FanFiction – Goodbye, Love…


Judul              : Goodbye, Love…
Author            : min Sooyeon ( @firdaa_ningrum )
Type               : One Shoot
Genre             : Sad Romance, No Yadong!
Tokoh             : Kim Jongwoon ( Yesung ), Moon Young Ji ( Young Ji ), Park Yeon Hwa ( Yeon Hwa )

Annyeonghaseyo chingudeul! Ini adalah salah satu Fan Fiction yang murni dari kerja keras otak sendiri. No Bashing, No Copas ya! Eh, satu lagi. Don’t be silent reader ya! Komentar kalian benar-benar kutunggu untuk bahan evaluasi di Fan Fiction selanjutnya. Mianhae kalo ceritanya jelek. Kamsa^^

Kutatap langit kota Seoul yang mulai menghitam. Diujung barat sudah tak tampak semburat cahaya keemasan lagi. Lampu-lampu kota mulai menyala satu persatu. Semua orang mulai kembali kedalam rumah dan menyalakan penghangat ruangan, duduk bersama orang yang mereka cintai sambil tertawa bersama. Daun kecoklatan mulai berguguran satu persatu. Hawa dingin menusuk tulang pun sudah terasa sejak kemarin. Sama sepertimu. Yang kian hari kian menusuk hatiku. Tapi kenapa aku begitu bodoh? Mau-maunya aku melihatmu bermesraan dengan perempuan lain. Kadang aku bertanya, apakah aku tak pantas bersamamu?, apakah ia lebih baik dariku?. Namun aku tahu, hanya dirinya lah yang akan menjadi penghuni tetap hatimu. Dalam diam, kuhirup dalam-dalam udara dingin kota Seoul yang mulai temaram oleh selimut malam.

[ Flash Back ]

15 tahun yang lalu

Aku berjongkok di bak pasir sekolah sendirian, karena eomma masih di kantor untuk menyelesaikan urusannya. Aku tahu ini sudah jam 4 sore dan sekolah sudah kosong. Tapi mau bagaimana lagi? Anak usia 9 tahun pasti akan diwanti-wanti oleh orang tua mereka agar tidak pergi sendirian dan tetap ditempat sampai orang tuanya datang menjemput. Begitu juga denganku. Eomma menetapkan hal tersebut pada diriku. Appa sudah lama meninggal karena kecelakaan kereta, oleh karena itu aku belum pernah merasakan naik kereta hingga sekarang. Mungkin karena eomma takut kehilangan orang yang ia sayang untuk kedua kalinya hanya karena gerbong besi berjalan diatas rel.

“Kenapa belum pulang?”tanya seorang namja seumuranku yang ikut berjongkok disampingku.

“Belum dijemput. Eomma masih di kantor”ucapku datar sambil mengais-ais pasir menggunakan ranting panjang yang kudapat dibawah ayunan.

“Mau kutemani sampai kau dijemput?”tanya namja itu sambil menatapku. Aku hanya membisu dan mengangguk kecil.

Kini namja itu sudah berada disampingku, ikut mengais-ais pasir menggunakan ranting kecil dan menggambar beberapa karakter anime yang pernah muncul di TV. Namanya Kim Jongwoon. Biasa dipanggil Yesung. Ya, dia memang namja yang seumuran denganku.  Bahkan ia satu sekolah denganku. Matanya sipit, kulitnya putih susu, dan rambutnya agak berantakan. Tapi aku tetap menyukai penampilan namja itu, karena secara keseluruhan ia memancarkan aura kehangatan yang belum pernah kurasakan pada orang lain, selain appa dan eomma tentunya.

“Dah Young Ji! Besok main lagi ya!”ucapnya sambil melambaikan tangan ketika mobil eomma sudah berhenti didepan gerbang sekolah. Aku membalasnya dengan sebuah lambaian tangan dan senyuman manis kepadanya.

 9 tahun yang lalu

“Ya, Yesung-ah! Aku tak berani naik kereta. Nanti eommaku marah jika ia tahu aku naik kereta!”seruku sambil berusaha melepaskan genggaman kuat tangan Yesung dari pergelangan tanganku. Namun namja itu tetap menggeretku masuk ke sebuah peron untuk menunggu kereta yang akan kami tumpangi.

“Waeyo? Bukankah kau bilang belum pernah naik kereta? Naik kereta benar-benar menyenangkan! Cobalah sekali, setidaknya sebelum kau mati”ucapnya sambil mengacak-acak rambutku. Aku hanya diam dan menuruti ucapan namja itu.

Kereta melaju perlahan menuju sebuah tujuan dimana perkebunan stroberi dan sebuah taman bermain kecil berada disana. Karena guru-guru ada rapat untuk festival olahraga, semua siswa dipulangkan 5 jam lebih cepat dari jadwal biasanya. Entah ada apa dengan sahabatku ini, tiba-tiba dia memaksaku untuk ikut dengannya kesuatu tempat. Kukira ia akan ke Lotte World menggunakan bis. Ternyata pikiranku salah. Ia mengajakku ke suatu tempat didekat gunung untuk memetik stroberi. Menyenangkan memang, tapi kenapa harus menggunakan kereta?

“Ayolah, buka matamu Young Ji-ya! Pemandangan diluar sana benar-benar mengagumkan!”ucap Yesung sambil berusaha membuka tanganku. Aku tetap menggeleng kuat sambil terus mempertahankan tutupan mataku.

Chu~

Kurasakan ada sesuatu yang mendarat tepat di pipiku. Pelan-pelan, kubuka mataku dan kudapati wajah Yesung yang berjarak sekian senti dari pipiku. “Yesung-ah?”ucapku perlahan ketika mendapati namja itu masih melongo menatapku.

“Ne?”jawabnya sambil tersenyum manis. Darahku serasa mengalir 3 kali lebih cepat dari biasanya. Semoga asmaku tidak kambuh disaat menyenangkan seperti ini.

“Kau mencium.. pipiku?”tanyaku masih dengan wajah polos. Ia mengangguk pelan seraya mengelus rambutku.

Aku langsung mati kutu dan tak bisa apa-apa. Dadaku terasa sesak dan susah untuk bernafas. Kucari-cari oksigen botolan kecil yang ada didalam tas sekolahku. Kuhirup oksigen itu sebisa mungkin sampai dadaku terasa longgar.

“Young Ji-ya? Gwaenchana?”tanya Yesung sambil menatapku yang masih menghirup oksigen. Secepat mungkin kututupi botol oksigen itu dari Yesung. Ia tak boleh tahu mengenai asma akut yang kuidap.

“Ne, gwaenchana”ucapku sambil tersenyum berusaha membuatnya percaya. Sampai kapan sandiwara ini akan kulakukan dihadapan orang yang kusukai?

7 tahun yang lalu

Aku sedang duduk diatas sofa biru mudaku, sambil mendengarkan musik dari iPod biru milikku dan membaca sebuah novel yang baru kubeli tadi siang sendirian. Yah mau bagaimana lagi? Yeon Hae yang tadinya berjanji menemaniku pergi ke toko buku malah kabur entah kemana. Ditengah lamunanku, tiba-tiba iPhone biru mudaku bernyanyi riang pertanda ada telpon masuk. Yeon Hae. Hangul itu tertulis jelas dilayar telpon genggamku.

“Yeoboseo, Young Ji-ya”ucapnya dengan nada riang.

“Ne, gwaenchana Yeon Hae-ya?”tanyaku penasaran

“Coba tebak apa yang terjadi padaku hari ini!”serunya bersemangat. “Dibelikan ponsel baru?”tanyaku berusaha menebak pertanyaannya.

“Ah, ani! Aniyeyo! Aku baru saja punya seorang namja chingu idamanku loh”pamernya padaku.

“Ne? Aigo! Dengan siapa? Pokoknya besok ajak aku ke kedai kopi baru didekat sekolah sebagai hadiahnya!”ucapku tanpa ragu.

“Haha, ne. Sekalian kukenalkan dengan namja chinguku ya! Dia adalah… anak teater”ucap Yeon Hae mulai dengan nada tersipu-sipu.

“Anak teater? Ayolah, cepat beri tahu aku namanya”seruku merajuk pada Yeon Hae.

“Haha, dia adalah… Kim Jongwoon. Itu loh namja tampan yang menyanyi saat pertunjukan teater beberapa bulan yang lalu. Ah, betapa bahagianya aku punya namja chingu yang memiliki suara bagus. Jadi aku punya music player berjalan, kkk~”ucapnya sambil tertawa-tawa riang diseberang sana.

Jantungku seolah berhenti berdetak. Seluruh tubuhku gemetaran dengan hebat. Keringat dingin bercucuran makin deras. Tenggorokanku benar-benar tercekat. Aku tak tahu harus menanggapinya dengan apa. Bahagia kah? Iri kah? Sedih kah? Aku harus bagaimana? Disatu sisi aku bahagia karena sahabatku juga bahagia. Disatu sisi aku merasa dibom dari dalam karena orang yang kusukai sudah memiliki yeoja chingu.

“Oh, algesseumnida. Aku tidur dulu ya. Eommaku sudah berkedip ganas diambang pintu”ucapku berbohong untuk menutupi suaraku yang mulai serak.

“Ne? Kau tidur cepat sekali! Baiklah, dah Young Ji”

PETT

Sambungan telpon sudah terputus. Kutatap layar iPhone-ku yang menampilkan selca-ku dengan Yesung. Sebelum ia menjadi pacar Yeon Hae tentunya. Hatiku benar-benar hancur. Kumatikan iPhone-ku, mana kala Yesung akan menghubungiku seperti biasanya. Aku tak sanggup mendengar hal itu dari bibirnya secara langsung. Kubenamkan wajahku diatas perut boneka beruangku, sambil menangis meratapi nasibku yang kian miris.

3 jam yang lalu

“Gwaenchana, Young Ji-ya?”tanya Yesung membuyarkan lamunanku.

“Oh, oh. Gwaenchana. Ada apa memangnya?”tanyaku gelagapan.

Yeon Hae menyipitkan matanya kearahku, “Kau ini. Dari tadi pelayan itu menanyakan kau mau pesan apa taunya malah bengong”omelnya padaku.

“Oh, mianhae. Aku sedang tidak berkonsentrasi. Aku pesan 1 cup latte dan 1 ice cream waffle. Pakai toping blueberry ya”ucapku pada pelayan yang berdiri di sampingku.

Kami bertiga sedang berada di sebuah kafe baru yang baru hari ini buka. Mouse Rabbit namanya. Unik ya? Desainnya pun juga menarik mata. Membuatku ingin berlama-lama disini. Tapi pemandangan dua orang yang asyik bermesraan dihadapanku ini benar-benar membuatku ingin langsung ditelan dunia. Bagaimana tidak? Dadaku tetap terasa ngilu jika melihat mereka bersama. Hingga detik ini, aku tetap belum bisa mengikhlaskan Yesung pada Yeon Hae. Entah apa yang membuat perasaanku tetap konstan pada namja itu.

“Chagi, habis ini kita kemana?”tanya Yeon Hae bergelayut manja pada Yesung. Nyess… hatiku sudah teriris 1/5 nya.

“Terserah padamu, chagi. Aku ikut saja”balas Yesung sambil memotong pancake pesanannya. Nyess… untuk kedua kalinya hatiku teriris 2/5 nya.

“Ah, suapi aku dulu chagiya. Aku juga mau”ucap Yeon Hae dengan manja. Nyess… lagi-lagi hatiku sudah teriris 3/5 nya.

Hap, dengan mesra Yesung menyuapkan potongan pancake itu kedalam mulut Yeon Hae. Nyess.. hatiku mulai teriris menjadi 4/5 nya.

“Suapi aku juga dong, chagiya! Kau tidak adil!”protes Yesung pada Yeon Hae yang masih mengunyah pancake-nya.

Oke cukup! Luka di hatiku benar-benar bertambah banyak! Aku harus cepat-cepat pergi dari sini sebelum air mataku benar-benar terjatuh dari pelupuk mataku. “Ah, mianhae. Aku harus pergi. Aku sudah punya janji dengan seseorang”ucapku berbohong pada Yesung dan Yeon Hae.

“Ne? Kau jarang sekali punya janji dengan seseorang”ucap Yesung yang hampir membuatku mati kutu.

“Yang ini beda, ppabo! Ini serius!”ucapku sambil menunjuk-nunjuk jam tanganku.

“Ne, ne. Algesseumnida. Bye Young Ji. Hati-hati dijalan!”seru Yesung sambil melambaikan tangan mungilnya kearahku. Akhirnya, aku bisa kabur dari kedua orang itu. Sekarang, tinggal bagaimana caranya agar aku tidak menangis ditempat umum. Aku harus menuju ketempat persembunyianku yang ada disana, tempat yang akan sepi di hawa se-ekstrim ini.

[ Flash Back End ]

Hawa di Seoul kian dingin. Jalanan mulai sepi karena hanya orang bodoh yang mau berdiri didekat sungai Han saat penghujung musim gugur. Bagaimana caranya aku melupakan Yesung? Kenapa hal itu begitu susah kulakukan? Pertanyaan itu terus menerus melintas dikepalaku sejak kelas 2 SMA. Tepatnya saat Yesung dan Yeon Hae resmi menjadi sepasang kekasih.

Tiba-tiba, dadaku terasa sesak. Kucari-cari botol oksigen kecilku didalam tas selempangku. Nihil. Tak ada benda itu didalam sana. Kucari-cari oksigen itu diantara kantong-kantong mantel saljuku. Tidak ada. “Bagaimana ini? Dadaku sudah semakin sesak. Aku tak kuat lagi”ucapku pada diriku sendiri. Jalanan sudah sepi, tak ada orang yang lewat disini. Semuanya sudah berkumpul dirumah untuk menghangatkan diri masing-masing. Tiba-tiba aku merasa benar-benar ringan. Tubuhku makin lemas tak berdaya. Bayangan eomma, appa, teman-temanku, Yeon Hae, dan Yesung seolah terputar kembali didalam kepalaku seperti film. Tiba-tiba semuanya menjadi gelap dan hanya ada appa diujung sana, tersenyum sambil mengulurkan tangannya padaku.

[ Yesung Pov ]

“Arghh.” Jariku baru saja terkena pisau tumpul yang digunakan untuk memotong pancake. Ada apa ini? Tidak biasanya jariku bisa berdarah sebanyak ini ketika terkena pisau tumpul.

“Ah, chagiya. Kucarikan plester dulu ya”ucap Yeon Hwa yang sudah mengambil ancang-ancang untuk pergi mencari plester.

“Ani. Biar aku pulang saja. Mianhae acara jalan kita batal”ucapku sambil pergi meninggalkan Yeon Hwa yang belum menjawab ucapanku.

Aku berjalan terburu-buru untuk mencari keberadaan Young Ji. Entah kenapa aku begitu mengkhawatirkan gadis satu itu. Naluriku terus memaksa untuk menyusuri keramaian Seoul dimalam hari dan menuju ke taman ditepi sungai Han. Darahku serasa berhenti mengalir, denyut nadiku seolah telah habis di masanya, kakiku benar-benar tak mau digerakkan. Melihat seorang yeoja berambut hitam lurus yang kini terkapar di atas jembatan benar-benar membuat perasaanku tak karuan. Apalagi secara fisik yeoja itu terlihat tidak asing lagi.

“Young Ji-ya. Ini aku, Yesung. Bangunlah dan buka matamu sekarang”ucapku sambil menaruh kepala gadis itu dipangkuanku.

Tubuhnya begitu dingin, seolah ia mulai membeku disuhu se-ekstrim saat ini. Namun gadis itu tetap tak merespon apapun. Bibirnya yang pucat hanya terus membisu. Dengan hati-hati, kucari denyut nadinya. Nihil. Aku tak menemukan hal satu itu pada tangan kiri gadis ini. Dengan bercucuran air mata, kupeluk tubuhnya yang lemas nan dingin itu. Kuambil telpon genggam yang ada didalam mantel saljuku, berniat untuk mengabari eomma Young Ji tentang hal ini. Namun kuurungkan niatku dan kembali mencium dahi Young Ji untuk terakhir kalinya, sebelum dia benar-benar jauh dariku.

***

Satu persatu orang mulai berdatangan. Mengenakan pakaian serba hitam, dan bercucuran air mata. Satu demi satu mulai masuk dan mendoakan Young Ji yang terletak didalam peti. Aku sendiri hanya duduk diatas tangga, dimana Young Ji dan aku biasa menghabiskan waktu disini. Tertawa bersama, berbagi headset untuk berdua, bahkan menonton TV flat 40 inch yang ada di ruang keluarga. Tapi itu dulu, sebelum aku berubah, sebelum ada jarak diantara aku dan Young Ji.

“Yesung-ah, ada titipan untukmu”ucap eomma Young Ji yang baru turun dari kamar milik putri semata wayangnya itu.

“Oh, kamsahamnida ahjumeonni”ucapku sambil menerima buku berselimut sampul biru itu dari tangan eomma Young Ji.

Di halaman pertamanya tertulis dengan rapi “Moon Young Ji’s Diary”  Untuk apa eomma Young Ji memberiku diary? Bukankah diary itu sebuah privasi? Pelan tapi pasti, kubaca tanggal demi tanggal yang sudah diguratkan oleh Young Ji menggunakan pena. 9 tahun terakhir, isinya penuh dengan namaku. Namun, ada beberapa kutipan diary-nya yang benar-benar membuatku menangis.

Seoul, 15 Juli 1993

Hari ini aku bertemu dengan seorang namja baik hati. Dia mau menemaniku sampai eomma datang menjemputku! Dia serasa seperti appa. Appa, aku rindu kau. Tapi pantulan dirimu sudah ada didepanku sekarang! kkk~  Namanya Kim Jongwoon. Biasanya dia dipanggil Yesung. Matanya sipit, orangnya agak aneh tapi lucu, kalau rambutnya tertiup angin langsung berantakan XD  Dia juga mau menjadi temanku saat disekolah. Aku tidak harus bermain dengan anak-anak perempuan yang selalu mencibir statusku sebagai anak yang tak punya ayah lagi :’)

Seoul, 20 Agustus 2000

Hari ini aku bisa merasakan naik kereta! Yay! Ternyata naik kereta itu tidak seseram yang dikatakan eomma! Ditambah lagi tadi Yesung mencium pipiku secara mendadak. Omonaa… aku benar-benar meleleh *Q*   Pokoknya aku mau naik kereta lagi! Asalkan dengan Yesung, aku tak akan takut lagi, kkk~ ^^  Satu lagi! Asal eomma tahu aku pergi dengan Yesung, pasti ia dengan senang hati membolehkanku pergi kemana-mana lebih lama lagi.  Secara tidak langsung eomma mengizinkanku jika namja chinguku adalah Yesung, asyikkk ^o^        Kim Jongwoon-ssi, neomu saranghaeyo :*

Seoul, 25 Desember 2003

Hem… hari ini aku habis menangis lagi! Kenapa aku masih belum bisa mengikhaskan Yesung pada Yeon Hwa. Padahal dia juga baik kok. Tapi kenapa aku masih merasa bergetar ketika berada didekat Yesung? Bangunlah Moon Young Ji! Dia milik sahabatmu sekarang! Jangan ganggu mereka, ya! Berusahalah untuk move on! Hwaiting!^^

Kututup buku biru tebal itu dengan lesu sambil berdiri didepan peti Young Ji. Aku tak bisa menahan air mataku lagi ketika mengetahui Young Ji telah tiada. Bahkan aku juga baru tahu jika dia memiliki asma akut. Dan parahnya lagi, aku juga baru mengetahui perasaan terpendam dari orang yang selama ini dekat denganku. Namja macam apa aku ini? Betapa tidak pekanya aku pada Young Ji selama 15 tahun! umpatku pada diriku sendiri. Young Ji ditemukan terkapar dan tidak bernyawa lagi diatas jembatan sungai Han. Di pipinya, ada sebulir air mata yang membeku yang aku tahu air mata itu merupakan air mata kesedihan yang mendalam.

“Hei, Young Ji-ya. Aku ada didepanmu sekarang”ucapku pada sebuah peti yang didalamnya terdapat tubuh Young Ji yang sudah didandani dengan cantik.

“Aku sudah membaca buku diary-mu”

“Mianhae aku baru tahu semua tentangmu”ucapku pada Young Ji yang aku tahu ia tak mungkin menjawabku.

“Selamat jalan, Young Ji. Tunggu aku disana ya.” Kukecup peti itu untuk terakhir kalinya. Rasa hancur makin membuncah didadaku. Andai semuanya tidak terlambat. Mungkin aku sudah menjadi namja chingumu saat ini, ucapku dalam hati.

~ END ~

contact: @YesungAREA_

About superjuniorAREA

WE ARE INTERNATIONAL FANBASE DEDICATED TO SUPER JUNIOR ^^ UPDATE THE LATEST NEWS FROM OUR SUPERMAN ~~ SUPPORT US HERE ~~

Posted on December 24, 2012, in FanFiction and tagged . Bookmark the permalink. 1 Comment.

  1. Sediiiiihhh :’)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: