FanFiction – Kiss The Rain


Judul              : Kiss The Rain
Author            : min Sooyeon ( @firdaa_ningrum )
Type               : Part 1
Genre             : Sad Romance, No Yadong!
PG                  : (13+)
Tokoh             : Kim Ryeowook ( Ryeowook ), Jung So Hee ( Sohee ), Jung Soo Hee ( Soohee )

Annyeonghaseyo chingudeul! Ini adalah salah satu Fan Fiction yang murni dari kerja keras otak sendiri. No Bashing, No Copas ya! Eh, satu lagi. Don’t be silent reader ya! Komentar kalian benar-benar kutunggu untuk bahan evaluasi di Fan Fiction selanjutnya. Mianhae kalo ceritanya jelek. Kamsa^^

Part 1

[ Author Pov ]

Dua gadis itu berjalan dengan langkah tidak santai menuruni tangga. Mereka nyaris saja bertabrakan dari arah yang berbeda. Yang satunya menatap dengan senyuman, yang satu lagi menatap dengan bengis. “Chagiya, ayo cepat kita berangkat”teriak eomma mereka dari bawah. Gadis yang menatap bengis tadi langsung turun terlebih dahulu ketimbang yang satunya lagi.

“Soohee, kenapa masih disitu? Ayo turun”ajak perempuan usia 40-an yang tak lain adalah eommanya.

Soohee yang akan mengambil kotak bekal yang ada disebelah kanan langsung dirampas oleh gadis tadi lebih dahulu. Namun Soohee tetap diam dan mengalah pada nunna-nya. “Ne eomma”ucap gadis yang bernama Soohee itu dengan kalem.

“Ini bekalmu. Kita tidak sempat sarapan pagi ini. Setelah olahraga bekal ini harus dimakan, ara?”

“Arasseo eomma”jawab Soohee lagi-lagi dengan nada yang kalem.

Soohee segera menuju depan gerbang rumahnya untuk memasuki mobil. Baru saja ia mau membuka pintu mobilnya, seorang gadis yang tadi ada ditangga menatapnya dengan tatapan kecut sambil berkata “Duduk dibelakang! Aku mau disini!”seru gadis itu dengan pandangan yang terus memicing kearah Soohee.

“Ne, arasseo eonni”ucap Soohee sambil duduk dikursi belakang. Ia terus menunduk dan bernyanyi dengan nada kecil.

“Diam kau! Suaramu menyakiti telingaku!”bentak gadis yang bernama Sohee itu. Soohee menuruti apa perintah kakaknya dan terus menerus menunduk.

Jung Sohee dan Jung Soohee memanglah saudara kembar. Kedua orang tuanya baru saja menikah lagi bulan lalu. Sejak masih berusia 1 tahun, mereka sudah terpisah akibat perceraian yang sempat terjadi beberapa tahun silam. Sohee bersama eommanya dan Soohee bersama appanya. Setelah 14 tahun terpisah, mereka dipertemukan lagi dengan 2 sifat berbeda. Sohee yang apapun kemauannya harus dituruti sedangkan Soohee lebih suka mengalah dengan nunna-nya itu. Sejak mereka berkumpul lagi, Sohee dan Soohee jadi satu sekolah. Banyak yang sering tertipu saat melihat wajah mereka berdua, namun saat memperhatikan sifatnya mereka berbeda 180o. Saat sampai disekolah pun Sohee tidak mau jika Soohee berjalan disampingnya.

“Annyeong Soohee-ah! Bantu aku mengerjakan tugas Matematika sebentar ya”ucap seorang gadis yang dikuncir kuda sambil tersenyum manis pada Soohee.

“Nado annyeong Min Jung-ah. Ne, boleh kulihat soalnya yang mana?”tanya Soohee sambil menghentikan langkahnya kedekat Min Jung.

Sohee yang menyadari bahwa kembarannya berhenti mendadak dibelakang langsung berteriak, “Soohee! Kemari dan cepat bawa tas prakaryaku itu!.” Soohee langsung mengangguk dan menuruti kata-kata nunna-nya itu. Min Jung menatap Soohee dengan tatapan prihatin, namun Soohee hanya membalas dengan sebuah senyuman manis lalu pergi mengekor Sohee lagi.

[ Soohee Pov ]

Aku duduk ditepi lapangan sambil memegang kedua lututku. Lari marathon cukup membuatku lelah dan mulai merasa lapar hari ini. Kotak bekal sudah kupegang dari tadi, hanya saja hatiku mengisyaratkan agar aku tidak memakan bekal itu dulu. Aku dan nunna-ku, Sohee memang sengaja tidak dibuat satu kelas. Karena kami berdua benar-benar mirip. Namun banyak yang bilang jika aku dan Sohee eonni mudah dibedakan, katanya nunna-ku itu lebih banyak bicara ketimbang aku. Apa iya?

“Soohee-ah! Bantu dia ke ruang kesehatan ya! Tunggui dia disana!”teriak guru olahragaku sambil menuntun seorang anak laki-laki seumuranku kedekatku. Aku langsung menggandeng tangannya yang terasa dingin dan ia mulai terlihat memucat itu.

“Kau tidak apa-apa?”tanyaku pada anak itu yang kini sudah terbaring lemah diatas tempat tidur. Ia hanya diam saja dan terus menatap langit-langit sambil sesekali memijit pelipisnya.

Tiba-tiba aku teringat akan kotak bekal yang sedari tadi hanya kupegang. Kubuka tutupnya dan menyodorkan kotak itu ke anak laki-laki asing yang kini terbaring dihadapanku. “Kau mau? Sepertinya kau belum sarapan”ucapku sambil menyodorkan kotak itu.

“Kau, tahu darimana jika aku belum sarapan?”

“Bibirmu pucat sekali, tapi tubuhmu mengeluarkan keringat dingin”ucapku sambil tersenyum. Kini anak itu membalasku dengan senyuman dan duduk disampingku sambil melahap habis bekalku. Melihatnya makan seperti itu, rasa laparku mendadak hilang dan berganti dengan rasa bahagia karena bisa membantu orang lain.

“Kau sudah makan?”tanya anak itu dengan mulut penuh.

“Belum sih, tapi aku tidak lapar kok. Bisa membuat orang lain bahagia sudah lebih dari kenyang untukku”

“Ah, mianhae. Mian aku malah mengabiskan bekalmu”

“Ne, algesseumnida”ucapku sambil tersenyum berusaha meyakinkan anak itu agar tidak merasa bersalah padaku.

“Ah sudah bel! Aku punya janji dengan seseorang untuk membantunya mengerjakan tugas. Sampai ketemu lagi!”ucapku sambil melesat pergi karena bayangan wajah Min Jung mendadak melintas dipikiranku.

[ Ryeowook Pov ]

Aku masih sibuk menatap kotak bekal milik gadis yang tadi menolongku dengan sarapannya. Ia pergi terlalu cepat sampai lupa bahwa kotak bekalnya masih kupegang. Jujur aku merasa kagum terhadapnya karena ia jauh lebih memilih orang lain bahagia lebih  dahulu ketimbang dirinya sendiri.

“Kira-kira siapa namanya ya? Aku belum sempat menanyainya tadi”ucapku sambil membalik-balik kotak bekal itu.

Dibawah kotak itu, kulihat tulisan “Jung Sohee” yang ditulis mengunakan tinta hitam dan Hangul yang rapi. “Oh, jadi namanya Sohee. Nama yang manis, seperti pemiliknya”ucapku sambil senyum-senyum sendiri.

“Ryeowook-ah, kenapa lampunya masih menyala?”tanya eommaku yang langsung membuatku menyembunyikan kotak bekal itu dibawah selimutku dan berakting seperti anak yang tidur.

“Aku lupa mematikannya eomma”ucapku sambil terus terpejam dan suara yang kubuat-buat seperti orang yang setengah sadar.

“Lain kali matikan dulu lampunya, barulah tidur”ucap eommaku sambil pelan-pelan menjauh.

“Fiuh, syukurlah,” kuambil lagi kotak bekal itu dan menatapnya sekali lagi. “Baiklah, lain waktu kita bertemu lagi, Jung Sohee”ucapku sambil memeluk kotak itu dan pergi tidur.

[ Soohee Pov ]

“MWO?! KOTAK BEKALKU TIDAK ADA?!”teriak Sohee eonni didalam kamarku. Ia memarahiku habis-habisan karena tadi pagi kotak bekal kami tertukar. Dan parahnya aku malah lupa meletakkan kotak bekal nunna-ku itu dimana.

“Mianhae eonni, neomu mianhae. Seingatku tadi kotak itu kubawa pulang kerumah”ucapku tetap tak berani menatap wajah garang kembaranku itu.

“Sudahlah Sohee. Besok eomma belikan yang lebih bagus lagi”ucap eommaku berusaha menengahi pertentangan hebat yang terjadi didalam kamarku.

Sohee eonni tetap menatapku sadis lalu menendang tong sampah berbentuk kelinci yang ada didekat pintu kamarku. Eommaku langsung mengikuti langkah kaki Sohee eonni yang kini mengunci diri didalam kamarnya. Kututp pintu kamarku pelan-pelan, kuputar kuncinya kearah kiri dan CEKLEK. Pintu pun sukses terkunci.

Kusandarkan kepalaku ke tembok sambil memunguti sampah-sampahku kembali ke tempatnya. Tak terasa butiran hangat mulai berjatuhan di pipiku. Entah kenapa aku ingin menangis meraung-raung, namun tak tau harus mengadu pada siapa. Buntalan kertas yang kupunguti pelan-pelan terbasahi oleh air mataku yang makin lama makin banyak. Sampai kapan aku akan seperti ini?

[ Author Pov ]

6 tahun kemudian

Sohee dan Sooheee turun dari tangga dengan terburu-buru. Kali ini mereka hampir tabrakan lagi. Namun Soohee tidak menatap nunna-nya itu dengan tatapan polos lagi. Ia langsung menunduk dan berlalu begitu saja, tak perduli pelototan atau malah dengusan kasar yang keluar dari diri Sohee. Soohee segera masuk kedalam mobil biru metalinknya yang kebetulan terparkir didepan mobil nunna-nya.

“Heh kau! Jung Soohee! Cepat minggir atau body mobilmu itu akan sompel sekarang juga!”gertak Sohee pada adiknya yang tak kunjung berangkat juga.

Soohee yang kesal langsung menyembul dari jendela mobil dan berkata, “Jika tidak mau menunggu seharusnya nunna terbangkan saja mobilnya. Selesai kan?”ucap Soohee dengan nada kasar.

Setelah itu ia langsung tancap gas hingga ban mobilnya sempat berdecit hebat. Ia tahu jika nunna-nya meneriaki dia “Nappeun yeoja”, namun ia tak perduli. Tidak selamanya juga ia harus mengalah pada nunna-nya yang egois itu.

***

            Jung Sohee langsung memarkirkan mobil hitamnya dengan ganas ditempat parkir. Emosinya masih meletup-letup ketika mendengar bantahan keras dari adiknya itu. Sedari tadi ia terus meremat kemudi mobil sampai sedikit penyok tepat di gabusnya. “Apa yang membuatnya berani melakukan itu padaku?”tanya Sohee sambil terus mengingat kejadian tadi pagi. Ia segera merapikan dandanannya dan berjalan keluar dari mobil.

“Sohee-ah! Annyeonghaseyo! Kita ke… Astaga! Apa yang membuatmu sampai sekusut ini?”tanya Ji Hyeon, teman dekat Sohee.

“Siapa lagi jika bukan pantulan diriku itu? Arghh… Kuharap dia hanya pantulan diriku yang keluar begitu saja dari kaca dan tak pernah ada didunia!!!”ucap Sohee sambil memukili kepalanya menggunakan stopmap ungu miliknya.

“Ah, jangan begitu Sohee-ah. Bagaimanapun juga dia tetap saudaramu”ucap Ji Hyeon masih mengikutinya.

Sohee langsung menghentikan langkahnya dan membuat Ji Hyeon menabrak punggungnya. Ia berbalik dan menatap Ji Hyeon dengan ganas, “Kau mau bela aku, atau yeoja tak tahu diri itu?”bentak Sohee pada Ji Hyeon yang langsung menarik perhatian publik.

“Sudahlah lupakan saja masalahmu itu. Amarahmu akan mendatangkan masalah baru dengan orang lain, Sohee-ah”ucap Ji Hyeon yang mulai merasa kesal pada Sohee.

Baru saja Sohee mau menjawab dan menyolot ucapan Ji Hyeon barusan, tiba-tiba datanglah seorang namja setinggi 173 sentimeter mendekat ke mereka berdua. Ji Hyeon sudah melongo lebih dulu menatap namja bermuka imut itu, sedangkan Sohee menatap namja itu dengan tatapan bingung. “Annyeonghaseyo. Benarkah namamu Sohee-sshi?”tanya namja itu dengan sopan.

“Ah, ne. Namaku benar Sohee. Ada apa memangnya?”jawab Sohee balas bertanya.

Namja itu melempar tasnya kedepan dan membuka ritsletingnya. Tangannya terlihat mencari-cari sesuatu. Mata Sohee tak berhasil dikedipkan tatkala ia melihat kotak biru tua yang dipegang oleh namja itu, “Kau masih ingat ini?”tanya namja itu dengan senyum manis.

“Tentu aku masih mengingatnya. Itu kotak bekalku saat masih SMP. Bagaimana caranya bisa sampai ditanganmu?”tanya Sohee sambil menatap kotak itu berbinar.

“Aku menemukannya”ucap namja itu sambil tersenyum manis.

“Neomu gamsahamnida”balas Sohee sambil membungkuk-bungkukkan tubuhnya didepan namja imut itu. Ji Hyeon sendiri melongo menatap Sohee yang bisa sesopan itu pada seseorang. Selama ia mengenal Sohee, gadis itu belum pernah sesopan ini pada orang lain.

“Ah, jangan begitu. Biasa saja. Nanti siang bisa bertemu denganku lagi di kafe itu”ucap namja imut itu sambil menunjuk kafe yang masih tertutup rapat. “Kita mengobrol disana ya.”

“Tentu aku bisa. Sampai nanti”ucap Sohee sambil melambaikan tangannya dengan senang.

Ji Hyeon menatap sahabatnya itu masih tak percaya, “Namja itu hebat sekali. Baru sekali bertemu denganmu sudah bisa menjinakkan keliaranmu.”

“Ya! Kau Jung Sohee! Bangunlah secepat mungkin dari alam khayalanmu!”teriak Ji Hyeon ditelinga Sohee yang langsung membuat gadis itu tersentak kaget.

“Isshh, berhentilah bicara…”jawab Sohee dengan pipi bersemu merah. Sepertinya Ji Hyeon tahu apa yang terjadi disini antara Sohee dan namja pipi tembam itu.

Part 2

[ Sohee Pov ]

Sesuai dengan janjian semula, kini aku dan namja itu tengah duduk berhadapan menatap kopi yang masih mengepul didepan mereka. Tiada satupun dari mereka yang berani buka suara untuk memulai percakapan. Hanya rintikan air yang kian deras lah yang menjadi backsound sekaligus saksi bisu yang seolah ingin tahu dengan lewat bergantian.

“Emm… Ayo diminum dulu kopinya, nanti dingin”ucapnya dengan nada malu-malu. Dari gelagatnya saja, aku bisa mengerti jika ia nyaris tidak pernah berbicara berdua hanya dengan seorang yeoja.

“Ah, ani. Tunggu sebentar lagi, sepertinya kopi itu masih panas”balasku yang juga tak kalah malu-malu.

Ia mengangkat cangir kopi itu setinggi dadanya dan berkata, “Baiklah, aku minum duluan ya”lalu ia menyeruput kopi itu perlahan.

“Kau masih ingat tidak saat kau menolongku dulu?”pertanyaan namja itu benar-benar sukses membuat dahiku berlipat-lipat bak perut orang obesitas. Belum sempat aku bicara ia sudah lebih dulu mengucapkan kalimat baru, “Kau mau merelakan sarapanmu untukku, padahal kau sendiri belum sarapan.”

“Tiba-tiba kau pergi, katanya ada janji dengan temanmu. Lalu kotak bekal itu, terbawa olehku selama 6 tahun.” Penjelasan barusan langsung membuat otakku terkoneksi pada orang yang selama ini kuharapkan hanya pantulan diriku di cermin, Soohee.

Bukankah 6 tahun yang lalu ia salah membawa kotak bekalku dan menghilangkannya entah kemana? Berarti namja ini salah pengertian, ia mengira aku gadis yang menolongnya dulu, Jung Soohee. Bukan Jung Sohee. “Jinjayo? Jika kita satu sekolah, kenapa kau tidak berusaha mengembalikannya padaku? Bukankah di kotak itu tertera nama lengkapku?.”

“Aha, aku… bukanlah tipe namja yang pemberani. Aku, terlalu malu-malu untuk melakukan sesuatu. Apalagi sejak SMP kau anak terkenal, terang saja aku makin malu”

“Waeyo? Teman-temanku tidak akan jahat padamu, apalagi mengolok-olok dirimu”

“Tetap saja aku tidak berani. Eh iya, kau sudah tahu namaku belum? Sejak pertama bertemu kau belum mengetahui namaku.” Aku hanya menggeleng pasrah sambil terus menatap namja itu dan kopiku bergantian.

“Perkenalkan, namaku Kim Ryeowook. Panggil saja aku Ryeowook”ucapnya sambil menyodorkan tangan kanannya dan senyum chubby yang imut.

“Kupanggil Woppa saja boleh?”tanyaku sambil mengepal tangan kananku diatas meja. Ia langsung mengangguk dengan wajah sumringah. Kujabatkan tanganku dengan tangannya yang begitu hangat. Omo, aku belum pernah merasa sehangat ini.

Hujan semakin deras dan seolah berusaha mengurung kami berdua agar tetap disini untuk beberapa saat. Banyak permbicaraan yang sudah kami lalui. Mulai dari cerita saat dulu masih kecil, saat upacara kelulusan, bahkan tentang makanan. “Besok tukaran bekal makan siang ya. Aku akan membuatkan sesuatu yang spesial untukmu”ucap Ryeowook sambil menyentil hidungku.

“Ye, Woppa! Jangan pakai sentil hidung segala”seruku sambil mengusap-usap hidungku yang terasa panas akibat sentilan jari Ryeowook.

“Haha, bercanda. Mau kuantar sampai rumah? Aku akan dihantui olehmu jika aku membiarkanmu kenapa-kenapa”ucap Ryeowook sambil mendorong pintu kafe yang berdenting halus. Dentingan bel itu menjelma menjadi desiran halus yang melewati hatiku. Ada sesuatu yang terjadi saat serpihan kata meluncur keluar dari bibir tipis Ryeowook…

[ Author Pov ]

Soohee terus menerus mondar-mandir didepan teras. Meski hubungannya dengan nunna-nya itu tidak sewajar orang bersaudara lainnya, ia tetap saja merasa jika Sohee tetaplah nunna tersayangnya. Ia tidak perduli meski Sohee sering berkata keras bahkan kasar padanya. Yang jelas Soohee selalu merasa bahwa Sohee adalah separuh dari dirinya. Tiba-tiba ia mendengar suara mesin mobil yang sama sekali tidak asing ditelinganya. Ya, itulah mobil nunna-nya. “Sohee eonni, kau dari mana….” Suara Soohee pelan-pelan menghilang ketika melihat 2 mobil terparkir didepan gerbang yang sedang dibuka. Bayangan tentang namja cinta pertamanya pun mendadak melintas cepat didalam pikirannya. Ia terus menyaksikan nunna-nya yang kini berjalan berdampingan dalam satu payung bening bersama seorang namja. Deg. Detak jantungnya berubah menjadi cepat dan ujung jemarinya menjadi dingin.

I often close my eyes
And I can see you smile
You reach out for my hand

Soohee berusaha sekuat tenaga untuk menelan ludah yang menyangkut di kerongkongannya. Dua orang yang tadi ada diujung pandangannya, kini sudah semakin dekat dan semakin dekat, hingga akhirnya mereka benar-benar ada didepannya. Ia bisa melihat dengan jelas bahwa nunna-nya sedang bergandengan tangan dengan namja itu.

TEK. Dan saat itu juga pandangannya langsung bertemu hingga titik terdalam mata namja itu. Kelembutannya, kehangatannya, dan dalamnya tatapan itu benar-benar Soohee kenali dengan baik. Meski ia baru melihatnya sekali, ia benar-benar yakin jika ia tak mungkin salah. Namja itu adalah namja yang ia tolong dulu. Namja dengan tatapan lembut dan senyuman yang menghanyutkan. Namja itu, ya, namja itu adalah cinta pertamanya. Yang kini sedang digandeng mesra oleh kembarannya sendiri, Jung Sohee. Hatinya hancur, hatinya remuk redam. Rasa cemburu dan amarah mulai memburunya. Namun karena rasa cintanya pada Sohee, semuanya berhasil ia redam. Ia tetap tersenyum manis meski didalam hati ia menangis…

And I’m woken from my dream
Although your heart is mine
It’s hollow inside

***

“Soohee-ah? Kenapa diam saja? Sup mu sudah dingin sejak tadi”ucap appa membuayarkan pikiran Soohee.

“Mianhae appa, mianhae”ucap Soohee terburu-buru sambil menyuap sup dingin itu secepat mungkin. Semua orang yang ada diatas meja makan merasa heran melihat tingkah Soohee yang mendadak seperti orang kesetanan itu.

Sohee hanya melirik kembarannya itu sekilas namun dengan tatapan sinis khas miliknya. Lalu ia kembali menatap mangkuk supnya dan kembali berbicara dengan Ryeowook. Ya, akhirnya Soohee bisa mengetahui nama namja itu. Namanya Ryeowook dan ia melihat Sohee dengan tatapan yang susah diartikan.

“Soohee-ah, kau melamun lagi,” ucapan Ryeowook barusan benar-benar sukses membuat Soohee tersentak kaget dari lamunannya. Bahkan sendok yang tadi ada di tangan kanannya kini sudah beralih didekat kakinya.

“Mi.. mianhae. Aku keatas saja agar tidak mengganggu.” Detik berikutnya, Soohee benar-benar sudah lenyap dari pandangan keempat orang yang masih berkutat dengan mangkuk sup masing-masing.

Malam itu Sohee diantar pulang oleh Ryeowook. Yah, meski tidak semobil sih. Namun hati Soohee serasa dicabik-cabik ketika melihat orang yang 6 tahun ia nanti-nanti kini beralih ke pelukan saudara kembarnya. Namja itu sudah jauh berbeda ketimbang 6 tahun lalu saat Soohee pertama kali bertemu dengannya. Tubuhnya yang dulu bisa dikatakan gemuk, kini sudah menjadi ramping. Meski pipi tembam dan tatapan lembutnya masih sama saja.

“Kenapa ia malah mengenal nunna-ku sebagai orang yang menolongnya dulu? Apakah nunna berbohong padanya?”tanya Soohee dalam hati sambil sibuk memainkan iPad putihnya diatas tempat tidur.

Tiba-tiba Soohee teringat sesuatu. Kotak bekal. Ya, kotak bekal itu. Soohee meninggalkannya saat ia terburu-buru bertemu dengan Min Jung dulu. Bukankah dulu Min Jung meminta dirinya untuk mengajarkan tugas Matematika musim panas yang belum Min Jung kumpulkan? Dan malam harinya Soohee dimarah-marahi oleh Sohee karena telah menghilangkan kotak bekalnya. Dan kemungkinan besar kotak bekal itu ada pada Ryeowook. “Mungkin Ryeowook salah pengertian tentang aku dan Sohee eonni”ucap Soohee sambil sibuk memencet tuts yang ada dilayar iPad-nya.

“Andwae! Aku tidak akan melakukan hal itu! Tatapan Sohee eonni benar-benar kukenali. Dia sedang jatuh cinta pada Ryeowook. Ani, aku harus memikirkan perasaan Sohee eonni. Soohee, Hwaiting!”ucap Soohee pada dirinya sendiri.

Kini ia berbalik dan menatap boneka Rilakkuma yang sebesar balita itu. Ia sempat memasang raut-raut wajah aneh didepan kaca. Namun setelah beberapa menit berusaha tetap tegar, akhirnya air mata Soohee berjatuhan juga. Rasa sakit yang menusuk-nusuk hatinya semakin merajai kantung air matanya dan mengalahkan pertahanan hatinya. Kini Soohee membenamkan wajahnya diantara tumpukan bantal dan memutuskan untuk menangis semalaman.
I never had your love
And I never will

[ Soohee Pov ]

Pagi ini aku turun dari kamarku dengan mata bengkak. Hanya orang rumah yang bodoh lah yang tidak tahu jika orang termuda dirumah baru saja menangis semalaman. Aku sempat mematung sebentar didepan pintu kamarku, lalu melirik pintu sampingku yang masih tertutup rapat. Samar-samar kudengar tawa kecil Sohee dari balik pintu. Aku tahu, mungkin ia sedang berbicara dengan Ryeowook. Oleh karenanya ia bisa seperti itu. Ah, andai saja waktu bisa diputar kembali. Aku bisa berkenalan dengannya, kotak bekalku tidak tertukar dengan Sohee dan juga Sohee tidak lebih dulu menemukannya diantara ribuan namja di Korea Selatan ini.

“Soohee-ah?”tanya suara yang biasanya kasar itu berubah menjadi lembut. Agak aneh memang, namun aku benar-benar bersyukur atas hal itu.

“Ne? Waeyo nunna?”tanyaku sambil membalikkan badan.

Sohee diam sesaat dan terlihat memainkan jemarinya lalu mulai buka suara dan berkata, “Tolong jangan ganggu aku dan Ryeowook ya”ucapnya begitu.

Aku hanya mematung dalam kehancuran dan mengangguk sambil tersenyum datar, “Ne, arasseo nunna. Sudah seharusnya aku mendukung nunna dengan Ryeowook-ah”ucapku pada Sohee yang kini mengangguk senang dan kembali masuk kedalam kamarnya.

Aku segera berjalan menuruni tangga dan masuk kekamar mandi. Diam sesaat disana dan mulai menangis sejadi-jadinya. Kenapa aku masih saja mau mengalah? Jika Ryeowook tahu akulah gadis yang ia cari selama 6 tahun, apa mungkin ia akan percaya? Dimatanya hanya ada Jung Sohee seorang, bukan Jung Soohee.
And every night
I lie awake
Thinking maybe you love me
Like I’ve always loved you
But how can you love me

Part 3

[ Author Pov ]

4 Tahun Kemudian

Soohee keluar dari kamarnya sambil menenteng map putih yang berisi latihan soal bejibun yang selama ini diberikan oleh dosennya. Dengan tangan gemetar, ia berusaha mengunci pintu kamarnya yang mulai keras kepala, “Ayolah, pintuku… Aku belum pernah bertindak jahat padamu”ucap Soohee bermonolog pada pintu putih kekar yang ada didepan wajahnya. CEKLEK. Akhirnya pintu pun berhasil dikunci dengan perjuangan ekstra.

Diatas meja makan sudah tersedia aneka makanan ringan untuk sarapan, seperti roti bakar, salad, susu, dan teman senasibnya. Sedangan kursinya sudah terisikan oleh eomma-nya, appa-nya, nunna-nya dan tentu saja Ryeowook yang sudah resmi menjadi namja chingu nunna-nya sejak 3 tahun 5 bulan yang lalu. Soohee tak sanggup menatap kearah mata namja itu. Bagaimana pun juga, tatapannya terus menerus membuat dadanya bergetar dan kantung air matanya turun. Ia hanya berusaha memotong roti raksasa yang terasa susah untuk dipotong.

“Soohee-ah, kau kenapa? Kenapa murung begitu?”ucap Ryeowook sambil menatap Soohee yang tak berani menatapnya.

“Haha, Ryeowook-ah. Sebenarnya siapakah yeoja chingumu sebenarnya? Sohee atau Soohee? Kenapa kau jauh lebih memperhatikan Soohee ketimbang Sohee”ucap appa sambil tertawa keras diikuti dengan tawa eomma yang mulai membahana. Sedangkan Sohee hanya merengut dan menatap Soohee dengan tatapan kecut.

“Ani, aku tidak murung”jawabku telat sambil menatap Ryeowook. Namja itu juga menatap Soohee, namun tidak pada matanya. Ia hanya menatap poninya. Mungkin ia sudah menyadari perubahan hawa gadis yang duduk disebelahnya.
Like I loved you when
You can’t even look me straight in my eyes

 

Soohee yang merasakan hal tersebut langsung berusaha secepat kilat menghabiskan sarapannya dan segera lenyap dari padangan dua orang yang duduk mesra didepannnya ini. “Aku sudah selesai. Aku berangkat dulu ya appa, eomma”ucap Soohee sambil mengemasi mapnya yang sialnya jatuh berputar kedekat kaki Ryeowook.

“Kau pasti mau mengambil ini kan?”ucap Ryeowook sambil mengacungkan map putih Soohee setinggi kepalanya.

Tanpa banyak bicara, Soohee segera mengambil map itu dan segera pergi. Namun ia tetap menyempatkan diri berbisik “Gamsahamnida” setelah menyambar map miliknya. Setelah mobilnya melewati pos satpam, barulah ia menyetir sambil bercucuran air mata. Air mata kepedihan yang sedari tadi berusaha ia tahan akhirnya kini jatuh juga. Kini ia semakin terlihat lemah, tak berdaya, dan kalimat apapun yang sanggup menggambarkan kepayahannya ini.

“Ppaboya, kenapa aku masih saja menangis?”ucap Soohee sambil mengerem mendadak mobilnya gara-gara tak melihat lampu merah.

Ya, ia tau apa jawaban yang cocok untuk tingkahnya saat ini. Pertama, ia sudah terlanjur mencintai Ryeowook, bukan menyukai lagi. Kedua, ia masih menyayangi Ryeowook hingga detik ini. Dan ketiga, ia merasa kesepian…
I’ve never felt this way
To be so in love
To have someone there
Yet feel so alone

 

***

            Sohee berjalan menyusuri bangku-bangku kelasnya dengan muka masam dan melempar tas putihnya sembarangan. Ia masih merasa kesal pada perhatian Ryeowook yang terlalu berlebih pada kembarannya itu. Bagaimanapun juga, ia tetaplah yeoja yang akan cemburu setengah mati jika namja chingunya menaruh perhatian berlebih pada yeoja lain, meskipun itu saudaranya sendiri.

“Uuu… Putri Joseon kenapa merengut begitu?”goda Ji Hyeon seraya menutup novel setebal ganjalan pintu yang sedari tadi ia bawa.

Sohee terus merengut dan menatap dalam-dalam mata sahabatnya itu. Berharap ia akan diam dan segera mengerti simbol isyarat dari tatapan matanya. Naasnya gadis itu malah menarik nafas lagi dan mencoba untuk bertanya. “Diamlah dulu”ucap Sohee sambil melekatkan telunjuknya pada bibir Ji Hyeon yang kini maju setengah senti.

“Aku mengerti apa maksudmu”ucap Ji Hyeon dengan nada kumur-kumur karena bibirnya masih disegel oleh telunjuk Sohee.

“Berusahalah untuk mengontrol emosimu, Sohee-ah. Emosi tidak menyelesaikan masalah”ucap Ji Hyeon sambil membuka novelnya lagi dan tenggelam didalamnya.

Sohee hanya diam saja dan terus menatap sahabatnya yang kini sudah sibuk menatap novel, “Gomawo Ji Hyeon-ah. Kau rem-ku saat di turunan tajam”ucap Sohee sambil menarik Ji Hyeon kedalam pelukannya. Yang dipeluk sendiri hanya tersenyum dan membalas pelukan itu sama hangatnya.

***

Soohee kini terbaring diatas tempat tidur bersprei putih polos yang ada di ruang kesehatan. Ia merupakan salah satu hobae korban praktek Co-As seorang sunbae yang sejak dulu menyukainya. Siapa lagi jika bukan Cho Kyuhyun? Namja itu memang manis, sangat baik malah. Namun hatinya belum memberi izin untuk membiarkannya masuk selain Kim Ryeowook.

“Duduklah Soohee-ah, ada yang mau kubicarakan denganmu”ucap Kyuhyun sambil mengalungkan stetoskopnya di leher putihnya dan menarikkan sebuah kursi dihadapannya.

“Bicara tentang apa oppa? Tiap hari aku hanya punya waktu izin 1 jam dari kelas dosen botak itu”ucap Soohee sambil menuruti kata-kata namja itu.

“Apa yang selama ini kau rasakan?”tanya Kyuhyun tiba-tiba dan langsung membawa hawa ambigu pada Soohee.

“Rasakan? Merasakan apa?”

“Kesehatanmu. Apa kau sering merasa tiba-tiba lemas, pusing dan betismu membengkak tanpa sebab?”tanya Kyuhyun lagi.

Soohee terdiam dan menunduk lesu, ia tahu dari hawa ucapan Kyuhyun barusan membawa gelombang negatif yangbisa ia rasakan “Ne, memangnya apa yang terjadi padaku oppa?”tanya Soohee perlahan.

“Pernah dengar gagal ginjal?”

Soohee pelan-pelan bungkam dan terus menatap Kyuhyun, lalu ambil suara dan menjawab dengan lugu, “Pernah, barusan ini kudengar. Karena dalam drama belum ada yang membahas penyakit itu.”

“Pikiranmu ini, drama saja. Kau berharap tiba-tiba hidupmu sepahit atau seindah drama?”ucap Kyuhyun sambil bergurau namun detik berikutnya kembali serius.

“Jika kau mengidap penyakit itu bagaimana?”tanya Kyuhyun tiba-tiba yang nyaris membuat jantung Soohee melompat.

“Isshh, oppa ini membuatku kaget saja”ucap Soohee sambil membalikkan kalender yang ada diatas meja dan membuat Kyuhyun mengeluarkan evil smirk mematikannya.

“Bagaimana ya? Yah, menjalani hidup apa adanya dan menghitung berapa lama lagi aku di dunia.” Kyuhyun hanya terdiam dan terlihat mengepal erat jas putihnya.

“Seputus asa itukah?”tanya Kyuhyun dengan suara bergetar. Soohee sendiri menjadi bertanya-tanya dengan ucapan Kyuhyun barusan. “Maksud oppa?.”

“Kau bertanya pada rumah sakit saja, Soohee-ah. Aku tak tega mengatakannya. Baiklah aku permisi dulu”ucap Kyuhyun buru-buru melesat pergi dari ruang kesehatan dan meninggalkan Soohee yang masih tak mengerti. Aku gagal ginjal? Apa mungkin? Batin Soohee sambil mengangkat tasnya dan pergi berlalu meninggalkan ruang kesehatan.

[ Ryeowook Pov ]

Sore menjelang malam, aku pulang dengan lesu. Bagaimana tidak? Sohee sejak tadi pagi menolak bicara denganku, menghindariku tiap berpapasan, menolak telponku, bahkan tak membalas pesan singkatku. “Arrgghh, Jung Sohee!! Kau yeoja aneh yang bisa membuatku terlihat ppabo!”geramku kesal sambil mengemudikan mobil kearah jalan tol.

Sesaat kulihat sebuah toko bunga yang tak begitu ramai dipinggir jalan. Iseng-iseng kubelokkan mobilku kearah sana, bermaksud membelikan Sohee beberapa tangkai Lili Putih. Saking cintanya pada Lili Putih, aku pernah mengantarkannya pulang lagi gara-gara ia lupa memberi air pada Lili-nya yang ada didalam vas bunga. Aku tak sanggup membayangkan bagaimana nasibku nanti jika aku sudah menikah dengannya. Bisa-bisa aku dan anakku ditelantarkan olehnya hanya BEBERAPA TANGKAI LILI PUTIH.

“Annyeonghasimika. Ada yang bisa kubantu tuan?”tanya penjaga toko bunga itu dengan ramah.

Aku menyambutnya dengan sebuah senyuman dan berkata, “Tolong 6 tangkai Lili Putih.” Penjaga toko itu segera mengangguk dan lenyap dibalik beberapa jajaran vas bunga beraneka bentuk.

“Kukira jam segini tidak ada yang mau beli bunga lagi karena sudah tidak sesegar saat pagi”ucap penjaga toko yang bernama Kim Min Jung itu. Aku tahu karena membaca papan namanya yang melekat diatas celemeknya.

“Aku mau kerumah yeoja chinguku. Tampaknya ia marah padaku sejak tadi pagi”curhatku pada penjaga toko itu. Dengan cekatan ia sudah membungkus rapi 6 tangkai Lili Putih pesananku.

“Anda namja yang benar-benar perhatian. Betapa beruntungnya yeoja chingumu bisa memiliki seorang namja seperti anda. Meskipun keliling Korea, aku belum tentu bisa menemukan namja jiplakanmu”gurau penjaga toko panjang lebar. Mau tak mau aku ikut tertawa mendengarnya.

“Haha, gamsahamnida. Kembaliannya untukmu saja”ucapku sambil menyodorkan dua lembar uang 20.000 won ke meja kasir. Tanpa bla bli blu lagi, aku langsung mengemudikan mobilku menuju sebuah restoran tempatku janjian dengannya. Semoga ia tidak marah lagi setelah kuberi bunga kesukaannya dan ‘kejutan’ spesial untuknya.

***

            Kuhisap kopi yang sejak 10 menit lalu menganggur dihadapanku. Gadis itu belum kunjung menampakkan batang hidungnya. Apa ia masih marah padaku? Batinku dalam hati. “Mianhae Woppa, aku baru saja selesai pemotretan”ucap seorang gadis yang tiba-tiba meletakkan tas putihnya keatas meja. Reflek, aku langsung berusaha menyelamatkan kopiku yang tadi duduk manis diatas meja.

“Kau ini, untung saja kopiku tidak tumpah.. Eh iya, ini aku punya sesuatu”ucapku sambil menyodorkan rangkaian 6 tangkai Lili Putih yang dibungkus rapi dengan kertas krep putih dan pita silver berkilau diatasnya.

“Woppa tau saja jika Lili Putih dikamarku sudah layu”ucap Sohee sambil menerima rangkaian bunga itu malu-malu.

Aku menoleh kekiri dan kekanan. Mana tahu ada orang lain yang mau berkunjung di lantai 3 kafe ini. Setelah memastikan keadaan benar-benar aman, kurogoh benda yang sejak tadi terdiam didalam kantong jaketku. “Sohee-ah, tatap aku”ucapku sambil bersiap bangkit dari tempat dudukku. Tanpa banyak bicara lagi, aku langsung berlutut dan menyodorkan kotak tadi dalam keadaan terbuka.

“Will you be mine, forever?,” Sohee tercengang, aku pun terdiam. Entah apa yang ia rasakan saat ini, yang jelas aku merasa grogi.

“Jinjayo?”tanyanya dengan mata berkaca-kaca. Aku hanya manggut-manggut karena tenggorokanku sudah terasa gatal dan tak sanggup untuk bicara.

Bukannya menjawab, ia malah menangis dan memelukku dengan ganas. Aku sempat mendengar ia berbisik “Ne” tepat ditelinga kananku. Kami hanya terdiam untuk beberapa saat hingga seorang pelayan mengantarkan pancake pesananku. Ah, ia merusak suasana saja..

[ Author Pov ]

Soohee berjalan gontai menyusuri jalanan bersuhu negatif, kepalanya masih terisi tentang pernyataan dokter tentang hasil tes darahnya. Tangan kanannya masih saja meremas kertas itu hingga basah. Apalagi pernyataan nunna-nya seminggu lalu benar-benar sukses membuatnya syok total.

Pandangannya mulai nanar karena tertutup air mata. Tubuhnya mulai kelelahan karena berjalan jauh. Larangan dokter untuk tidak terlalu capek sama sekali tidak mau ia dengarkan. Sesekali ia berhenti memeluk tiang yang ada disampingnya seraya memegang bagian pinggangnya yang terasa sakit. Namun ia terus memaksakan diri untuk berjalan sampai rumah, hingga akhirnya ia benar-benar ambruk dan sekilas melihat bayangan seorang namja. Detik berikutnya pandangannya sudah lenyap dan ia tak sadarkan diri.

***

Ryeowook berjalan sendirian ditengah suhu ganas kota Seoul. Ia memang sengaja tidak ingin mengajak Sohee. Ia ingin mengambil udara malam di musim dingin yang terasa segar. Sekalian ia ingin berkunjung ke kedai minuman milik sunbae-nya, Yesung yang belum lama ini dibuka untuk umum.

Pandangannya berhenti ketika melihat seorang yeoja yang sedang memegangi tiang baliho kecil milik sebuah butik. Tiba-tiba pikirannya tertuju pada Sohee. Terakhir ia bertemu dengan yeoja itu 4 hari yang lalu. Kesibukannya mempersiapkan wisuda membuat waktu untuk bersama semakin sedikit. Semenit kemudian, yeoja itu berjalan lagi dan BRUK, tubuhnya langsung terhempas diatas aspal karena salju belum mulai turun.

Ia langsung berlari dan menghampiri yeoja yang pingsan itu. “Sohee-ah, Sohee-ah, bangunlah. Ini aku, Ryeowook”ucapnya sambil menepuk-nepuk pipi yeoja yang ada dipangkuannya yang tak kunjung sadar juga. Dengan susah payah, Ryeowook menggendong gadis setinggi 167 sentimeter itu diatas punggungnya dan segera berlari menuju rumah sakit.

[ Soohee Pov ]

Meski terasa berat, kucoba untuk membuka kelopak mataku hingga aku menangkap sebuah bayangan. Bayangan yang kian lama kian nyata. Bayangan yang membuat dadaku berdetak tidak karuwan. “Ryeowook-ah?”tanyaku pada namja yang kini tertidur pulas sambil menggenggam erat tangan kiriku yang tidak di infus.

“Sohee-ah, kau sudah bangun?”tanyanya padaku yang tak kunjung menjawab karena masih terpaku pada genggaman erat tangannya. Bagaimana bisa ia menggenggam tanganku, seerat ini? Jika ia tidak mengira aku Sohee, ia takkan melakukan hal ini padaku.

Chu~

Sebuah sentuhan hangat langsung mendarat tepat di dahiku. Ryeowook baru saja menciumku. Ya, mencium dahiku. “Tunggu disini, aku mau panggil dokter dulu jika kau sudah siuman”ucapnya sambil bangkit dari kursinya.

“Oppa, jangan pergi lama-lama. Tetaplah disini”ucapku sambil menggenggam erat pergelangan tangan kanannya yang masih tertinggal didekatku.

“Tenang saja, aku akan segera kembali.” Perlahan-lahan sosoknya hilang dari balik pintu entah kemana. Hanya ada aku, peralatan medis, dan benda lainnya yang ada diruangan ini.

Aren’t you supposed to be
The one to wipe my tears
The on to say that you would never leave

 

Hasil tes darah! Iya, hasil tes darahku kemana! Batinku sambil berusaha mencari-cari gulungan kertas kumal yang berbau khas rumah sakit itu. Nihil. Di kantong jaketku tak ada. Apa mungkin jatuh dijalan? Atau diambil oleh, Ryeowook? Tanyaku dalam hati. Detik berikutnya seorang dokter dan dua orang perawat masuk dan memeriksa segala macam. Kulihat Ryeowook yang mengekor dibelakang mereka, namun dengan wajah sembab habis menangis.

“Sohee-ah, kenapa kau merahasiakannya dariku?”tanyanya sambil menggenggam tanganku setelah orang-orang medis itu benar benar pergi dari hadapan kami.

“Merahasiakan? Merahasiakan apa?”tanyaku pura-pura tidak tahu.

“Kau mengidap gagal ginjal kan?”ucapnya dengan nada bergetar dan seolah ingin menangis lagi.

Aku hanya tertawa garing dan berkata, “Mwo? Oppa tadi bilang apa?.”

Ryeowook langsung mendekap tubuhku kedalam pelukannya, “Kau jangan pura-pura bodoh, Jung Sohee. Aku tak akan sanggup mengucapkan hal itu untuk kedua kalinya.”

“Mianhae oppa. Tapi berjanjilah padaku agar hal ini hanya menjadi rahasia kita berdua”ucapku sambil menyodorkan kelingkingku padanya. Ia hanya menatap nanar beberapa menit hingga akhirnya menyambut kelingking perjanjian itu.

“Stempel dulu disini. Jika tidak aku takkan percaya pada oppa lagi”ucapku sambil menyodorkan ibu jariku padanya yang masih terdiam.

“Deal. Tapi jangan tutupi apapun tentang penyakitmu padaku, arra?”ucapnya sambil ‘menyetempel’ perjanjian besar itu.

Aku hanya mengangguk dan berkata, “Arra. Oppa, bisa antar aku pulang sekarang? Aku tak mau appa dan eomma pulang duluan dan mengetahui aku habis dari rumah sakit.” Ryeowook menatapku ragu, aku menatapnya dengan puppy eyes. Akhirnya ia mendesah panjang dan mengangguk menuruti permintaanku.

***

Sohee sama sekali tidak menyadari kepulanganku. Ia sudah tenggelam dalam kesibukannya sendiri. Kini ia sedang menatap MacBook yang menampilkan aplikasi editor foto. Sesekali ia menyeringai kecil pada benda itu dan kembali meneruskan pekerjaannya. “Nunna, boleh aku bicara sebentar?”tanyaku memberanikan diri masuk kedalam kamar Sohee yang terkenal galak itu.

“Ne, masuklah. Jangan lupa tutup pintunya. Tadi aku lupa menutupnya”ucap Sohee dengan mata terus menatap kearah laptop.

“Aku tidak mengganggumu kan nunna?”tanyaku sekali lagi karena Sohee sama sekali tidak menganggap ada aku dihadapannya.

BRAKK! Layar MacBook pun ditutup paksa dengan keras dan Sohee pun menatapku dengan tatapan jutek, “Segera bicara atau kau keluar dari sini”ucapnya dengan nada yang benar-benar membuat orang jengah untuk berbicara dengannya.

“Bolehkah kita bertukar kehidupan selama 90 hari? Aku menjadi nunna dan nunna menjadi aku. Tenang saja, setelah waktu itu aku akan hilang dari hadapan nunna. Aku berjanji”ucapku dengan nada datar namun penuh harapan.

Sohee menatapku dengan mata disipitkan dan mulut menganga lebar, “Bertukar kehidupan? 90 hari? Untuk apa Soohee-ah?”tanyanya masih tak percaya.

Aku mendekatkan bibirku ke telinganya, memberi tahu rahasia yang sudah diketahui lebih dulu oleh Ryeowook. Ia menganga lebar. Kaget mungkin. Apa mataku tak salah lihat? Jung Sohee menangis! Iya! Jung Sohee, saudara kembarku yang bertingkah seperti batu itu menangis ketika kuberi tahu bahwa aku mengidap gagal ginjal.

“Jung Soohee”ucapnya sambil merengkuhku kedalam pelukannya. Jujur aku baru kali ini merasakan dipeluk dengan hangat oleh nunna-ku sendiri.

“Ne, waeyo nunna?”

“Jangan pergi dulu…”ucapnya sambil terisak sedih. Aku sendiri baru tahu jika seorang Jung Sohee yang bersikap keras padaku bisa sebaik ini.

“Aku tak akan pergi sekarang nunna. Besok, ketika waktuku sudah habis. Aku baru pergi”jawabku yang mau tak mau mulai menangis juga.

Kami berdua tenggelam dalam kesedihan yang dirasakan satu sama lain. Berusaha memeluk masing-masing seerat mungkin, sebelum aku pergi lebih dulu. “Mulai besok aku tidur di kamarmu, kau tidur dikamarku ya. Pakailah semua barangku sesukamu. Jika ada yang perlu ditanyakan, kau bisa langsung tanya padaku. Arra?”ucap Sohee panjang lebar sambil menatapku dengan mata merah dan sembap.

“Arraseo nunna, arraseo”

Sohee melepas pelukannya dan menyodorkan kelingkingnya sambil berkata, “Berjanjilah pada nunna jika kau tidak akan pergi sebelum hari pernikahan nunna berlangsung.”

“Aku, tidak bisa berjanji tentang hal itu”ucapku sambil mendesah panjang.

“Wae? Waeyo Soohee-ah? Waeyo? Kau masih belum bisa mengikhlaskan Ryeowook untukku?”tanyanya dan tangisnya pun mulai pecah kembali.

Kini aku kian tak tega menatapnya. Memang, ia sudah melakukan hal yang cukup susah dimaafkan padaku. Namun aku tak perduli, “Ah, aniyo. Aku tidak bisa berjanji jika Tuhan sudah menetapkan takdir untukku.” Sohee langsung menangis sejadi-jadinya sambil memeluk erat tubuhku. Ya, pelan tapi pasti. Gagal ginjal ini akan membunuhku diam-diam.

Part 4

[ Author Pov ]

Sudah 60 hari berlalu sejak Jung Sohee dan Jung Soohee bertukar kehidupan. Tidak ada satupun dari orang-orang disekitar mereka yang curiga akan pertukaran tempat itu. Hanya satu perbedaan yang ada pada mereka berdua, rambutnya. Tiap Sohee ditanya mengapa rambutnya menjadi pendek, ia selalu bilang bahwa ingin mencoba model rambut baru selain rambut panjang. Lain halnya dengan Soohee, ketika ditanya mengapa rambutnya menjadi panjang, ia selalu bilang bahwa ia menyambung rambutnya hanya untuk mencoba rambut model panjang seperti kembarannya.

“Sudah selesai? Ayo makan malam sebentar. Sudah lama kau tidak makan malam bersamaku bukan?”ajak Ryeowook pada Soohee yang sudah selesai cuci darah.

Sejak dinyatakan gagal ginjal, Soohee memilih untuk melakukan cuci darah menggunakan uang tabungannya. Berhubung perjanjian bertukar tempat dengan Sohee hanya ada 90 hari. Jika hari ini adalah hari ke 50, maka ia tinggal memiliki waktu 40 hari lagi.

Soohee sendiri ingin menolak ajakan itu, namun ia berpikir kapan lagi ia bisa makan malam bersama Ryeowook jika sebentar lagi ia akan pergi?, “Emm… Baiklah. Tapi jangan pulang malam-malam ya oppa. Kasihan Soohee sendiri dirumah.”

“Tumben kau memikirkan Soohee. Biasanya kau selalu memintaku untuk berjalan-jalan hingga malam hari karena sedang malas bertemu Soohee”ucap Ryeowook panjang lebar.

Soohee hanya diam saja dan tertawa garing lalu berkata, “Itu dulu, sekarang ya sekarang Woppa”ucap Soohee berusaha mempraktekkan panggilan khas yang biasa digunakan oleh nunnanya itu.

“Haha, baiklah. Kau mau makan apa malam ini?”tanya Ryeowook sambil terus melajukan mobilnya ditengah keramaian jalanan Seoul yang mulai bergerak lamban.

“Mmm… Aku mau sushi dan udon”ucap Soohee dengan riang.

Kedua makanan itu adalah makanan favoritnya dengan Sohee sejak kecil. Ia masih ingat bahwa dulu ia pernah digetak oleh Sohee gara-gara tidak mau memberika sebuah sushinya. Mengingat hal itu Soohee hanya bisa tertawa pelan karena tidak lama lagi itu akan menjadi memori abadi. “Ne arraseo, kajja!!”ucap Ryeowook sambil mengambil jalan pintas menghindari keramaian Seoul yang kian memadat.

[ Sohee Pov ]

Soohee belum kunjung pulang. Padahal ia berjanji padaku jika ia sampai rumah takkan lebih dari jam 7 malam. Aku takut ia kecapean dan kondisinya menurun lagi. Untung saja appa dan eomma sedang pergi berlibur ke Paris untuk 3 minggu, sudah terhitung seminggu berlalu sih sejak keberangkatan mereka. Dan totalnya sudah 2 kali Soohee tidak berangkat kuliah karena kondisinya menurun.

“Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan. Coba periksa kembali nomor tujuan anda. The numb…”celoteh si operator ketika aku berusaha mengubungi Soohee.

“Cih, memangnya kau pikir suaramu indah, hah?”runtukku sambil meletakkan Galaxy Note milikku kedekat kaki.

Kutatap bayangan wajahku yang terpantul di permukaan air kolam ikan yang menempel di dinding. Hanya air di kolam ini dan air yang digunakan untuk mandi lah yang tidak membeku. Sisanya membeku dan itu sungguh menyebalkan. Aku ingin berenang seperti biasanya, bukan hanya menatap kolam renang yang kosong dan berisi salju.
The waters calm and still
My reflection is there

 

Tanganku gatal untuk mengetik pesan singkat yang isinya sekedari, “Annyeong, sedang apa oppa?”. Tapi hal itu tak mungkin kulakukan. Bisa-bisa pertukaran kehidupanku dengan Soohee akan ketahuan oleh publik. Imajinasiku mulai melayang lagi ke Ryeowook. Aku membayangkan jika ia sedang menggenggam tanganku

I see you holding me
But then you disappear

 

“Damn, i miss you badly Kim Ryeowook!”seruku menggunakan Bahasa Inggris karena aku anak Fakultas Sastra Inggris. Sedangkan Soohee lebih memilih masuk Fakultas Matematika. Katanya ia ingin menjadi guru. Ia ingin mematahkan pendapat orang bahwa  semua guru Matematika dan guru Fisika itu menyebalkan.

Sejak masih sekolah, nilai eksak dan non eksak Soohee jauh diatas rata-rata. Minimal peringkat 2 selalu ia terima. Ia pernah mewakili sekolah untuk olimpiade Matematika dan hasilnya ia mendapatkan medali perak. Apalagi semua orang selalu menyayanginya. Sungguh aku merasa iri padanya. Hal itulah yang sering membuatku bertingkah kasar pada Soohee. Aku ingin diperlakukan sama seperti Soohee. Bukannya selalu kena omel dan banding-bandingan karena aku berbeda dengan Soohee.

“Nunna? Kenapa belum tidur?”tanya suara itu dari arah belakang. Reflek aku langsung menoleh dan menatap gadis yang tadi ada didalam pikiranku kini sudah ada didepanku.

“Mana bisa aku tidur jika kau belum pulang!”

Soohee hanya terdiam. Ia tetap berdiri ditempatnya dan tidak melakukan apapun. Raut wajah pucatnya benar-benar datar, matanya mulai berkilauan. “Oh, arra. Jika nunna belum makan tadi aku membelikan sushi”ucapnya sambil meletakkan sebuah bungkusan mika diatas meja. Detik berikutnya, ia langsung berlari menaiki tangga dan diam didalam kamarnya. Apa yang telah kulakukan? Bayangan barusan membuatku kembali bersikap kasar terhadap Soohee.

“Soohee-ah, mianhae. Aku pusing dengan tugas matematika dari dosen botakmu itu”ucapku sambil menggedor-gedor pintu kamarku sendiri yang digunakan oleh Soohee. Namun Soohee sama sekali tidak menjawab dan hanya bunyi ekor cicak bergerak lah yang bisa kudengar.

“Ne, besok kubantu mengerjakannya nunna. Sekarang aku mau tidur dulu, kepalaku pusing dan badanku lemas”ucapnya dengan suara samar-samar karena aku yakin mukanya tertutup oleh bantal.

Aku tak tahu apa yang sedang dilakukan olehnya saat ini. Yang jelas setelah percakapan singkat itu ia hanya bungkam dan menolak bicara padaku. Kulirik jam tangan kecil yang melingkar di pergelangan tanganku sebelah kiri. Oke, sudah hampir 90 menit aku berdiri didepan kamarku sendiri tanpa melakukan apapun. Karena takut terjadi apa-apa pada Soohee, aku berusaha mengetok pintunya.

TOK, TOK, TOK. “Soohee-ah? Kau sudah tidur kah?”

“…….”

“Soohee-ah? Apa kau mendengarku?”

“……..”

TOK, TOK, TOK. “Soohee-ah? Kau masih bernafas kan?”tanyaku semakin panik.

“Nunna, sakit”ucap suara itu pelan sambil cemberut didepan pintu. Ia juga mengelus dahinya yang terlihat merah akibat aku mengira dahinya itu masih pintu. Aku hanya nyengir lebar sambil memamerkan huruf V besar menggunakan tangan kananku.

Aku sempat melongo  ketika melihat kembaranku itu keluar dari kamar dengan dandanan ala mata-mata. Ia menggunakan jaket tebal warna putih, syal dan sarung tangan warna biru langit, lengkap dengan kacamata ber-frame putih. Poninya yang biasa ia sampingkan kini dijepit keatas menggunakan jepit hitam polos. “Waeyo nunna?”ucapnya yang juga menatapku polos.

Aku mengerjap beberapa kali untuk mengembalikan konsentrasiku dan bertanya, “Kau mau kemana Soohee-ah?”

“Aku mau ke rumah sakit. Hari ini aku ada jadwal check up, hanya saja tadi aku tak bilang pada Ryeowook”ucapnya sambil meletakkan telunjuknya didepan bibir.

“Kuantar ya? Jika kau kelelahan nanti kondisimu turun lagi”ucapku sambil berusaha menghalangi jalan Soohee yang sudah mau menuruni tangga.

Ia menatapku sesaat dan berusaha mencari-cari kebenaran didalam mataku. Kemudian ia berkata, “Baiklah. Kutunggu didekat mobilmu ya, nunna.”

[ Author Pov ]

“Kreatinmu naik lagi, nona Jung. Dan ini kali ketiganya aku mewajibkanmu untuk rawat inap. Memangnya kau makan apa saja?”tanya dokter itu dengan nada sengak.

Soohee yang kebetulan di ruangan itu sendirian hanya menunduk dan terus diam. Sohee sendiri ia suruh untuk menunggu diluar. Ia tak mau jika kondisinya semakin buruk diketahui nunna-nya. “Belakangan ini aku makan makanan yang pantang dimakan.” Soohee bisa melihat muka mendidih dari dokter yang menanganinya selama ini.

“Hanya ada 3 pilihan. Pertama, kau rawat inap disini untuk beberapa hari. Kedua, kau harus mencari donor ginjal yang cocok untukmu. Ketiga, kau harus meningkatkat jadwal cuci darahmu menjadi 3 kali seminggu.”

Soohee terdiam dan terlihat berpikir sesuatu. Dari 3 pilihan yang ditawarkan dokter itu tak satupun diantaranya yang disukai oleh Soohee. “Aku menerima pilihan kedua”ucap Soohee dengan mantap. Yah, setidaknya itu bisa mempercepat uangnya habis dan umurnya makin pendek bukan?

***

Ryeowook sedang menunggui eomma-nya yang sedang periksa ke dokter. Sudah seminggu ia batuk-batuk dan tak kunjung sembuh juga. Akhirnya ia memaksa eomma-nya itu untuk memeriksakan diri ke dokter.

“Eomma yakin tak mau kutemani kedalam?”tanya Ryeowook lagi pada eomma-nya yang tetap ngotot masuk ruang periksa sendirian.

“Ya! Aku belum terlalu tua untuk masuk sendiri ke ruang pemeriksaan dokter! Pergilah dulu!”ucap eomma-nya sambil mengusir anaknya itu sekuat yang ia bisa.

Ryeowook yang mulai putus asa akhirnya menurut dan melangkahkan kakinya menuju mini market untuk membeli air mineral. Ia masih terbayang wajah Sohee saat ia ajak makan sushi tadi sore. Melihat wajahnya yang begitu pucat dan ceria membuatnya merasa bahagia dan sedih. Tiap malam ia berusaha menepis pikiran negatifnya bahwa hidup Sohee tak akan lama lagi.

“Soohee-ah, beri tahu aku apa yang dokter katakan padamu tadi”

Suara itu terdengar begitu khas ditelinga Ryeowook. Ia mundur beberapa langkah untuk kembali memastikan pendengarannya yang samar-samar itu. Matanya menangkap 2 sosok yeoja yang sama tingginya dan sama wajahnya. Hanya saja mereka berdua sama-sama menangis. “Soohee-ah tatap aku! Jawab pertanyaanku tadi!”seru yeoja yang berambut sebahu lebih sedikit pada yeoja berambut panjang yang ia pepetkan ketembok.

“Jung Sohee? Jung Soohee?”tanyaku karena bibirku tak tahan untuk segera bertanya.

“Ryeowook-ah, tunggu, aku bisa menjelaskan semua ini”ucap yeoja berambut pendek itu semakin mendekat kearahku.

“Mianhae, eomma-ku sudah menungguku. Annyeong~”

Kedua saudara itu masih menangis menatap kepergiannya menuju ruang tunggu didepan poli dimana eommanya diperiksa. “Ryeowook-ah, waeyo? Kenapa kau menangis?”tanya eommanya sambil mendekap lengan putra tunggalnya itu.

“Ah, aniyo. Aku tidak menangis kok eomma. Hanya kemasukan serangga kecil”ucapnya berusaha membuat eomma-nya berhenti menatapnya dengan intens.

Nampaknya sandiwara Ryeowook benar-benar berhasil. Eomma-nya berhenti bertanya dan berkata, “Lain kali hati-hati lah. Bisa bahaya.”

[ Soohee Pov ]

Hari ini aku menjalani rutinitasku seperti biasa. Appa dan Eomma sudah selesai berlibur dan untungnya tubuhku mau diajak kerja sama. Sohee juga sudah kembali ke rutinitas biasa. Bukan, bukan rutinitas seperti yang kami lakukan saat tidak bertukar tempat yang kumaksud. Kami tetap bertukar tempat hingga batas waktu perjanjian yang kami lakukan 71 hari yang lalu.

Setelah insiden di rumah sakit itu, Ryeowook menolak untuk menemui kami. Baik aku maupun Sohee, semuanya ia tak mau bertemu. Waktu yang kumiliki tinggal 19 hari lagi. Apakah mungkin dalam waktu sesingkat itu aku masih bisa bernafas? Apakah mungkin aku bisa membuat Ryeowook mau mengerti dan memahami semua ini?

“Annyeong Ryeowook-ah”sapaku sambil menempel mading Bahasa Inggris yang sudah kubuat dengan Ji Hyeon beberapa hari yang lalu.

Ryeowook yang sedang menatap mading dan tidak menyadari keberadaanku, segera melengos dan melangkah pergi menjauh. Ia sama sekali tak mau menatap mataku. Sedetik saja. Ia benar-benar menghindari hal itu terjadi.

All that is left of you
Is a memory
On that only, exists in my dreams

 

“Kau sedang bertengkar dengan Ryeowook ya, Sohee-ah? Kenapa dia terlihat tak ingin menemuimu?”tanya Ji Hyeon yang mencolek punggungku tiba-tiba.

Aku langsung berbalik dan sialnya air mataku terlanjur turun saat pandanganku bertemu dengannya, “Ah, ani.. Mungkin dia sedang banyak pikiran”ucapku berusaha berbohong.

“Jangan menangis….”ucap Ji Hyeon sambil menghapus air mataku menggunakan sweater rajutnya. Manis bukan? Jika ia Min Jung, ia akan memelukku dan ikut menangis dengan heboh seolah merasakan apa yang kurasakan.

***

TES….

Lagi-lagi air mataku jatuh membasahi buku harianku. Bahkan hangul yang sudah kutulis dengan rapi perlahan-lahan mulai tak terbaca karena tintanya pecah terkena air mataku. Insiden di rumah sakit itu terus menerus membayangi langkahku dan membebani pikiranku. Kubuka buku tabunganku yang tergeletak disamping Galaxy Note bercasing biru langit milikku. Jika perjanjianku kurang 19 hari lagi dan aku harus cuci darah seminggu 3 kali, maka uang tabunganku hanya cukup untuk 3 kali cuci darah lagi. 12 hari sisanya aku tak akan cuci darah lagi.

“Kau mengidap gagal ginjal kan?”ucapnya dengan nada bergetar dan seolah ingin menangis lagi.

“Haha, baiklah. Kau mau makan apa malam ini?”tanya Ryeowook sambil terus melajukan mobilnya ditengah keramaian jalanan Seoul yang mulai bergerak lamban.

“Mianhae, eomma-ku sudah menungguku. Annyeong~”

“Annyeong Ryeowook-ah”sapaku sambil menempel mading Bahasa Inggris yang sudah kubuat dengan Ji Hyeon beberapa hari yang lalu.

Ryeowook yang sedang menatap mading dan tidak menyadari keberadaanku, segera melengos dan melangkah pergi menjauh. Ia sama sekali tak mau menatap mataku. Sedetik saja. Ia benar-benar menghindari hal itu terjadi.

Kalimat-kalimat yang diucapkan Ryeowook satu persatu teriang kembali didalam kepalaku. Mulai dari ia mengira bahwa aku Sohee hingga kejadian tadi pagi saat ia bersikap acuh terhadapku. Kubenamkan wajahku diantara bantal-bantal yang mayoritas berwana biru langit. Melihatnya yang terlihat dikhianati benar-benar membuatku sakit. Tapi bukankah seharusnya ia merasa bersyukur karena bukan kekasihnya yang terkena gagal ginjal? Kenapa ia malah ikut mengacuhkan Sohee? Ini semua kan salahnya.

“Apa yang harus kulakukan, Tuhan. Apa?”tanyaku smabil terus menangis dan memikirkan semua masalah bergantian. Aku berharap, sebelum aku pergi kondisi disini sudah membaik dan berjalan seperti semula…
I don’t know what hurts you
But I can feel it too
And it just hurts so much

 

[ Sohee Pov ]

Sejak 2 hari yang lalu, Soohee sudah kembali masuk ke rumah sakit. Akhirnya appa dan eomma mengetahui penyakit yang diidap Soohee selama ini. Mereka hanya bisa menangis dan menyalahkan diri masing-masing karena kurang perhatian padaku, terutama Soohee. Kembaranku itu sama sekali tidak mau cuci darah. Ia bilang untuk apa hidup lebih lama lagi jika kondisi orang-orang yang akan ditinggalkan sama sekali tidak ada yang benar?

Aku mengerti betul apa yang diucapkan Soohee, meski itu menggunakan bahasa tingkat tinggi. Ia benar-benar memikirkan semua orang yang ia miliki, bahkan ia menomor terakhirkan dirinya sendiri hanya demi orang lain. Terkadang aku merasa seperti orang bodoh karena pernah bersikap jahat padanya.

“Sohee-ah, aku pulang dulu ya. Jika ada kabar apa-apa tentang Soohee tolong segera kabari aku”ucap Kyuhyun yang langsung membuyarkan lamunanku.

“Ah, ne. Aku akan mengabarimu oppa. Apakah Soohee mau cuci darah lagi setelah kau rayu?”tanyaku dengan mata sembab karena banyak orang berdatangan dan tak satu pun dari mereka yang berhasil merayu Soohee.

“Mianhae, aku tak berhasil membujuknya. Aku permisi dulu.” Aku hanya sanggup menangis meratapi apa yang terjadi pada kembaranku itu. Apa yang dipikirkannya saat ini pun aku belum terlalu paham.

Hingga akhirnya aku berusaha menghubungi Ryeowook. Hanya dialah yang bisa meluluhkan hati Soohee. Sekeras apapun seorang Soohee dan Sohee, mereka hanya akan tunduk pada 1 orang namja yang sama. Yaitu Kim Ryeowook.

TUUT… TUUT… TUUT… “Yeoboseo? Ryeowook-ah, bisakah kita bertemu sebentar? Ne, di kafe biasanya ya. Hmm? Jam 6 sore? Baiklah, aku akan kesana. Gomawo.” Inilah kesempatanku untuk menyadarkan Ryeowook. Demi Soohee, aku akan berjuang. Aku bersumpah Soohee-ah, aku bersumpah!.

***

“Woppa, mianhae”ucapku sambil menggenggam erat tangan Ryeowook yang kini tercenung memikirkan kejadian di rumah sakit beberapa hari yang lalu.

“Ha? Ne, arraseo. Aku bisa mengerti perasaanmu”jawab Ryeowook masih dengan padangan yang terus menatap bunga lotus yang mengapung diatas kolam ikan restoran ini. Ia sudah berhasil kulunakkan setelah 15 menit berbicara dengan nada tinggi padanya.

“Aku tahu jika aku dan Soohee salah karena telah membohongimu, tapi…”

Ia langsung menoleh dan menatap tetap kedalam mataku lalu berkata, “Bisakah kau berhenti membicarakan itu sekali saja?”ucapnya dengan tatapan tajam. Aku hanya bisa menuruti apa yang ia mau saat ini. Hanya untuk kali ini saja, aku mau menurut padanya. Tak lama kemudian, ia segera menyesap habis kopinya dan segera bangkit dari kursi sambil menenteng jaket tebalnya.

“Woppa mau kemana? Duduklah dulu, aku belum selesai bicara”ucapku sambil menggenggam erat pergelangan tangannya, bermaksud untuk mencegahnya pergi.

“Aku mau pergi, ada urusan. Permisi.” Dengan sekali sentakan, tangannku berhasil ia usir dari pergelangan tangannya.

Aku yang merasa mengemban amanah dari Soohee, segera bangkit dan berteriak “Woppa. Soohee sedang sekarat di rumah sakit. Cepatlah kau lihat dirinya, sebelum kau menyesal dikemudian hari.” Aku tak peduli jika orang-orang yang ada disekitar kami menatap bengis karena merasa terganggu.

Ryeowook akhirnya diam dan berbalik badan. “Antarkan aku ketempat Soohee sekarang. Aku ingin menjaganya beberapa hari saja”

“Waktumu hanya 10 hari, Woppa. Usahakan untuk membuat adikku bahagia sebelum ia benar-benar pergi”ucapku sambil menangis. Ia merengkuhku dalam pelukan yang memberiku isyarat aku-minta-maaf-sebesar-besarnya-atas-keegoisanku-selama-ini.

***

            Kulihat Soohee sedang bergumam menyanyikan There Was Nothing. Mengingat judul lagunya sering membuatku miris sendiri. Lagu itu menceritakan kehampaan dan rasa tak ikhlas karena ditinggal pergi oleh orang yang ia sayangi. “Soohee-ah, aku punya tamu untukmu”ucapku sambil mengetuk ranjang Soohee.

Ia menatapku dan berusaha menyembunyikan air matanya, “Siapa lagi nunna? Jika ia kau suruh untuk merayuku cuci darah aku tak mau.”

“Annyeong Soohee-ah, sudah merasa baikan?”tanya Ryeowook yang menyembul dari balik pintu sambil membawa mawar putih.

Soohee tercengang dan diam untuk beberapa saat, “Oppa, benarkah itu dirimu?”tanyanya dengan mata berkaca.

Ryeowook tak menjawab dan bergerak semakin dekat kearah Soohee, “Masa kau sudah lupa padaku?”ucapnya sambil menghapus air mata yang mulai berjatuhan di pipi Soohee. Ia mengisyaratkanku untuk keluar kamar dulu dan aku menurut. Meski ada rasa cemburu yang berdesir di dadaku, sebisa mungkin aku menahannya. Demi saudaraku, demi Jung Soohee yang sudah terlalu banyak mengalah denganku…

[ Author Pov ]

To know that I can’t do a thing
And deep down in my heart

Soohee terus terjaga sambil menatap Ryeowook yang menggenggam tangannya sambil tertidur pulas. Sebenarnya ia mengantuk, namun ia tahu jika ia terpejam sekarang, ia tak mungkin bangun lagi. Untuk selamanya. Oleh karena itu ia berusaha untuk terjaga dan terus menatap namja yang  sedang tertidur pulas. “Sekarang sudah jam 6 pagi, ya. Total 8 jam aku terjaga sejak jam 10 malam. Tuhan, berikan aku kekuatan sedikit lagi hingga matahari terbit nanti”doa Soohee dalam hati. Jemarinya mulai terasa usil untuk membelai kepalanya perlahan. Dengan pasti ia membelai kepala namja itu dengan penuh kasih sayang.

“Tuhan, aku sudah siap jika detak jantungku kau ambil. Aku sudah bisa menerima kenyataan dan mengikhlaskannya”bisik Sooheee pelan-pelan sambil terus membelai kepala Ryeowook.

“Soohee-ah, kenapa tidak tidur? Matamu sudah berair seperti itu”ucap Ryeowook sambil menatap Soohee sedih. Meski ia tahu yang sedang sakit bukanlah Sohee, entah kenapa ia tetap ingin menjaga Soohee.

“Baiklah aku akan tidur sekarang. Oppa jangan mencariku lagi, ya. Sampai jumpa oppa.”

Dengan perasaan ikhlas, akhirnya Soohee menutup matanya perlahan-lahan. Menghilangkan segala beban. Menghilangkan segala amarah, tangis, dan segala rindu yang menggebu pada orang-orang yang belum sempat ia temui.

Somehow I just know
That no matter what
I’ll always love you

Detik berikutnya, mesin pembaca detak jantung melengking panjang dan tak mau berhenti. Jung Soohee pun resmi dinyatakan meninggal pada tanggal 29 Februari 2013.

[ Epilog ]

Sohee yang sudah mengenakan gaun putih panjang lengkap dengan karangan bunga mawar putih berjalan menuju altar. Disana ia bisa melihat orang yang beberapa menit lagi akan menjadi suaminya. Tak lain dan tak bukan ialah Kim Ryeowook. Sebentar lagi marganya pun akan berubah menjadi Kim, bukan lagi Jung. Ia melihat kesebelah kanan, disana ada ibunya yang sedang menatapnya haru. Disamping ibunya, ia juga melihat calon mertuanya yang menatapnya tak kalah haru. Hatinya kembali dilusupi rasa sedih dan bersalah. Pikirannya kembali teringat pada Jung Soohee yang telah pergi 30 hari yang lalu.

Namun sebisa mungkin ia tetap fokus hingga benar-benar sampai di altar gereja. Ryeowook menggenggam tangan kanan Sohee yang tak menggenggam karangan bunga. Ia menatap dirinya dengan tatapan bahagia. Namun masih ia lihat tatapan kesedihan mendalam tentang kepergian Soohee. Dihadapan sang pastur dan puluhan undangan, mereka saling menatap dan mengucapkan janji suci.

“Aku menerima Kim Ryeowook sebagai suamiku.”

“Aku menerima Jung Sohee sebagai istriku.”

Sohee terus menatap Ryeowook dan berkata, “Kami akan selamanya mencintai”, “dan menghormati satu sama lain”sambung Ryeowook akan ucapan Sohee barusan.

“Hingga hari dimana hidup kami berakhir”ucap Sohee yang mulai merasa ada Soohee diantara dirinya dan Ryeowook. “Kami akan bersama selamanya”sambung Ryeowook yang juga merasakan kehadiran Soohee.

“Aku bersumpah”ucap mereka bersamaan.

Seketika para undangan langsung bertepuk tangan dengan meriah. Mereka saling memasangkan cincin dijari manis masing-masing. Lalu menit berikutnya, Ryeowook mengecup hangat dahi Sohee yang kini sudah menitikkan air mata haru dan sedih. Sementara Soohee yang menyaksikan itu hanya tersenyum dan perlahan-lahan hilang menjadi butiran debu yang bersinar ketika terkena cahaya matahari.

***

“Kadonya benar-benar menggunung dan menghabiskan seperempat kamar ini sendiri”ucap Ryeowook sambil melihat gundukan kado pernikahannya dengan Sohee yang tak terhitung jumlahnya karena ia terlalu malas untuk menghitungnya.

“Iya, dan kertas kadonya nyaris sama semua”balas Sohee yang kini berjongkok mengaduk-aduk gundukan kado.

“Kau aduklah kado-kado itu sepuasmu. Aku mau mandi dulu”ucapnya sambil mengelus rambut Sohee sebentar sebelum ia benar-benar masuk untuk mandi.

Pandangan Sohee berhenti pada sebuah buket berisikan bunga Lili Putih favoritnya. Tangannya langsung meraba bunga itu dengan lembut dan menciuminya sesekali. Tiba-tiba, ada sebuah amplop biru langit yang terjatuh dari buket bunga. Mirip seperti milik Soohee. Bahkan baunya pun sama, batin Sohee dalam hati. Ia melongok sebentar ke pintu kamar mandi, mana tahu Ryeowook sudah selesai mandi dan memaksanya untuk berbagi mengintip isi kertas tersebut.

Heaven, 1st of April 2013

Annyeong nunna-ku tersayang, Jung Sohee^^ Kulihat kau begitu bahagia akhirnya bisa bersatu dengan Ryeowook-ah^^ Nunna, maafkan aku karena tidak bisa datang ke hari pernikahanmu. Tuhan lebih dulu mengambil nyawaku ketimbang mengizinkanku melihatmu dan Ryeowook-ah berdiri di altar melangsungkan janji suci. Tolong jaga Ryeowook-ah baik-baik ya, nunna^^ Aku akan menghantui nunna jika nunna tidak mengurusnya dengan baik, kkk~ Semoga hanya Tuhan dan kematian lah yang dapat memisahkan kalian berdua, amin^^

Nb : kutunggu Ryeohee kecilnya! aku mengawasi kalian dari sini^^

JSH

Mata Sohee langsung menjelajah keseluruh sudut ruangan. Mana kala ia bisa melihat arwah saudara kembarnya yang telah pergi itu. Ryeowook sendiri yang baru saja keluar kamar mandi langsung bingung melihat tingkah aneh istrinya itu. “Mencari apa chagiya?”tanya Ryeowook yang mulai jahil memanggil istrinya itu dengan sebutan sayang.

“Isshh, kau ini baru selesai mandi saja sudah seperti itu”seru Sohee sambil menghampiri Ryeowook yang masih mengusap-usap rambutnya yang basah.

“Waeyo? Memangnya aku salah?”ucap Ryeowook sambil bergelayut manja dan mengalungkan keduanya lengannya ke leher Sohee.

“Kau berat sekali”ucapnya sambil berusaha mengusir tangan nampyeon-nya yang mulai bertingah seperti anak-anak itu.

“Kertas apa itu? Boleh kubac..”sebelum Ryeowook selesai mengucapkannya, Sohee sudah lebih dulu menarik dan menyembunyikan surat itu kedalam saku piyamanya.

“Tak boleh. Surat ini ditujukan padaku kok, bukan pada oppa”ucap Sohee sambil mengusir tangan Ryeowook yang kian lama kian membebani lehernya.

Ryeowook hanya manyun dan naik keatas tempat tidur, lalu diam dibalik selimut yang lama-lama mendengkur juga. Dasar namja aneh, batin Sohee dalam hati. Ia berjalan menuju jendela dan menyibak kordennya. Terima kasih Soohee-ah. Maafkan nunna-mu yang selama ini bersikap kasar dan egois padamu. Nunna berjanji akan melaksanakan permintaanmu sebaik mungkin! Batin Sohee sambil tersenyum dan menutup korden kembali.***

contact : @YesungAREA_

About superjuniorAREA

WE ARE INTERNATIONAL FANBASE DEDICATED TO SUPER JUNIOR ^^ UPDATE THE LATEST NEWS FROM OUR SUPERMAN ~~ SUPPORT US HERE ~~

Posted on December 24, 2012, in FanFiction and tagged . Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. ade puspita dewi

    Omo .. endingnya bikin aku nangis min ..
    jadi bikin galau deh haha ..
    tapi ada yang bikin aku bingung nih,
    woppa itu marah karna mereka tuker kehidupan atau dia tau yg seharusnya ada di sisi dia itu soohee bukan sohe?
    soalnya gak dijelasin , (:

  2. dear ade puspita dewi, sebelumnya gomawo udah baca salah satu karya gajeku ini🙂 dicerita ini, woppa itu marah tanpa alasan. disatu sisi dia seneng karena yang sakit bukan sohee, tapi disisi lain dia juga ngerasa kesel karena sohee & soohee udah ngerencanain tukeran tempat itu^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: