudian Kyuhyun dan temanmu yang lainnya masuk ke kamarmu. Lalu, Yesung. Mwo? Yesung?!

“Ya, Hae ra-ya~ kau kenapa? Kenapa bisa sakit?” Tanya Min Jung khawatir.

Kau mengalihkan tatapanmu dari Yesung yang juga tengah menatapmu, lalu tersenyum menenangkan pada Min Jung.

“Gwenchana…” Katamu pelan. “Hanya sedikit pusing.”

“Jinjja? Tapi wajahmu sangat pucat,” Ririn berjalan kearahmu dan duduk di sampingmu. Ia menyentuh dahimu. “Badanmu panas, Hae ra-ya~”

“Gwenchana. Besok aku pasti sudah masuk sekolah.” Katamu lagi.

“Jangan dipaksakan kalau kau masih sakit.” Sela Kyuhyun. Kau mengangguk kecil.

“Nih, aku bawakan buah apel. Kau suka apel, ne?” Min jung menyodorkan apel merah yang menggoda padamu.

Dengan senang hati kau menerimanya. Saat kau menerimanya, matamu tidak sengaja bertatapan dengan Yesung. Namja itu hanya berdiri di dekat pintu sambil menatapmu. Kau mendengus kecil. Bahkan ketika kau sakit seperti ini karena ulahnya, namja ini tidak bisa bersikap ramah?

“Mau kukupaskan?” Tawar Ririn dengan pisau di tangan kanannya. Kau mengangguk dan menyerahkan apel itu.

“Oh ya. Tadi eomma-mu menyuruhku memberikan susu vanila ini,” kata Kyuhyun sambil menyodorkan susu vanila padamu.
Kau tersenyum sumringah. Susu vanila! Kau sangat suka susu vanila. Dengan senang hati kau menerima sodoran Kyuhyun. Kau meneguknya cepat. Baru beberapa teguk, kau tersedak.

“Ya. Pelan-pelan, ppabo.” Suara Yesung terdengar dingin. Kau menoleh menatapnya dengan tatapan tajam.

Namun namja itu sepertinya tidak terpengaruh dengan tatapanmu.

“Kau sudah seperti babi betina yang rakus,” tambahnya lagi.

Kau mendecakkan lidah. “Kau. Untuk apa kau kesini kalau hanya ingin membuatku marah?” Tanyamu sarkastik.

Yesung diam. Semua diam. “Kau menyebalkan. Kau tidak jauh seperti bunglon masa lalu.” Katamu lambat-lambat. Tanpa sadar setitik air mata jatuh. Kau menoleh menatap Min Jung, lalu berkata, “Min jung-ah~ kalau kau masih mau berteman denganku, usir namja sialan itu. Aku muak melihatnya.”

“Ne?” Min jung mengerutkan keningnya.

“Usir namja bernama Kim Jong Woon itu. Aku muak melihatnya. Bisa- bisa aku mati menahan kesal.”

 

***

 

Bel pulang baru sedetik yang lalu berbunyi namun kelas sudah nyaris kosong. Hanya ada kau dan Min jung. Kau menyampirkan tasmu di pundak dan berjalan beriringan dengan Min jung. Baru saja selangkah kau keluar dari kelas, seseorang sudah membuatmu kembali mundur hingga beberapa langkah.

“Wae? Kenapa tampangmu seperti itu?” Tanya Yesung bingung.

Kau membuang muka. Kau menarik tangan Min jung yang tadi langkahnya ikut mundur karena memilih mengabaikan Yesung.

“Mau kabur kemana, babi betina?” Yesung menahan lenganmu dan menarikmu hingga kaitan tanganmu dengan Min jung terlepas.

“Siapa yang babi betina, hah?!” Serumu kesal. Kau menunjuk- nunjuk wajahnya, kebiasaanmu kalau sedang marah.

“Kau. Kau babi betina yang rakus,” balas Yesung tenang. “Em, Min jung-ssi. Kau bisa pulang sendiri, ne? Kau tahu kan kalau temanmu ini ada les privat bersamaku?”

“Ne~” jawab Min jung setelah mencerna perkataan Yesung yang membabi buta. “Aku pulang dulu, Hae ra-ya~ Yesung-ssi~” pamit Min jung. Yeoja itu berjalan cepat hingga hilang dari pandangan.

 

Kau menghela napas sesaat, lalu menghempaskan tangan Yesung yang masih menyentuh lenganmu dengan kasar. Kau berjalan meninggalkannya. Belum satu langkah, Yesung kembali menahanmu. Kau sudah ingin protes, namun Yesung lebih dulu menarikmu. Ia membawamu ke tempat parkir dan mendorongmu lembut hingga terduduk di jok depan mobil.

“Ya! Kau mau menculikku ya?” Tanyamu dengan tampang cemberut.

Yesung masih tetap diam, lalu menghidupkan mobilnya dan melaju di tengah kepadatan kota seoul.

“menculikmu? Bermimpilah.” Sahut Yesung. “Kau. Kenapa kau tidak lagi datang ke apartemenku?” Tanyanya dengan seluruh pikiran fokus pada jalanan di depannya.

“Apa perdulimu? Kau juga setengah hati mengajariku.” Sahutmu ketus.

“Siapa bilang? Aku sungguh- sungguh mau mengajari yeoja bodoh sepertimu.” Ujarnya sambil melirikmu sekilas.

“Aku yang bilang. Itu semua tergambar jelas dari caramu mengajariku. Kau kasar.” Kalimat terakhirmu kau ucapkan lambat- lambat. Dengan perasaan sakit, tentunya.

Yesung bungkam. Ia semakin melajukan mobilnya menuju apartemennya.

Saat kalian sudah sampai di tempat tujuan, kau masih membatu di tempat. Tidak ada niat sedikit pun untuk turun dan masuk ke dalam apartemen Yesung.

“Ya. Apa yang kau buat? Cepat turun.” Perintah Yesung.

Kau memberenggut. Namja ini! Suka sekali membentak, memerintah, dan membuat dadamu sesak. Dengan setengah hati, kau turun dari mobil dan mengekorinya masuk ke dalam apartemen.

“Ahh~” kau menghempaskan tubuhmu di sofa putih, seperti biasa ketika kau ke apartemen Yesung. Yesung menutup pintu apartemen lalu menghempaskan tubuhnya di sampingmu. Kau merinding ketika dengan sengaja Yesung mendempetkan tubuhnya denganmu.

“Kalau aku sudah tidak kasar, bagaimana?” Tanyanya tiba- tiba.

Kau mengernyit heran. “Ne?”

“Itu pertanyaan dari pernyataanmu di mobil tadi.” Sahutnya sambil memandangmu dengan mimik serius.

“Eh?” Kau salah tingkah. Kau menyentuh kepalamu. Tidak mengerti situasi ini.

“Hae ra-ya~ jawab pertanyaanku.” Perintah Yesung lembut.

Kau mengerjap seketika. Ini pertama kalinya kau mendengar suara Yesung sehalus belaian angin. Tiba- tiba ada sesuatu yang menghantam dadamu. Jantungmu kah? Kenapa rasanya gelisah?

“Kenapa tidak menjawab? Apa kau masih marah?” Tanya Yesung sedih.

Kau menggeleng setelah terdiam sesaat. “Aku tidak marah padamu. Hanya aku kesal padamu. Kau mengingatkanku pada seseorang di masa lalu.” Katamu akhirnya.

“Appa-mu?” Tanya Yesung hati- hati.

Kau membatu. “Tau dari mana kau?”

“Eomma-mu.” Jawab Yesung dengan mimik berpikir. “Kemarin aku tidak sengaja mendengar eomma-mu berbicara dengan Min jung kalau kau trauma dengan appa-mu yang berperilaku kasar dan langsung meninggalkanmu dan eomma-mu. Apakah itu benar?”

Kau menarik napas, lalu menghembuskannya perlahan. “Ne~ aku hanya takut. Untung saja eomma sudah menikah lagi dan aku mempunyai appa baru yang tidak berperilaku kasar.” Katamu dengan mata berkaca- kaca. Tiba- tiba pikiranmu melayang ke beberapa tahun lalu. Di mana appa-mu dengan sadisnya memukulimu dan eomma-mu. Memakimu dan eomma-mu tanpa memperdulikan perasaan kalian.

“Uljima~” ujar Yesung sembari menggeser duduknya semakin dekat denganmu dan langsung memelukmu hangat.

Kau tersentak. Dilema tiba- tiba melanda. Di satu sisi, kau menyukai pelukan Yesung. Namun di satu sisi yang lain, ini adalah kesalahan. Kesalahan itu adalah kau takut terperangkap dalam pelukan Yesung dan tak bisa lagi bebas. Kau takut kau menjadi ketergantungan akan kehangatan yang diberikan Yesung.

“E-em… Bisa kau lepas?” Pintamu dengan suara tercekat.

Yesung melonggarkan pelukannya untuk menatapmu. Ia tersenyum kecil. Senyum pertama yang ia tujukan padamu. “Ani. Kecuali kau berjanji tidak menangis lagi mulai sekarang.”

Kau mengangguk pelan, setelah sebelumnya kau membeku karena sihiran senyum Yesung yang menyilaukan. Yesung melepaskan pelukannya dan duduk tenang di sampingmu. Saat itu juga kau merasa kehangatan yang mulai menghilang.

Deja vu. Lagi- lagi kau merasa kehilangan. Rasanya sama seperti saat kehilangan rasa sayang dari seorang appa.

“Aku pulang dulu,” kau bangkit dari dudukmu dengan dada sesak. Sakit sekali merasakan kehilangan untuk kedua kali.

“Andwae,” Yesung menahan tanganmu dan ikut berdiri. Ia memelukmu dari belakang.

Deg. Apa itu? Bunyi jantungmu kah?

“Kau mau kabur, ne? Kau kan belum belajar, ppabo.” Katanya sambil menyeringai.

“arraseo.” Katamu sambil berusaha melepaskan pelukannya.

Lagi. Kau merasakan kehilangan. Kau sadar bahwa sekarang kau menjadi ketergantungan dengan pelukan Yesung.

Jadi, bagaimana?

 

***

 

“Ya, aku lelah. Berhenti dulu, Yesung-ah~” rengekmu untuk yang kesekian kalinya. Kau mendorong buku tebal bertuliskan KIMIA besar- besar dengan kasar. Kepalamu sudah ingin meledak.

“Baiklah,” akhirnya kata- kata itu keluar juga dari mulut Yesung.

Kau menghela napas dan menyandarkan punggungmu ke sofa. Kau menyentuh kepalamu, bermaksud untuk membetulkan ponimu yang berantakan. Namun kau tersentak ketika tanganmu sama sekali tidak menyentuh kepalamu. Yang kau rasakan hanyalah kulit halus yang berada di kepalamu. Tangan Yesung!

“Kau lelah, ne?” Tanyanya sambil tersenyum.

Kau mengerjap sesaat, lalu mengangguk. Kau memejamkan matamu, lalu membukanya lagi ketika seseorang berseru.

“Kau masih disini, Hae ra-ya?” Suara Kyuhyun terdengar di belakangmu. Kau menoleh dan mengangguk kecil.

“Kau baru pulang?” Tanyamu balik. Ia mengangguk sembari berjalan dan duduk di sampingmu.

“Kau belum pulang? Ini sudah jam 9 malam, lho.” Katanya memperingati.

Kau terlonjak kaget. Matamu melotot, lalu menoleh menatap Yesung yang dengan sengaja mengalihkan pandangan. Cih!

“Jinjja? Aigoo~ ini sudah sangat malam! Eomma pasti akan memarahiku,” katamu murung.

“Sudahlah, Hae ra-ya~ biar aku antar kau, ne?” Tawar Kyuhyun.

Kau mengangguk lemas dan membereskan buku- bukumu yang berserakan di atas meja. Setelah itu, kau menyampirkan tasmu ke pundak dan bangkit berdiri. Kyuhyun sudah jalan lebih dulu dan menunggu di depan pintu.

“Gomawo, Yesung-ah~” katamu sambil membungkuk.

“Ne, cheonma~” sahut Yesung sambil tersenyum.

Untuk pertama kalinya, kau membalas senyuman itu. Kau berbalik dan melangkah pergi. Belum dua langkah, Yesung menahanmu. Dengan cepat ia membalikkan tubuhmu dan menangkupkan kedua tangannya di wajahmu.

Cup~

Ia mencium pipimu kilat. “Jaljayo~” katanya lembut.

Dan, kau blushing!

 

***

 

“Hyung~”

“Ne?”

“Kau sengaja menahannya, kan?”

“Apakah itu sangat terlihat?”

“Ne, tentu saja. Kau menahannya sampai kepalanya hampir meledak.”

“Kkk~ tapi sepertinya ia tidak sadar.”

“Begitulah, ia memang tidak peka.”

“Kkk~ baiklah, Kyuhyun. Aku masuk ke kamar dulu, ne? Jangan tidur terlalu malam.”

“Chakkaman, hyung.”

“Wae?”

“E-em.. Ada yang ingin kuketahui. Sudah lama, sebenarnya.”

“Apa itu?”

“E-em.. Ke-kenapa aku tidak dibolehkan memasuki kamarmu?”

“Apa kau keberatan?”

“Ani, aniyo, hyung. Jangan marah, ne? Aku hanya ingin tahu.”

“Kkk~ aniyo. Untuk saat ini aku tidak marah. Sepertinya aku harus memberitahu satu hal padamu. Karena kau menjadi salah satu peran disini.”

“Maksudmu?”

“Kau membantuku untuk menjalankan drama yang kubuat. Tapi kau jadi peran pembantu. Hahah~”

“Walaupun aku tidak mengerti, tapi bolehkah aku masuk ke kamarmu? Aku hanya ingin tahu bagaimana kau bisa betah di dalam sana hingga berjam- jam.”

“Ne, baiklah. Ikut aku.”

“Wah, aku tidak percaya aku akan memasuki kamarmu, hyung.”

“Kau lebih tidak akan percaya ketika melihat ini……”

“MWO?!”

 

***

 

Pasca ciuman kilat dari Yesung, kau benar- benar malu menunjukkan diri di depannya. Sungguh. Walaupun saat ini kau sudah berdiri di depan pintu apartemen Yesung dan Kyuhyun, kau sama sekali tidak berniat untuk menekan belnya.

“Sudah datang, Ra-ya?” Seseorang menepuk pundakmu dari belakang.

“Ne, Kyuhyun-ah~” sahutmu sambil tersenyum.

“Oh, aku lupa memberitahumu. Yesung hyung sedang pergi. Ia menyuruhmu menunggu di apartemen.” katanya sambil menekan- nekan tombol di dekat kenop pintu.

 

Pintu apartemen terbuka lebar dan kalian masuk beriringan. Seperti biasa, kau langsung menghempaskan tubuhmu di sofa.

“Hae ra-ya~ kau tunggu di sini dulu, ne? Aku mau pergi beli makanan dulu. Kau mau menitip sesuatu?” Tawar Kyuhyun setelah berganti baju.

kau menggeleng pelan.

“Baiklah. Aku pergi dulu.” Pamit Kyuhyun sambil melambaikan tangannya.

Setelah Kyuhyun menutup pintu, kau menghela napas. Bingung mau ngapain. Tiba- tiba kau teringat dengan sebuah pintu di apartemen ini.

Kau mengedarkan pandangan ke sekeliling. Tidak ada siapa- siapa selain dirimu. Bagus. Rasa penasaranmu sekarang semakin memuncak.

Kau berjalan pelan kearah pintu itu. Entah kenapa jantungmu berdetak tidak normal. Kau meraih kenop pintu yang terasa dingin. Kau memutarnya perlahan dengan mata tertutup. Setelah pintu kamar itu sudah terbuka lebar, dengan gerakan perlahan, kau membuka matamu.

Deg. Jantungmu terasa copot. Matamu melebar. Mulutmu terbuka. Kau, membeku.

Apa yang kau lihat? Kau melihat ratusan foto tertempel dan tergantung rapi di penjuru kamar ini. Kakimu lemas seketika.

Sebenarnya kau tidak punya tenaga untuk melangkah maju, namun rasa ingin tahumu mengalahkannya. Kau beringsut maju. Tanganmu terulur melepaskan penjepit kertas yang menjepit sebuah foto yang tergantung melintang di tengah-tengah ruangan. Kau memperhatikan foto itu dengan seksama. Lagi- lagi foto yeoja yang diambil dari arah belakang. Hampir sama dengan foto yang waktu dulu kau temui. Namun, foto ini terasa familiar. Tidak. Bukan foto ini yang terasa familiar. Namun yeoja yang menjadi bidikkan utama dalam foto ini.

Kau kembali menjepit foto itu di tempat semula. Kini matamu menangkap satu foto yang dibingkai besar dan dipajang di dinding. Foto dari jarak dekat dan diambil dari arah samping.

Mwo?! Yeoja ini? Ini… Bukankah ini dirimu?

Ya! Benar! Ini fotomu! Dan kau menyadari bahwa ratusan foto di kamar ini adalah foto dirimu yang diambil dari jarak jauh maupun dekat.

Kakimu semakin melemas. Kau membalikkan badanmu dan berjalan keluar kamar. Sebenarnya, ini apa?

Kau kembali duduk di sofa putih hingga Kyuhyun pulang.

“Wae? Kenapa wajahmu lesu seperti itu?” Tanya Kyuhyun sambil berjalan kedapur.

“E-em, Kyuhyun-ah~ kamar itu…” Kau menunjuk pintu yang tadi kau masuki. “Itu kamar siapa?”

Kyuhyun mengikuti arah tanganmu. “Oh, itu. Itu kamar Yesung hyung.” Jawabnya. Ia tersenyum kecil. “Sepertinya kau sudah masuk kesana, ne?”

Kau mengangguk pelan. “Itu… Maksudnya apa, Kyuhyun-ah?” Tanyamu serak.

Kyuhyun mengembangkan senyumnya, lalu berjalan kearahmu. “Cobalah kau pahami.” Katanya. Lalu ia menarik tanganmu hingga berdiri. Sekali lagi, ia menarikmu dan membimbingmu untuk masuk kembali ke kamar Yesung.

“Kenapa masuk ke sini lagi?” Tanyamu bingung.

“Berpikirlah kenapa ia seperti ini. Gunakan otakmu, Hae ra-ya~ jangan sia- siakan kerja keras hyung-ku selama ini.” Tegasnya, lalu beranjak keluar kamar dan menguncimu dari luar.

Mwo?! Menguncimu dari luar?

“Ya! Kyuhyun-ssi!! Kenapa kau kunci pintunyaaa?!” Pekikmu kuat seraya menggedor-gedor pintu membabi buta.

“Aku menyuruhmu berpikir, Hae ra-ya!!” Sahut Kyuhyun.

Kau berhenti melakukan aktivitas gedor- menggedor. Akhirnya kau pasrah saja. Kau berjalan mendekati tepi ranjang tempat tidur. Matamu meneliti setiap foto di kamar ini. Kau mendecak kagum. Sangat indah dan bagus. Yesung, yang tak lain adalah fhotographer-nya pastilah sangat profesional. Ia bisa menyulap foto sederhana menjadi indah dan mewah seperti ini.

Sebentar. Sepertinya kau mulai mengerti situasi ini. Ada banyak fotomu di kamar Yesung. Adanya sikap lembut Yesung saat ini. Adanya pelukan dan ciuman hangat Yesung. Bukankah…?

Kau tersenyum miris. Hatimu berdetak tak keruan. Kau salah tingkah sesaat.

“Sudahlah. Aku takut akan seperti dulu,” gumammu. Lalu kau menyingkap selimut di tempat tidur Yesung dan terlelap di antara ratusan foto dirimu.

 

***

 

Kau menggeliat sejenak. Membuka matamu secara perlahan seperti putri tidur. Kau mengerjap, berusaha menyesuaikan lingkungan sekitar setelah beberapa lama tidur. Kamar Yesung.

Oh, semoga saja namja itu belum pulang. Kau menyingkap selimut tebal dan langsung duduk. Namun aktivitasmu tersendat ketika kau menyadari ada sebuah tangan dipinggangmu. Dengan berjuta perasaan takut, kau menoleh kekanan. Sekejap, matamu rasanya ingin menyeruak keluar dari tempatnya. Yesung. Namja itu tengah terpejam dengan tangan kanannya melingkar dipinggangmu. Secara langsung memelukmu dan kalian tidur bersama.

Lagi. Dilema menyerangmu. Di satu sisi kau menyukai pelukan Yesung. Namun di sisi lain, ini kesalahan. Kau ingin sekali melepaskan tangan Yesung di pinggangmu. Namun entah kemana energi-mu pergi.

Jadilah kau hanya meneliti wajahnya yang cukup dekat dengan wajahmu. Melihat matanya yang tertutup. Melihat hidungnya yang ingin sekali kau gigit. Pipinya yang mulus. Dan bibirnya yang pernah mencium pipi-mu.

Kau menghela napas. Kenapa ini terasa rumit?

“Belum puas melihat wajah tampanku?” Yesung membuka matanya secara perlahan dan tersenyum.

Kau tersentak. “K-kau sudah bangun? Sejak kapan?” Tanyamu gugup.

“Sejak kau bangun dan melihat wajahku seperti ingin memangsaku.” Katanya sambil menyeringai.

Kau mencibir, lalu menoyor kepalanya dan berusaha melepaskan tangannya.

“Ani. Tetap seperti ini.” Sergah Yesung. Namja itu semakin mempererat rangkulannya.

Kau menghela napas. Sakit sekali rasanya. “Yesung-ssi.” Panggilmu dengan suara tercekat. “Tolong lepaskan,”

“Ani.” Jawabnya.

“Kau kenapa jahat sekali?” Katamu sambil menunduk. kenangan takut masa lalu kembali berputar.

Yesung spontan melepaskan pelukannya dan meletakkan tangannya di wajahmu. Ingin melihat matamu, takut- takut akan menangis. “Aku tidak jahat.” Katanya pelan.

“Kau jahat, Yesung-ssi. Kau membuatku merasakan kenangan masa lalu lagi.” Jelasmu dengan mata berkaca- kaca.

“Uljima, ppabo.” Pintanya sambil menghapus air matamu yang mulai turun.

“Kau.. Kau membuatku ketergantungan dengan pelukanmu. Kau membuatku kehilangan ketika kau melepaskan pelukanmu. Kau membuatku bingung ketika masuk ke kamar ini. Kau membuatku terperangkap dalam dilema. Dan kau…”

“Sudahlah,” katanya menyelamu. Ia bangkit duduk dan menarik tanganmu agar ikut duduk dengannya. Belum sempat kau duduk dengan seimbang, Yesung sudah menarikmu ke dalam pelukannya. “Aku memang akan sering memutar masa lalumu saat bersamaku. Anggap saja ini adalah sebuah drama. Namun drama di masa lalu-mu, orang yang membuatmu ketergantungan akan meninggalkanmu. Tapi, peganglah omongan-ku. Drama-mu saat ini, orang yang membuatmu ketergantungan tidak akan pernah pergi.”

“Maksudmu?” Tanyamu tidak mengerti.

Yesung melonggarkan pelukannya, lalu menangkup kepalamu dengan kedua tangannya.

Cup~

Ia mencium pipimu kilat. Blushing! Kau mengerjap dan membeku di tempat. Kedua kalinya Yesung menciummu.

“Aku beri waktu dua hari untuk kau berpikir. Hanya 1 kata. Dan itu berlaku untukmu dan untukku.” Katanya sambil tersenyum.

“Ne?”

“Berpikirlah. Lihat kamar ini dengan seksama, babi betina.”

***

Dua hari sudah berlalu. Yesung berjanji akan menjemputmu hari ini. Entah kenapa jantungmu berdegup kencang. Ya. Kau sudah mengerti.

“Ya~ kenapa melamun?” Sebuah tangan melingkar di pinggangmu dari belakang. Kau terlonjak kaget dan langsung memutar tubuhmu menghadap pemilik tangan itu. Yesung!

“Kenapa melamun? Memikirkanku?” Tanyanya dengan seringai lebar.

Kau mencibir, lalu mendorong tubuhnya kuat. “Kau mau ajak aku kemana?” Tanyamu dengan tangan bersedekap.

Yesung tersenyum kecil. “Sudah tahu belum satu kata itu? Kalau sudah, baru aku ajak kau pergi.” Katanya.

Kau menunduk, gugup. Kau sudah tahu sebenarnya kata itu, namun kau masih tidak yakin. Kau takut ini hanya sebuah permainan dan kau akan kembali merasakan sakit.

“Hae ra-ya?” Panggil Yesung.

Kau mengangkat wajahmu dan balas menatapnya. “Ne?”

“Kau sudah tahu belum?” Tanyanya lagi.

Kau mengangguk kecil setelah terdiam sejenak.

Yesung tersenyum lebar. Ia menangkupkan kedua tangannya di wajahmu, lalu berkata lembut, “coba katakan,”

“Ani,” katamu cepat. Yesung mengernyitkan dahi. “Aku takut.”

“Takut kenapa, Hae ra-ya?” Tanyanya sedih.

“Aku takut kau akan seperti orang masa lalu. Aku takut kau akan meninggalkanku seperti orang itu.” Jelasmu jujur.

Yesung tersenyum lembut lalu mencium pipimu sesaat. Blushing!

“Hae ra-ya~ dengar aku.” Katanya sambil menatapmu tepat di manik mata. “Aku bukan appa-mu yang akan meninggalkanmu. Aku Yesung. Dan aku pastikan aku tidak akan meninggalkanmu.”

“Walau aku sudah menjadi yang lainnya?” Tanyamu ragu.

“Maksudmu?”

“Jika di masa depan aku tidak seperti ini lagi, apa kau akan tetap bersamaku? Aku takut tidak bisa menjadi yang terbaik untukmu.”

“Ne. Aku pasti tetap bersamamu dan tidak akan meninggalkanmu.”

 

***

 

“Diving?!” Serumu kaget.

“Ne. Memang salah?” Tanya Yesung sarkastik. Ia menarik tanganmu untuk mengikutinya.

“Andwae!” Tolakmu keras. Namun Yesung tetap menarikmu ke arena diving. Ia membawamu ke posko peminjaman alat diving.

“Cepat pakai.” Perintahnya sambil menyodorkan pakaian hitam super ketat.

“Andwae!” Tolakmu lagi. Kau cemberut.

Yesung mendekat ke arahmu lalu berbisik, “cepat pakai, atau aku yang memakaikannya?”

Kau merinding mendengarnya. Kau menatapnya tajam dan meraih pakaian itu kasar. “Nappeun!”

Yesung terkikik mendengarnya dan kau masuk ke dalam bilik tempat ganti baju. Setelah beberapa saat kesusahan menggunakan pakaian itu, kau keluar dengan wajah memerah. Kau melihat Yesung sudah duduk manis di sebuah bangku panjang.

“Wow. Kau sexy, Hae ra-ya~” katanya kagum. Wajahmu memerah seketika.

Memang, baju diving yang kau gunakan sekarang super duper ketat. Alhasil membuat kau malu setengah mati.

“Nappeun namja!” Sergahmu garang. Kau berbalik, bermaksud kembali kebilik tadi.

“Mau kemana, hm? Kabur? Enakk saja!” Yesung menahanmu dan menarikmu ke tengah ruangan.

Dengan tampang cemberut dan tangan bersilang di depan dada, kau mendengarkan instruksi untuk melakukan diving. Hampir satu jam mempelajari mengenai diving, akhirnya saat untuk terjun langsung datang.

“Yesung-ah~” panggilmu. Ia menoleh. “Aku Takut. Tidak usah, ya?” Pintamu dengan tampang memelas.

“Kecuali kau mengucapkan satu kata itu,” Yesung memberi syarat. Mungkin namja itu dongkol karena sampai saat ini kau tidak mau mengucapkan 1 kata itu.

Kau menghela napas. “Arraseo!” Kau menarik napas, lalu, “saranghae, yesung-ah~”

Yesung tersenyum lebar ketika kata itu terucap dari bibirmu. Sedetik kemudian ia sudah memelukmu hangat. “Nado saranghae, Hae ra-ya~”

“Jadi, aku tidak perlu diving, kan?” Tanyamu dengan senyum mengembang.

Yesung menunjukkan evil smilenya. “Kau tetap harus diving. Kajja!”

 

***

 

Terumbu karang yang masih baru ditanam tersusun rapi di dasar laut. Tersusun rapi hingga membentuk tulisan ‘saranghae hae ra’. Lalu, ikan- ikan berwarna- warni melintas di sekitarnya. Dengan alat diving yang melilit di tubuhmu, kau menyentuh dadamu. Kau menoleh ke kanan, dan melihat mata Yesung sedikit tertutup. Namja itu pasti sedang tersenyum.

Tiba- tiba Yesung mengeluarkan sebuah kain panjang dan membukanya. Matamu melebar. Kau tersanjung.

Kain panjang itu bertuliskan ‘would you marry me?’. Kau berenang ke arah Yesung dan langsung memeluknya. Yesung juga balas memelukmu dan kalian menghabiskan sisa waktu diving dengan berenang-renang kesana- kemari dengan hati berbunga- bunga.

 

***

 

Kalian berjalan beriringan di tepi pantai dengan tangan saling terkait. Tanganmu yang satunya menggenggam es krim, dan sesekali menjilatnya. Tiba- tiba es krim-mu terjatuh dan mengotori long dress-mu.

“Pasti ada yang memperhatikanku,” gumammu sambil membersihkan long dress-mu.

“Aku tahu, kok.” Sahut Yesung dengan senyumnya. Kau mengernyitkan dahimu. “Setiap barang yang kau pegang terjatuh, pasti ada orang yang sedang memandangimu, kan?”

Kau mengangguk ragu. “Kau tahu dari mana?”

Yesung terkekeh. “Karena aku yang selalu memperhatikanmu, ppabo.”

“Maksudmu?”

“Begini. Sebenarnya, aku sudah menyukaimu sejak kau sering datang ketaman di dekat k

Kyunghee University bersama Min jung. Saat itu kita belum saling mengenal. Diam- diam aku suka memotretmu,” Yesung menarik napas. “Lihatlah beratus-ratus foto di kamarmu. Itu semua kuambil saat aku memperhatikanmu. Dan aku masih mengingat perkataanmu pada Min jung bahwa ketika benda yang kau pegang terjatuh, di saat itulah seseorang memperhatikanmu.” Lanjutnya.

Kau menyeringai, lalu berkata, “Kau stalker-ku ya?”

Yesung mengangguk pasti. “Begitulah. Aku sangat bersyukur ketika orang yang dibawa k

Kyuhyun saat itu adalah kau. Yeoja yang aku cintai,”

kau menunduk. Kau tersipu malu. Yesung menyentuh dagumu, membuatmu kembali mendongak.

“Kau tahu. Ini adalah drama kita. Aku dan kau adalah peran utama. Dan Kyuhyun adalah peran pembantu yang mempermudah kita untuk menjalin cinta.” Kau mendengar dengan teliti. “Saranghae.. Saranghae, nae yeoja ppabo.”

Kau tersenyum manis. “Nado saranghae, Yesung-ah~ ne, aku mau menikah denganmu. itu jawabanku atas pertanyaanmu saat diving tadi.” Lalu kau tersadar. “Ya! Apa kau bilang? Yeoja ppabo?! Aish!! Nappeun!” Ketusmu dengan wajah cemberut.

Yesung tertawa. Ia mencium pipimu sekilas. “Lalu kau mau aku panggil apa? Babi betina?” Tanyanya dengan alis terangkat.

“Aish!! Nappeun namja!” Serumu lalu berbalik dan meninggalkan Yesung.

“Eh? Jangan marah.” Yesung menahan tanganmu. “Baiklah, mulai sekarang aku akan memanggilmu chagi~”

“Yak!! Menjijikkan!!”

 

THE END

 

***

 

selesai juga nih ff -_- makasih banget yang udah mau mampir kesini, trus mau baca ff saya😀 makasih banget😀

don’t be silent reader, ya^^ tinggalin kritikan, saran, juga pujian (kalo ada)😀 kkk~

 

cr: Http://virgaazzaniaashari.wordpress.com

 

About superjuniorAREA

WE ARE INTERNATIONAL FANBASE DEDICATED TO SUPER JUNIOR ^^ UPDATE THE LATEST NEWS FROM OUR SUPERMAN ~~ SUPPORT US HERE ~~

Posted on November 22, 2012, in FanFiction, Siwon and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: