FanFiction – Neomu Saranghaeyo


Judul              : Neomu Saranghaeyo
Author            : min Sooyeon ( @firdaa_ningrum )
Type               : Part 1-5
Genre             : Romance, No Yadong!
Tokoh             : Kwon Young Hae ( Younghae ), Kim Jongwoon ( Yesung ), Lee Donghae ( Donghae )

 

neomo saranghaeyo

 

Annyeonghaseyo chingudeul! Ini adalah salah satu Fan Fiction yang murni dari kerja keras otak sendiri. No Bashing, No Copas ya! Eh, satu lagi. Don’t be silent reader ya! Komentar kalian benar-benar kutunggu untuk bahan evaluasi di Fan Fiction selanjutnya. Mianhae kalo ceritanya jelek. Kamsa^^

 

Part 1

[ Author Pov ]

“Ya! Kwon Young Hae! Mau sampai kapan kau akan berbalut selimut, hah! Bangunlah dan lihat sekarang sudah jam berapa!”seru eomma Kwon Young Hae yang sibuk membangunkan putri tengahnya yang suka tidur itu.

“Eomma lihat jam dulu sebelum membangunkanku. Lihat, hari masih gelap bukan?”ucap Younghae dengan mata terpejam dan menuding-nuding layar Galaxy S3 miliknya, “Sudah lah aku tidur lagi”ucap Younghae sambil merapatkan kembali selimutnya dan melupakan eommanya.

Eomma Younghae yang sudah kesal langsung turun dan mengambil sebuah baskom yang ada di wastafel bawah tiba-tiba… BYURRR!!! “Huwaaa… Tsunami! Tsunami!”teriak Younghae sambil mengusap-usap wajahnya dan ancang-ancang untuk berlari pergi.

“Eits, mau kemana kau gadis tukang tidur?”ucap eomma Younghae sambil memegangi telinga kanan putrinya itu.

Younghae segera membuka mata perlahan-lahan dan mendapati telinganya hampir dijewer oleh ibunya. “Ishh.. eomma ini”ucapnya sambil mengusir tangan eommanya dari telinga kanannya.

“Chagi, lihatlah sudah jam berapa sekarang.” Ibu Younghae mengarahkan kepala putrinya itu agar menatap jam dinding yang ada didepannya.

“Jam 7… Aigo! Sudah jam 7! Ayo eomma cepat bangunkan Ji Ae dan  Eun Ho oppa! Kalau tidak kita telat semua!”seru Younghae panik sambil menyambar handuk biru mudanya.

“Ji Ae dan Eun Ho sudah berangkat dari tadi. Kau saja yang terlalu pemalas. Tidur pertama bangun terakhir, dasar gadis malas”seru ibu Younghae sambil turun dari tangga.

Diam-diam Younghae menirukan gerakan bibir dan omelan eommanya itu sambil mencium piyama biru mudanya. “Ya! Eomma menyiramku pakai apa!”marah Younghae sebelum ibunya benar-benar lenyap dari pandangannya.

“Hehe, air cucian beras dari pagi. Cepat mandi dan berangkat sekolah!”ucap eommanya sambil berlalu meninggalkan Younghae yang masih menganga mendengar ucapan eommanya barusan. Sesekali diciuminya piyama kesayangannya yang kini bau apek khas beras.

[ Younghae Pov ]

Aku makin kalang kabut ketika jam tanganku sudah menunjukkan jam 07.30 waktu Seoul. Segera kukebut sepeda biru muda-putihku menuju sekolahku. Aku sudah bisa membayangkan wajah mendidih guru matematikaku ketika aku baru datang hampir jam 08.00 pagi. Mau bagaimana lagi? Motorku sudah dibawa pergi oleh oppaku ke kampusnya.

Jalanan Seoul masih agak becek efek hujan semalaman. Hal itu lah yang membuatku susah dibangunkan. Hawa saat hujan jauh lebih enak untuk tidur ketimbang saat musim salju. Namun aku heran, kenapa semua keluargaku mengataiku tidak normal? Apalagi dalam urusan tidur. Aku sanggup tidur seperti bayi, tapi akan menguap seperti kuda nil jika tidur seperti orang seumuranku.

Kulirik lagi jam tanganku untuk kedua kalinya dalam perjalanan ke sekolah. “Omoo!!! Kenapa sudah jam segini!”ucapku sambil tancap pedal menuju sekolah. Aku tak perduli orang-orang sipit itu akan berkata, “Dasar, anak belok gila” Didepan ada beberapa kubangan air yang menurutku… cukup enak untuk diterjang dengan kecepatan tinggi. Kan jadi seperti iklan-iklan di TV yang.. syash! Pasti seru!

Kutarik nafas dalam-dalam sebelum melaksanakan adegan iklan tergila yang pernah kupikirkan. Kugenjot sepedaku dengan kecepatan makin tinggi, ketika di turunan, yuhuuu!!! Rasanya seperti mau terbang tinggi dan syash!! Air dikubangan menyembur kemana-mana. “Surga duniaa!! Aku mau sekali lagi!”

“Hoy kau!”terdengar suara aneh dari belakangku. Namun aku berusaha tak menggubrisnya dan terus melajukan sepedaku.

“Hoy kau! Ya, kau! Yeoja tengil berseragam!.” Tengil? Kurang ajar benar ahjuma satu ini. Jika ia memang kukenal, oke tak apa. Ia boleh memanggilku kata itu beberapa kali lagi.

Kurem mendadak sepedaku sambil berteriak, “Hei ahjuma! Apa masalahmu denganku!”kubalikkan badanku kebelakang untuk menatap ahjuma kurang ajar itu.

Betapa terkejutnya aku ketika mendapati seorang namja menggunakan celana jeans, sepatu merah, kaos garis-garis yang dipadukan dengan semi jas warna hitam tengah menatapku dengan garang. Apa mungkin ia terciprati air kubangan tadi? “Ada keperluan apa ya?”tanyaku dengan muka polos.

“Ppabo yeoja! Kau mencipratiku dengan air kubangan itu dan lihatah! Bajuku menjadi basah dan kotor gara-gara tingkah bodohmu itu!”marahnya bertubi-tubi.

“Mianhae aku hanya…”

“Mianhae, mianhae! Apa maumu sampai-sampai kau berani mengatakan mianhae padaku! Jam 8 nanti aku ada acara! Jika bajuku kotor begini aku bisa membatalkan acara itu!”sembur namja itu sekali lagi tepat didepan wajahku.

“Hah? Jam 8? Sekarang jam berapa?”

Masih dengan muka garang, namja itu melirik jam tangannya yang terselampirkan di tangan kirinya, “Jam 8 kurang 10 menit!”

“Kurang 10 menit! Aku harus pergi dulu! Dah namja bodoh!”teriakku sambil mengebut sepedaku menuju arah sekolah. Samar-samar kudengar teriakan marah darinya. Ah, tak tahu lagi aku. Yang jelas aku sudah meminta maaf padanya!.

***

“Annyeonghaseyo”

“Ya! Younghae! Bagaimana gurumu tadi disekolah saat mengetahui dirimu telat?”terjang eommaku ketika aku baru saja menaruh sepatu didalam rak sepatu.

“Yah, hanya suruh mengerjakan soal bonus 3 halaman soal matematika. Eomma, mana Eun Ho oppa! Dia harus mengerjakan semua soal ini!”marahku sambil mencari-cari oppaku yang menyebalkan itu keseluruh sudut ruangan.

“Dia belum pulang. Katanya mau pergi dengan Yoogeun eonni, nanti malam baru pulang”ucap ibuku sambil memfokuskan pandangan pada TV yang masih menyala.

“Yasudah kalau begitu. Eomma, Ji Ae mana?”ucapku sambil menuang air putih kedalam gelas tinggi dan segera meneguknya

“Ji Ae? Pulang sekolah dia hanya berganti baju dan pergi lagi dengan anak tetangga”

“Hah? Anak yang mana? Namja atau yeoja?”

“Isshh.. Kau ini. Ji Ae masih normal. Tentu saja namja. Itu lho anak tampan dari keluarga Lee”

“Oh ya? Rupanya seleranya dengan anak tetangga. Siapa namanya eomma?”

“Masa kau belum tahu? Mereka sudah sering jalan berdua. Namanya Lee Seung Hee”ucap eommaku masih terfokus pada keripik singkong yang ada didalam toples.

Aku yang tergoda, segera merampas toples itu dari dekapan eommaku dan memakannya dengan liar. Eommaku yang kesal akan tingkahku, hanya menepuk lengan kiriku dengan pelan. Kami berdua sama-sama terfokus pada drama yang sedang terpampang dilayar TV saat ini.

“Younghae”

“Ne?”balasku dengan mulut penuh keripik.

“Kapan kau punya pacar?”

Pertanyaan aneh eommaku barusan benar-benar membuatku terkejut dan langsung tersedak. Eommaku yang melihat adegan dramaku barusan langsung menyodorkanku segelas air putih, “Gwaenchana, Younghae?”tanya ibuku setelah pasukan keripik yang menyangkut di kerongkonganku turun terbawa air putih.

“Ya! Eomma hampir membuatku mati! Kenapa eomma mendadak tanya begitu?”

“Bagaimana aku tidak bertanya hal itu padamu? Lihatlah oppa dan saeng mu. Mereka sudah mempunyai teman kencan. Kenapa kau belum juga punya teman kencan”protes ibuku sambil memukuli pahaku dengan pelan.

“Mana kutahu soal itu. Aku mau tidur dulu, ne? Aku harus mempersiapkan otak untuk tugas hukuman matematika itu”ucapku sambil menyambar tasku. Tak perduli eommaku sudah menjawab ya atau tidak.

Kutatap diriku didepan kaca yang menjadi salah satu pintu lemariku. Aku sempat berputar beberapa kali dengan pandangan tetap terfokuskan pada kaca. Wajahku tidak jelek kok. Masuk taraf cantik malah. Tubuhku juga bukan kurus karena kurang gizi ataupun cacingan. Tubuku ramping, tinggi dan berisi kok. Untuk urusan otak, aku selalu masuk 5 besar dikelas. Lantas apa yang kurang dariku? “Ah, kenapa aku jadi memikirkan ucapan eomma barusan”ucapku sambil menepuk-nepuk pipiku agar bangun dari pikiranku barusan.

[ Yesung Pov ]

Sial! Gara-gara gadis itu bandku jadi tidak bisa manggung! Bagaimana mungkin bandku manggung tanpa vocalis? Andwae! Itu tak mungkin terjadi! Bandku, ralat, band kami bukanlah band yang mengisi acara di Opera House yang hanya musik atau malah seriosa!

“Sudahlah hyung, maafkan saja yeoja tadi siang itu”ucap Ryeowook sambil tersenyum dan memasang puppy eyes kearahku.

“Maafkan? Hanya orang bodoh yang mau memaafkannya!”seruku makin berapi-api sementara Ryeowook mengerdik ngeri menatapku yang semakin liar.

“Dari tadi kau hanya uring-uringan saja. Cobalah cari identitasnya. Baru kau marahi dia sepuasmu. Bukan kami yang harus menanggung amarahmu yang membahana itu”ucap Donghae yang asyik dengan stik drum miliknya.

Kyuhyun yang dari tadi duduk didepan piano dan beberapa partitur lagu yang berserakan mulai buka suara, “Tidak bisa! Jangan main kekerasan! Dia itu tetap saja yeoja! Sekalipun ia bersalah, jangan perlakukan ia dengan kasar!”ucapnya penuh kewibawaan.

“Aku setuju denganmu, Kyuhyun-ah”ucap Sungmin yang masih memeluk gitar klasiknya. Ryeowook yang ada disampingku kini ikut mengangguk-angguk penuh arti.

“Ah sudahlah! Aku muak dengan semua ini! Gadis tadi menggunakan seragam yang sama seperti sekolah kita. Sungmin, Donghae, Ryeowook, Kyuhyun, seberapa banyak kenalanmu di kalangan perempuan?”

Mereka berempat langsung bertatapan satu sama lain lalu berganti menatap kearahku. Dan saling menunjuk satu sama lain dengan dagu untuk giliran yang menjawab pertanyaanku barusan.

“Aku hanya mengenal gadis dengan tulang selangka yang indah”ucap Donghae sambil ganti menatap Sungmin yang ada disampingnya.

“Aku tahu semua perempuan disekolah. Tapi aku hanya bisa menunjukkannya jika kau ada namanya”ucap Sungmin dengan nada pasrah dan ganti menatap Ryeowook.

“Kenalan teman perempuanku benar-benar terbatas hyung. Aku hanya kenal beberapa kakak kelas dan teman-teman sekelasku”ucap Ryeowook sambil memelas padaku.

“Sepertinya aku tahu gadis itu. Kalau tidak salah, dia yang sering mengisi artikel majalah dinding dan majalah sekolah bukan?”ucap Kyuhyun sambil berpindah keatas sofa empuk di kamarku.

Semuanya langsung ganti menatap Kyuhyun dengan penuh harapan, termasuk aku. Harapanku hanya ingin memberi gadis itu pelajaran perihal batal konser itu. “Tapi aku tak punya fotonya.” Semua harapanku untuk mengetahui siapa gadis itu kini sirna sudah. “Besok saja kita lihat di majalah dinding! Namanya pasti tertampang besar-besaran disana!”ucap Kyuhyun dengan semangat. Saat bertemu denganku, kau akan kubuat kapok!

 

Part 2

[ Author Pov ]

Koridor utama mulai ramai dan penuh jeritan-jeritan para siswi dari seluruh penjuru kelas. Ini memang sudah jam pulang, namun tidak biasanya juga banyak siswi yang berteria histeris seperti saat ini. Sementara semua siswi berhamburan keluar kelas menuju koridor utama, Younghae harus menyelesaikan tugas mulia nan melelahkannya itu. Apalagi jika bukan piket? Teman se-per-piketan-nya sudah kabur menuju koridor utama. Hanya tinggal dirinya dan Hyuna lah yang tersisa dikelas ini.

“Aigo! Kelas sebesar ini kenapa harus kita berdua saja yang membersihkannya!”protes Younghae dengan kesal.

“Yasudah kita berhenti saja. Buktinya yang lain malah pergi dan tidak melanjutkan piket”sambung Hyuna yang tak kalah kesalnya dengan Younghae.

Younghae mengangkat ember berisi air kental menjijikkan hasil mengelap lantai tadi, “Kubuang disini ya airnya!”seru Younghae pada Hyuna yang kini asyik dengan iPod-nya. Gadis yang diajaknya bicara hanya manggut-manggut tanda setuju.

***

            Dijeriti oleh puluhan bahkan ratusan siswi itu tidak enak. Itulah hal pertama yang terlintas didalam kepala Yesung saat ini. Ia dan keempat teman se-per-nasib-an-nya keluar dari koridor utama dan berjalan-jalan menuju taman disamping gedung sekolah. Taman itu cukup sepi, karena tidak banyak yang berminat masuk kedalam tempat cukup sempit seperti taman kecil itu.

“Aku lelah diteriaki oleh gadis-gadis kegirangan itu”ucap Yesung pada keempat dongaseng-nya. Mereka berempat langsung duduk mengapit Yesung.

“Resiko orang terkenal”ucap Kyuhyun masih dengan tatapan fokus kearah buku tipis yang dari tadi ia pegang.

“Setuju. Kenapa tiap aku berjalan gadis-gadis itu berebut hanya untuk mencubiti pipiku? Apa aku terlalu tembam?”ucap Ryeowook sambil memegang-megang kedua pipinya.

“Kenapa tiap aku berjalan banyak yang mengajak berfoto denganku?”tanya Sungmin sambil menerawang menatap tembok lumutan yang ada didepannya.

“Gadis-gadis selalu meneror nomor ponselku. Mereka sering menelponku tengah malam atau mengirimiku pesan singkat yang isinya hanya bertuliskan ‘saranghaeyo’ Gara-gara pesan itu pula aku diusir dari kelas oleh guru Fisika”keluh Donghae sambil menatap Kyuhyun, Ryeowook, Yesung dan Sungmin berurutan.

“Kalau yang itu memang sudah nasibmu”ucap Yesung polos sambil tertawa.  Donghae hanya diam dan mencibir Yesung dalam hati. “Jika itu nasibku, lantas bagaimana nasibmu?.”

Baru sedetik yang lalu Donghae bergumam demikian, tiba-tiba ia merasakan sedikit cipratan air dari arah kanannya. Ketika Donghae menoleh kekanan, ia mendapati rambut Yesung basah kuyup dan kemeja yang berteteskan butiran air. “Huahahahahaha!!!!”seketika tawa semuanya meledak ketika melihat Yesung masih terdiam dengan mata terpejam dan menahan amarah. Ia segera menatap keatas dan berteriak lantang, “Hei kau! Jangan berpindah dari sana! Aku mau membuat perhitungan denganmu!.” Namun gadis dijendela bersama embernya tadi sudah lenyap entah kemana. Seketika itu pula Yesung lenyap dari hadapan keempat dongsaeng-nya dengan rambut basah kuyup gara-gara air pel hanya untuk mengejar gadis yang menyiramnya barusan.

[ Younghae Pov ]

“Ya! Ya! Younghae-ya! Jangan geret aku semaumu begitu! Aku juga manusia!”protes Hyuna ketika kami sudah berada didalam kantin.

Aku tak menghiraukan omongan Hyuna barusan. Aku langsung menuju ke meja kantin dan memesan 1 cup Orange Punch. Berharap benda cair oranye itu bisa menormalkan kembali detak jantungku. “Kau ini. Kenapa terlihat seperti orang aneh begitu?”tanya Hyuna sambil agak berjinjit ke telingaku.

“Tadi saat aku menumpahkan air pel keluar jendela, ternyata air itu menyiram seorang namja!”seruku agak heboh karena rasa takutku makin tidak karuwan.

“Ha? Kau harus diam-diam saja Younghae-ya! Pasti namja itu sekarang sedang mencarimu keseluruh sudut sekolah!”seru Hyuna yang menakut-nakuti dengan ancaman konyolnya itu.

Aku hanya menelan air ludah saking takutnya, “Ahaha, hal itu tak mungkin terjadi. Dia tak mungkin tau…”

BYURRR!!! Aku baru saja menabrak dada seseorang yang kurasa dia adalah seorang namja. Dan parahnya, aku malah menumpahkan Orange Punch yang baru kusedot sekali itu tepat mengenai kemeja putih namja itu.

“Mianhae oppa, mianhae”ucapku sambil terus menundukkan kepala tanpa berani menatap wajah garang namja itu. Karena ia tak segera merespon, kupikir cepat-cepat kabur adalah hal terbaik yang harus kulakukan saat ini.

“Mau kemana kau, yeoja tengil”ucapnya sambil menggenggam kuat pergelangan tangan kananku.

Nada suara dan kalimat “Tengil” nya itu benar-benar tak asing di telingaku. Ya, siapa lagi jika bukan ahjuma yang terkena cipratan lumpur dari sepedaku. “Kau yeoja yang kemarin itu kan? Yang menciprati wajahku dengan lumpur dan pergi begitu saja”ucapnya dengan nada penuh perhitungan. Aku hanya terus menunduk dan mengangguk lemah menanggapi ucapan namja tersebut.

“Sekarang ikut aku!”serunya sambil menggeretku pergi keluar kantin. Puluhan pasang mata menatap aku dan namja itu bergantian dengan tatapan ingin tahu. Ternyata dibelakangku juga ada 4 namja lagi yang muka-mukanya seperti tak asing bagiku.

“Hyuna-ya! Selamatkan aku”ucapku tanpa suara pada Hyuna yang ada dibelakang 4 namja itu. Hyuna hanya mengangguk paham dan membiarkanku dibawa pergi oleh kelima namja yang aku tak tahu asal usul mereka.

[ Yesung Pov ]

Kugeret yeoja yang pernah menciprati wajahku dengan air lumpur itu ketempat dimana ia menumpahkan air pel tepat diatas kepalaku. Aku harus membuat perhitungan dengannya. Bagaimana tidak? 3 kali sudah aku kena sial gara-gara yeoja satu ini. Pertama terciprati air lumpur lalu batal manggung dan dimarahi produser, kedua ditumpahi air pel sampai bau karbolnya melekat di rambutku, terakhir ia menumpahkan Orange Punch miliknya tepat di seragam sekolahku.

“Sekarang kau tak bisa kemana-mana lagi yeoja tengil! Aku mau membuat perhitungan denganmu!”seruku sambil memepetkan tubuh yeoja itu ke tembok berlumut.

“Aku sudah meminta maaf padamu”berontak yeoja itu.

“Minta maaf? Kau pikir itu cukup?”

“Tuhan saja dimintai maaf mau, kenapa kau tidak?”protes yeoja itu.

Saking kesalnya, kupegang kedua pipi tembamnya dan kutatap dalam-dalam mata hitamnya itu. Amarahku benar-benar sudah sampai dipuncaknya. Yeoja ppabo ini menyebalkan. Ya, hal itulah yang pertama kali terlintas didalam kepalaku. Untung saja dia yeoja. Jika dia namja? Sudah pasti akan kuhajar habis dirinya. “Kau harus ganti rugi”ucapku dengan nada menahan amarah.

“Hyung sudahlah, dia itu yeoja bukan namja”ucap Donghae yang mulai tidak tahan melihat aksiku barusan.

“Iya hyung, kasihanilah dia”ucap Sungmin sambil menatapku dengan puppy eyes miliknya.

“Diam! Semuanya diam! Ini hanyalah urusanku dengan yeoja ppabo satu ini!”seruku seraya membuang energi kemarahanku yang mulai meluap-luap. Seketika semuanya diam seribu bahasa. Tak ada satupun yang berani menentangku ketika aku sudah marah besar.

“Jangan marahi mereka juga! Ini hanya urusanku denganmu! Oke, aku mau membayar semua kerugianmu! Sekarang katakan apa yang harus kulakukan agar kau berhenti menjadi liar!”seru yeoja itu dengan berani sambil menatap keempat dongsaengku yang ada di kirinya. Aku yakin, mereka berempat langsung menatap yeoja ini dengan tatapan terima-kasih-atas-bantuanmu-kami-berhutang-nyawa-padamu.

“Cepat ambil tasmu dan turun ke parkiran mobil. Lalu ikutlah denganku”seruku sambil berjalan pergi dan memutar-mutar kunci mobil. Rencana licik mulai terlintas dikepalaku. Yah, itung-itung ganti rugi dan balas dendam tentunya.

[ Author Pov ]

“Hah? Membersihkan, ruangan ini? Sendirian?”tanya Younghae terbata-bata ketika ia disuruh oleh Yesung membersihkan ruangan latihan band-nya.

“Iya ppabo. Cepat bersihkan! Setengah jam lagi aku kembali, pokoknya ruangan ini harus sudah bersih dan rapi. Ne?”tanya Yesung sambil membungkukkan tubuh kedepan wajah Younghae.

Dengan kesal, Younghae membersihkan ruangan itu sendirian. Ia harus berjuang untuk mengangkat satu persatu alat musik yang ada didalamnya, mengelap tuts keyboard dan piano, berhati-hati membersihkan debu yang ada di bass dan gitar klasik, pokoknya semua benda yang ada disini harus Younghae bersihkan jika ia tidak mau menanggung kerugian yang diterima Yesung dan keempat kroco-kroconya.

“Hyung, kau tak merasa kasian kah pada yeoja itu?”tanya Ryeowook sambil menyedot minumannya yang baru ia beli dari toko diseberang tempat latihan band mereka.

“Ani. Aku tak merasa kasihan sedikit pun pada yeoja itu. Karenanya, rambutku jadi berbau air pel”seru Yesung sudah mulai santai.

“Akan kubelikan dia segelas minuman. Kasihan dia, sudah berusaha bersih-bersih untuk kita”ucap Donghae sambil melangkah pergi ke meja kasir. Sebenarnya Yesung ingin mencegahnya, namun Donghae sudah berjalan terlalu cepat ketimbang dirinya.

***

            Donghae sudah berjalan menyebrangi jalan menuju tempat latihan. Kedua tangannya sudah menenteng gelas plastik berisi minuman dingin yang ia beli diseberang sana. Saat ia melepas sepatu, betapa terkejutnya ia ketika mendapati ruangan latihan mereka benar-benar bersih tanpa debu. Ia juga melihat Younghae sedang menutupi hidungnya sambil membersihkan atas lemari. Ia membawa kemoceng bulu coklat sambil berjinjit-jinjit.

“Sini, biar kubantu”ucap Donghae setelah meletakkan gelas minuman tadi diatas meja.

Younghae langsung menggeleng dan mencegah tangan Donghae meraih kemoceng yang ada ditangan kanannya, “Ah, ani. Aku bisa sendiri. Nanti temanmu itu marah jika kau membantuku disini.”

“Baiklah jika kau tidak mau kubantu. Ini, ucapan terima kasih dari kami.” Diberikannya segelas plastik minuman kepada Younghae.

“Ah, tidak perlu repot-repot. Kamsahamnida”ucap Younghae sambil menyedot minuman itu. Donghae yang disebelahnya, sempat menatap Younghae sebentar lalu kembali menyedot minuman miliknya.

“Jangan formal begitu. Aku masih kelas 2 SMA”protes Donghae ketika ia menyadari ada kalimat ‘kamsahamnida’ didalam ucapan Younghae barusan.

“Oh ya? Sama sepertiku dong”ucap Younghae santai sambil menyedot lagi minuman yang dibelikan oleh Donghae tadi.

“Eh iya. Perkenalkan aku…”ucapan Donghae terputus ketika melihat Younghae yang menggerakkan telapak tangannya kekanan dan kekiri beberapa kali. “Araseo. Kemejamu bukannya ada namanya?”

Donghae melirik kemejanya sebentar lalu kembali menatap Younghae dengan nyengiran lebar. “Haha, kau pintar juga ternyata”canda Donghae.

“Ne? Gomawo. Aku hanya heran kenapa temanmu yang tempramental itu mengatai aku ppabo”balas Younghae sambil menyindir Yesung. Ya, siapa lagi yang ia maksud jika bukan namja satu itu.

“Aku dengar ucapanmu itu”ucap Yesung sambil berdeham diambang pintu.

Donghae yang hanya mendengarkan curhatan Younghae saja tersentak kaget ketika melihat kehadiran Yesung diambang pintu. Kenapa Younghae tidak?, “Jika sudah dengar, berhentilah mengatai aku ppabo! Dan biarkanlah aku pulang”seru Younghae sambil mengangkat tasnya dan bersiap memakai sepatu biru mudanya. Namun Yesung menggenggam kuat tangan Younghae sambil berkata, “Tunggu disini sampai kami selesai latihan, baru kau boleh pulang.” Terang saja Younghae langsung ingin menghajar namja gila satu ini sekarang juga.

***

“Younghae-ya. Bangunlah”ucap Donghae lembut sambil menepuk lengan Younghae pelan.

Lagi-lagi Younghae mulai ngelindur aneh-aneh dengan berkata, “Masih ada kari didalam panci. Jangan ganggu aku dulu.”

Donghae langsung melongo ketika mendengar ucapan aneh itu meluncur tiba-tiba dari bibir tipis Younghae. Yesung yang melihat hal itu, langsung menuang sedikit air putih keatas sapu tangannya dan memerasnya tepat diatas wajah Younghae. “Aigo! Tsunami sampai mana! Tsunami sampai mana!”seru Younghae sambil mengelap wajahnya. Ia mendapati wajah Donghae yang ada di kanannya dan wajah Yesung yang ada di kirinya.

“Ah, sudahlah. Aku mau pulang”seru Younghae sambil memakai sepatu.

“Kau mau pulang sendirian? Biar kuantar saja ya sampai rumah. Sekarang sudah malam”ucap Donghae sambil berdiri diambang pintu menatap Yesung dan Younghae bergantian.

“Benar tidak apa-apa?”tanya Younghae memastikan. Donghae mengangguk sambil tersenyum menatapnya.

Younghae langsung mengangguk senang dan berjalan semangat menuju mobil sport Donghae yang diparkir didekat mobil Yesung. Yesung yang melihat hal itu hanya mendengus kesal dan menarik kemeja Donghae agar mendekat ke telinganya beberapa senti. “Hat-hati, gadis itu bisa jadi ranjau untukmu”ucap Yesung dengan nada ingin menakut-nakuti Donghae.

Namun Donghae hanya tertawa renyah dan berkata, “Kwiyeopta yeoja. Dia tak akan melakuan hal yang sama padaku.” Yesung mendelik kesal kepada Donghae yang sudah berjalan menjauh dan memunggunginya. Semoga saja Donghae masih hidup dan diberkati oleh Tuhan, doa Yesung dalam hati.

 

Part 3

[ Younghae Pov ]

Malam ini aku pulang diantar Donghae. Meski baru kenal dengannya beberapa jam yang lalu, aku sudah merasa kenal lama dengannya. Ya mungkin karena sifatnya yang halus dan pengertian. Tidak seperti Yesung. Meski namja satu itu kakak kelasku, aku sama sekali tidak mau menghormatinya dengan predikat ‘kakak kelas’ yang baik. Cih, boro-boro bersikap manis padanya, tersenyum padanya pun aku malas.

“Nah, kita berhenti disini saja. Rumahku yang disana itu”ucapku sambil menunjuk rumah berpagar kayu yang dicat putih.

“Kenapa berhenti disini? Biar kuantar sampai depan rumahmu saja”ucap Donghae sambil terus melajukan mobilnya hingga benar-benar berhenti didepan rumahku.

“Aku malah merepotkanmu”ucapku malu-malu pada Donghae. Jujur saja, baru kali ini aku diantar pulang malam-malam oleh seorang namja. Namun saat aku membuka kunci pintu mobil, kulihat wajah Ji Ae, eomma, dan Eun Ho oppa mejeng di jendela ruang tamu berurutan. “Ehm, aku masuk dulu ya. Kamsa, mian merepotkanmu”ucapku pada Donghae sambil menutup pintu mobil sport-nya.

“Younghae-ya! Cepat suruh masuk dulu!.” Kulihat eommaku komat-kamit di jendela sambil menuding-nuding Donghae. Aku hanya membalasnya dengan sebuah pelototan, namun eommaku malah ganti memelototiku lebih mengerikan lagi.

Akhirnya dengan pasrah aku langsung berbicara pada Donghae, “Ayo masuk minum teh dulu. Eommaku sudah memelototiku karena tidak mengajak temanku masuk kedalam dulu.”

“Benar tidak apa-apa?”

“Iya. Ayo turun dan masuklah kedalam dulu”ucapku sambil menarik lengan Donghae masuk kedalam pintu rumah. Sementara 3 hantu yang dari tadi menguping di jendela, kini sudah sibuk menyiapkan segala sesuatunya. Ah, malam ini akan melelahkan.

***

“Annyeonghasimika ahjumeonni”ucap Donghae sambil menunduk saat ia bertemu dengan eomma.

“Ne, annyeonghaseyo. Nugu ya?”

“Lee Donghae imnida.” Kulihat wajah Donghae yang berubah menjadi sok imut ketika menatap Eun Ho oppa.

Aku tahu dia mau pamer wajahnya didepan oppaku. Kasihan Eun Ho oppa. Dia memang tampan. Tapi jika ia berdiri didekat Donghae seperti saat ini, Donghae terlihat seperti rajanya dan ia sebagai pelayannya. “Younghae-ya! Cepat suruh duduk temanmu ini. Kasihan dia!”seru Eun Ho oppa sambil menyentil dahiku sampai merah.

“Ya! Paboya oppa! Jangan menyentil dahiku! Donghae-ah, ayo duduk dulu”ucapku sambil menatap 2 orang berbeda dengan 2 raut wajah yang berbeda pula. Donghae langsung dibawa pergi oleh eommaku masuk kedalam ruang tamu. Sedangkan aku dan Eun Ho oppa hanya saling melemparkan pelototan untuk satu sama lain.

***

“Younghae-ya! Kenapa kau tidak bilang pada eomma jika kau sudah punya namja chingu setampan itu? Badannya benar-benar atletis dan wajahnya pun benar-benar tampan!”protes eommaku panjang lebar setelah Donghae pulang sekitar 30 menit yang lalu.

“Tak kusangka jika Younghae eonni bisa punya namja chingu setampan itu”timpal Ji Ae.

“Kenapa harus bilang-bilang? Toh aku baru kenal dengannya hari ini”ucapku santai sambil memperhatikan cat kuku yang kuwarnai dengan motif Elmo. Tentu saja aku meminta bantuan Ji Ae-ku tersayang untuk menggambarkan Elmo diatas kuku-ku. Dia pandai menggambar bentuk-bentuk lucu yang kusukai.

“Nakal ya kau sekarang! Berani membantah eomma!”seru eommaku sambil memegangi telinga kananku.

“Ya! Ya! Eomma lepaskan! Nanti cat kukunya bergeser!”seruku sambil mengusir tangan eomma menggunakan pundakku.

“Eonni mau bilang apalagi? Tidakah eon lihat tatapan matanya pada eon itu berbeda?”timpal Ji Ae ikut memojokkan diriku.

“Ya jelas berbeda lah. Apalagi tatapannya dengan Eun Ho oppa. Aku kan yeoja, Eun Ho oppa kan namja”bantahku lagi pada Ji Ae. “Aku mau tidur, capek!.” Kutinggalkan 2 orang itu melongo-longo melihat tingkahku barusan. Bagaimana mungkin tatapan Donghae padaku berbeda? Aku dan dirinya baru kenal beberapa jam yang lalu!

[ Yesung Pov ]

Hari ini gadis menyusahkan itu datang lagi ke tempat latihan. Dalam 10 hari saja, gadis itu sudah bisa akrab dengan Kyuhyun, Ryeowook, Sungmin, apalagi Donghae. Malahan dia menjadi guru privat untuk membantu dongsaengku mengerjakan tugas-tugas mereka. Kurasa dirinya memang anak yang pintar. Buktinya dia bisa menjawab soal ini itu dengan mudah. Sementara yang lain duduk melingkar bersama Younghae, aku hanya duduk sendirian diatas kursi kayu lengkap dengan buku pelajaranku sendiri. Mana mungkin aku meminta gadis itu mengajariku? Dia masih kelas XI dan aku sudah kelas XII.

“Yee, tugas-tugasku selesai! Gomawo Younghae-ya!”ucap Ryeowook sambil menutup buku Fisika dan Biologinya yang bisa untuk memukul pencuri sampai mati.

“Haha, cheonma”ucap Younghae sambil tersenyum manis.

“Kau berbakat menjadi guru les, Younghae-ya! Aku mau les tiap hari jika kau gurunya”gurau Sungmin pada Younghae yang ditanggapi dengan tertawaan semuanya.

“Hahaha! Kau ini ada-ada saja! Aku mau jadi dokter saja” katanya, lalu disambung dengan kerjapan mata tidak percaya dari ketiga dongsaeng polosku itu.

Kemana yang satu lagi? Dia masih sibuk mengamati Younghae sambil senyum-senyum sendiri, entah gadis itu menyaadarinya atau tidak. Yang jelas jika sensor kepekaannya masih berfungsi dengan baik tentu saja hal itu akan terasa olehnya. “Sebagai bayarannya, kau boleh request satu lagu pada kami. Terserah lagu apa saja,” ucapan barusan langsung membuat kesadaranku kembali penuh dan menatap ngeri kearah empat dongsaengku. “Oh ya? Baiklah. Lagu One Direction yang Rock Me boleh? Tapi kalian berlima harus menyanyi bersamaan”ucap Younghae dengan senang yang langsung disambut pelongoan meriah dari semuanya. “Seperti boyband, begitu?”tanya Donghae masih melongo tidak percaya. Namun Younghae hanya mengangguk mantap sambil tersenyum manis.

Semuanya langsung mengangguk mantap dan berdiri didepan alat musik masing-masing. “Hyung, kenapa masih disitu? Ayo kita main lagu bahasa Inggris. Lumayan kan untuk belajar?”tanya Sungmin yang sudah selesai menyetemkan gitarnya. Dengan malas-malasan aku berdiri menghampiri mic. Meski dengan kondisi tidak niat, entah kenapa orang-orang selalu bilang jika suaraku bagus. Kutatap buku yang berisi lirik lagunya dan intro pun sudah dimulai.

Kulirik member lain sudah fokus menanti giliran masing-masing. Donghae sudah mengambil nafas untuk menyanyi bagian pertamanya. Kadang aku sering berpikir apakah memainkan drum sambil menyanyi itu mudah?

Do you remember summer ’09?
Wanna go back there every night
Just can’t lie, was the best time of my life

Kini giliran Ryeowook yang mengambil giliran untuk menyanyi. Sejak sebelum menyanyi, dia sudah memberiku kode isyarat agar aku mengambil giliran sehabis dia menyanyi.

Lying on the beach as the sun blew out
Playing this guitar by the fire too loud
Oh my, my, they could never shut us down

I used to think that I was better alone
Why did I ever wanna let you go?
Under the moonlight as we stared at the sea
The words you whispered I will always believe

I want you to rock me, rock me, rock me, yeah
I want you to rock me, rock me, rock me, yeah
I want you to hit the pedal, heavy metal, show me you care
I want you to rock me, rock me, rock me, yeah

Aku sudah merasa bosan dan hal ini hanyalah main-main saja. Pengucapan bahasa Inggrisku tidak sebagus dongsaeng-dongsaengku. Kini giliran Kyuhyun yang mengambil giliran untuk menyanyi.

We were together summer ‘09
Wanna roll back like pressing rewind
You were mine and never say goodbye

“Cukup main-mainnya. Aku mau pulang saja.” Kuangat tasku dan segera berjalan menuju parkiran sepeda. Aku tak perduli teriakan mereka yang memanggil-manggil namaku, dengan atau tanpa hyung.

“Ya! Ppaboya Oppa! Sini kau!.” Suara tinggi barusan berhasil mengusik ketenangan batinku. Dengan bengis kurem sepedaku dan kutatap gadis rambut panjang yang ada dibelakangku bersama sepeda pembawa sialnya bergantian.

“Kenapa kau mengikutiku? Sana pulang saja”

Younghae balas menatapku dengan sadis ketika mendengar kalimat usiranku barusan. Dari semua dongsaeng yang kukenal, baru dialah yang berani menatapku dengan sadis. “Isshh, nappeun namja! Ayo kita ke kafe sebentar. Anggaplah ini sebagai permintaan maafku padamu tentang 3 tragedi itu.”

“Baiklah. Tapi jika kau kekurangan uang aku tak mau menanggung sisanya.” Gadis itu kini mengangguk semangat sambil membentuk simbol O menggunakan tangannya. Tak ada salahnya aku mencoba bicara lama dengannya. Toh aku juga tidak pernah bicara padanya.

[ Author Pov ]

Yesung dan Younghae sampai di sebuah kafe yang baru buka beberapa hari yang lalu. Kafe ini selalu ramai dikunjungi banyak orang, oleh karena itu Younghae penasaran dan mengajak Yesung sebagai temannya. Younghae memang terlihat bahagia, berbeda dengan Yesung yang memasang raut wajah aku-ingin-ditelan-oleh-dunia-sekarang-juga.

“Kenapa kau mengajakku kesini?”tanya Yesung setengah berbisik pada Younghae yang baru saja meletakkan 2 cups kopi dingin diatas meja.

“Kenapa? Tentu saja untuk permintaan maafku padamu”

“Kafe ini milik ayahku, ppaboya yeoja”ucap Yesung sambil agak mendelik kearah Younghae. Lawan bicaranya yang asyik menyedot kopinya langsung melotot ketika mendengar omongan Yesung barusan.

“Benarkah?,” saking kerasnya Yesung sampai harus membekap mulut gadis itu dengan sapu tangannya. Tanpa menunggu keputusan Younghae, Yesung segera menyeretnya keluar sambil berjalan diam-diam. Ia tak mau Younghae menjadi skandal mewah saat dirumah nanti.

***

“Sekarang kita mau kemana?”tanya Yesung pasrah sambil menuntun sepedanya menyusuri keramaian Myeondong. Ia menitipkan minumannya didalam keranjang sepeda Younghae yang menurutnya pembawa sialnya itu.

“Bagaimana jika foto stiker? Aku belum punya fotomu, oppa”

“Kau fansku ya sampai mau meminta fotoku?”katanya sambil menyediliki Younghae dari ujung rambut hingga ujung kuku kaki.

“Aku sudah menyimpan foto Sungmin, Kyuhyun, Ryeowook dan Donghae di handphone-ku. Tinggal foto oppa saja yang belum kupunyai”ucap Younghae sambil menggoyang-goyangkan Galaxy S3 miliknya didepan wajah Yesung.

“Aku tidak mau.” Yesung sudah menolak ajakan Younghae dengan tegas. Namun gadis itu tetap menggeret Yesung kedalam sebuah photo both.

“Apa-apaan kau ini! Sudah kubil….”bibir Yesung langsung dikatupkan oleh Younghae menggunakan tangan kanannya. Sementara tangan kirinya sudah memasukkan sebuah uang logam kedalam mesin photo both itu. “Oppa senyum ya. Pasang wajah terjelek dan teraneh yang pernah oppa lakukan ya!.”

Younghae sudah memonyongkan bibirnya, Yesung yang bingung segera ambil tempat dibelakang Younghae sambil menjulurkan lidahnya dan memberikan 2 simbol V diatas kepala Younghae. JEPRET. Foto pertama selesai. Yesung langsung mengambil tempat didepan Younghae dan melihat rambutnya sambil menjulurkan lidahnya. JEPRET. Foto kedua pun selesai. Younghae langsung mengambil alih bagian depan dan memegangi pipinya sambil memonyongkan bibir. Yesung yang merasa terusir segera memasang pose dengan simbol V menyamping didepan mata kanannya. Sikutnya diletakkan diatas kepala Younghae dan, JEPRET. Foto ketiga pun selesai.

“Kali ini aku yang didepan! Kau diatas kursi saja!”seru Yesung sambil mengambil alih didepan kamera.

“Eh, eh! Nappeun namja! Minggir! Aku yang didepan!”seru Younghae sambil memukuli kepala Yesung.

“Hyak! Jangan pukuli kepalaku!”teriak Yesung pada Younghae yang semakin membabi buta. JEPRET. Dan foto keempat pun sudah terambil.

Yesung keluar duluan dari photo both sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan disusul oleh Younghae yang rambutnya berantakan. Kini semua tatapan aneh tertuju pada mereka berdua dan bisikan-bisikan mulai berdatangan.

“Ppaboya, cepat ambil foto itu dan kabur”

“Kau saja yang mengambilnya. Aku mal… awww,” Yesung menginjak kaki Younghae keras-keras dan kini mereka semakin menjadi pusat perhatian.

“Nappeun namja! Sakit tau!.” Younghae menyadari bahwa Yesung sudah jauh didepannya mengebut sepedanya. Gadis itu segera mengambil hasil foto barusan dan berusaha menyusul Yesung. Awas kau!, gumam Younghae sambil menaikkan kecepatannya menembus keramaian malam minggu.

***

“Lain kali jangan tinggalkan aku seperti tadi!”marah Younghae ketika mereka sudah sampai di kedai sederhana untuk makan malam.

“Haha, mianhae. Nah, kau mau pesan apa? Kali ini aku yang bayar.” Yesung mendorong buku menu kedepan Younghae yang masih cemberut.

“Yang benar nih? Aku pesan 1 kimchi pedas, 1 kalbichim, 1 bulgogi, dan 1 piring kimbab untuk berdua. Eh satu lagi, minumnya jus strawberrry ya!”ucap Younghae sambil menutup buku pesanan dan menggesernya kedepan Yesung.

Kali ini Yesung menatap Younghae dengan kening berkedut, “Kau cacingan ya?”tanyanya sambil menatap Younghae dengan tatapan menusuk.

“Tidak kok. Masih masa pertumbuhan”ucap Younghae dengan bangga. Yesung tahu jika kalimat itu mengandung sindiran untuk dirinya.

“Ingatlah ppaboya yeoja. Pertumbuhanku jauh lebih lama darimu. Aku pesan 1 bulgoggi dan teh ginseng saja”ucap Yesung pada pelayan yang kini tersenyum manis dan perlahan lenyap dari pandangan mereka.

“Uuuu… Yang pesanannya seperti ahjuma. Lihatlah, ada orang yang terlihat ceria ketika difoto tadi. Padahal tadi dia marah-marah ketika kuajak photo both” katanya sambil mendorong 4 lembar foto kedepan Yesung sambil menatap foto-itu-milikmu.

Telinga Yesung benar-benar sensitif jika ia dikatai ahjuma. Memang apa salahnya murid kelas XII suka minum teh ginseng? Kesempatan menyindirnya sudah ditutup! Kali ini dia harus merencanakan sebuah balas dendam untuk seorang yeoja tengil. “Younghae-ya, sekarang pejamkan matamu dulu. Aku punya hadiah untukmu”ucap Yesung dengan nada yang dilembut-lembutkan.

Parahnya, Younghae malah menurut dan berkata “Baiklah oppa. Aku siap.” Yesung menggenggam tangan kanannya yang perlahan diangkat keatas meja dan BLETAKKK!!! Sebuah sentilan keras mendarat diatas dahi Younghae yang berponi.

“Ya! Nappeun namja! Sakit ppabo!”ucap Youngae sambil mengelus keningnya yang kini panas dan berdenyut-denyut. Sementara Yesung malah menertawai Younghae yang kini manyun seperti gurita.

“Anggap itu dan makan malam ini adalah balasan dariku.” Younghae baru mau berkomentar namun ia mengurungkan niatnya karena pesanan segunungnya sudah diantarkan diatas meja. Mau tak mau dia harus bergelut dengan isi piring-piring itu berbekalkan sepasang sumpit bambu.

[ Younghae Pov ]

Menjelang jam 9 malam, aku dan Yesung oppa baru di perjalanan pulang. Boleh kubilang jika Yesung oppa bukanlah namja garang nan menyebalkan seperti seorang ahjuma. Dia bisa menjadi lawan bicara yang asyik, karena dia mudah kubuat mati kutu.

“Nah, sudah sampai. Kau akan bilang apa pada eommamu baru pulang jam 9 malam?”tanya Yesung memecah pikiranku barusan.

“Aku akan bilang apa adanya jika aku pergi denganmu seharian ini. Ketimbang berbohong? Apa gunanya?.” Kulihat kebelakang, sudah ada Ji Ae yang mengintai kami berdua melewati jendela ruang tamu.

“Baiklah. Sampaikan permintaan maafku pada eommamu ya. Gara-gara aku, kau jadi pulang semalam ini”ucap Yesung dengan nada malu-malu. “Ne, akan kusampaikan hal itu.” Kubalikkan lagi tubuhku yang kini mendapati para pengintai itu bertambah menjadi 2 orang.

“Oppa, sebaiknya kau pulang sekarang. Sampai rumah istirahatlah, mumpung besok hari Minggu,” kataku pada Yesung yang kini manggut-manggut. Semoga dia tidak menyadari ada kalimat pengusiran untuknya.

“Ne, arasseo. Telpon aku kalau ada apa-apa”ucap Yesung sambil membentuk jengkalan jarinya yang didekatkan di telinga kanannya. Hah? Telpon? Punya nomornya dari mana? Belum sempat aku pikir lebih lanjut, Yesung sudah menjauh dan perlahan-lahan hilang dari pandanganku. Apa maksud ucapannya barusan? Gumamku sambil memasuki pintu rumah.

Handel pintu baru kupegang dan siap-siap kubuka. Tiba-tiba 2 orang yeoja menatapku dengan mata yang sama-sama disipitkan. “Masuk!”seru eommaku sambil terus memicingkan matanya kearahku. Ji Ae sudah siap di meja tamu untuk ikut menyidangku malam ini juga.

“Namja tadi siapa? Kenapa ganti lagi? Jangan bilang anak eomma ini playgirl!”kata eommaku bertubi-tubi.

“Satu-satu tanyanya! Dia temanku, lebih tepatnya sunbae-ku”

“Benarkah? Kenapa kelihatan mesra sekali. Seung Hee belum berani mengajakku jalan malam dan pulang semalam ini”timpal Ji Ae ikut menghakimiku. Seketika kepalaku terasa berkedut tidak karuan ketika mendengar ucapannya.

“Pilihlah salah satu. Temanmu yang kemarin atau yang barusan. Jangan permainkan laki-laki jika kau tidak ingin dimainkan oleh mereka”tambah eommaku.

“Sayang sekali mereka berdua tampan. Jika aku jadi eonni aku akan memilih namja yang kemarin karena….”

“Hyaaahh!!! Hentikan!!! Aku tahu hanya aku yang tidak mempunyai teman kencan dirumah ini!!! Tapi berhenti memojokkanku dengan mengatakan semua teman laki-lakiku itu namja chinguku!!!”teriakku diluar kontrol.

Kali ini aku benar-benar sudah lelah. Bayangkan, ini kali ketiganya aku disidang semacam ini! Ini hanya membuang-buang waktuku! Dengan hawa penuh emosi, aku menerjang masuk rumah dengan muka khas origami gagal produksi. Kubanting dan kukunci rapat-rapat pintu kamarku. Untung tadi Yesung mengajakku makan malam. Jika tidak aku bisa kena maag semalaman. Tunggu, kenapa aku berani berteriak sekeras itu ketika Ji Ae mengatakan lebih memilih Donghae daripada Yesung? Arrgghh… menambah personil beban pikiran yaitu  mereka berdua bisa membuatku cepat masuk rumah sakit jiwa!

 

Part 4

[ Author Pov ]

Younghae melangkahkan kakinya dengan gontai memasuki kelasnya. Jam 06.45 waktu Seoul sudah cukup pagi untuk seorang pelajar. 2 malam tidak bisa tidur adalah bencana besar bagi Aurora Negeri Ginseng satu ini. 2 malam pula bayangan Donghae dan Yesung berkelebat didalam kepalanya.

“Annyeong, kwiyeo…. Aigo! Astaga! Kau kenapa Younghae-ya!”ucap Hyuna sambil membawa Younghae duduk disampingnya. Ia sempat menepuk-nepuk wajah sahabatnya yang pucat seperti hantu itu.

“Hoaaammm…. Aku baru tidur jam 2 pagi” katanya, sambil menutupi mulutnya yang sudah seperti Blue Hole ditengah lautan.

Hyuna yang melihatnya reflek mundur selangkah gara-gara kaget. Ia menunduk menatap wajah Younghae baik-baik, “Apa yang membuatmu tidur jam segitu, nak? Bukankah kau selalu tidur dibawah jam 9 malam?.”

Meski dengan wajah pucat, Younghae masih bisa melirik Hyuna dengan tatapan seekor singa yang mau menerkam mangsanya, “Aku bukan anakmu, ahjumeonni”katanya yang langsung membuat Hyuna manyun. “Ada sesuatu yang kupikirkan”ucap Younghae sambil menerawang keluar jendela, menatap daun-daun coklat yang berguguran karna tertiup angin.

“Apa? Pasti karena sebentar lagi ujian dan kau harus menyelesaikan mading ya?”tebak Hyuna yang langsung membuat Younghae melotot lebar.

“Mading? Mading apa?”tanya Younghae dengan wajah bloon mirip anak pra-sekolah yang pup dicelana saat ibunya sedang memborong diskonan.

“Bukankah 2 hari lagi madingmu akan menampakkan diri di papan pengumuman depan? Masa kau lupa? Aigo, hal apa yang sampai membuat kau lupa ingatan seperti ini?,” Hyuna mengepalkan tangannya dan mengetuk-ketukannnya ke dahi Younghae dan meja bergantian.

“Ah, sudahlah. Nanti kukerjakan saat pulang sekolah”

Sebelum Younghae benar-benar menyentuh bangku, Hyuna sudah lebih dulu menggenggam tangannya dan berkata “Tak usah ikut pelajaran. Hari ini kau di ruang kesehatan saja. Memangnya kau mau dihukum mengerjakan 50 soal Kimia dari ahjuma sok galak itu?.” Younghae hanya menggeleng pasrah dan mengikuti Hyuna yang sudah menggeretnya keluar kelas.

***

Younghae sudah tergeletak diatas kasur ruang kesehatan sejak 15 menit yang lalu. Hyuna juga sudah meninggalkannya dari tadi. Ia sudah beberapa kali mencoba untuk memejamkan matanya, namun usahanya selalu gagal karena bayangan tadi malam masih saja menghantuinya. “Aigo, ada apa denganku”ucap Younghae sambil memainkan kelopak matanya yang ber-double eyelift itu serta mencubiti pipinya. Pandangannya bertemu tepat didalam mata gelap Yesung. Seketika jantungnya langsung berdetak tidak beraturan. “Kenapa kau disini?,” pertanyaan itulah yang pertama kali diucapkan oleh Yesung ketika mendapati gadis aneh itu juga ada di ruang kesehatan.

“Tidak bisa tidur 2 hari, memikirkan mading. Oppa sendiri?”jawab Younghae singkat dengan memalingkan wajah dari Yesung.

“Barusan kena kawat berduri dan ini hasilnya,” Yesung membuka kepalan tangannya yang langsung menunjukkan luka menganga cukup dalam ditangan kanannya.

“Aigo”gumam Younghae terbata-bata ketika melihat luka yang masih mengeluarkan darah itu yang mendapat reaksi kerutan dahi dari Yesung.

“Jangan menatapku begitu. Lukaku hanya butuh obat antiseptik dan perban saja kok. 3-4 hari juga sudah sembuh”

Younghae masih menatap wajah namja itu ragu-ragu. Bagaimana mungkin tangan bercucuran darah seperti itu baik-baik saja?, “Jinjayo? Wajah oppa sama sekali tak bisa meyakinkanku akan ucapan oppa barusan” katanya mengutarakan unek-uneknya.

“Ne, gwaenchana.”

Dasar Younghae keras kepala, dia segera bangkit untuk mencarikan peralatan untuk mengobati luka Yesung. Meski dengan wajah pucat dan berjalan sempoyongan, dia tetap berusaha untuk mengobati luka Yesung. “Oppa diam dan jangan bergerak!”perintah Younghae pada namja yang tangan kanannya ada diatas pangkuannya. Yesung hanya mengerjap bingung. Bingung kenapa yeoja satu ini bisa begitu baik dengannya. Bingung juga kenapa jantungnya berdetak tidak normal.

Selama beberapa menit Yesung memberhatikan wajah Younghae yang sudah serius mengobati lukanya. Jemari lentik berkutek Elmo itu benar-benar halus dan tangkas menanganinya. “Nah, sudah selesai. Tiap habis mandi perbannya diganti ya, oppa. Biar lukanya cepat sembuh,” Pandangan Younghae bertemu tepat didalam mata gelap yang sedang menatapnya penuh arti.

Ia reflek menunduk, berusaha untuk menyembunyikan pipinya yang mungkin sudah seperti buah persik. Tiba-tiba ia merasakan sentuhan tangan di pipinya. Dadanya mulai terasa sesak karena detak jantungnya yang semakin menggila. “Pipimu hangat, nyaman sekali”ucap Yesung tanpa dosa.

Dengan galak, Younghae langsung mengusir tangan Yesung dari pipinya. Huh, kukira dia mau menciumku, batin Younghae dalam hati. “Kau kenapa? Aku tidak berniat menciummu ppabo”seru Yesung pada Younghae yang sudah memunggunginya.

“Ahahahaha, ppabo namja”tawa Younghae garing.

“Kau tidak ikut pelajaran kan? Kalau begitu ikut aku.” Tanpa menunggu persetujuan Younghae, Yesung langsung menggeret Younghae pergi dari ruang kesehatan dan entah menuju kemana.

[ Yesung Pov ]

Imut, polos, manis, dan cantik.

Hal itulah yang tepat untuk menggambarkan Younghae. Entah kenapa aku mulai merasa ada sesuatu yang terjadi saat aku berada didekatnya. Entah hanya perasaanku saja atau bukan, yang jelas aku merasakan pipinya mendidih setelah tatapanku bertemu dengannya. Sekarang gadis itu kuajak pergi ketempat persembunyianku. Ditempat inilah aku biasa mengasingkan diri. Sejauh ini baru Younghae seorang lah yang mengetahui tempat rahasiaku ini.

“Oppa mau apa ketempat seperti ini?”tanya Younghae yang kini tengak-tengok menatap lingkungan sekelilingnya.

“Mau apa? Mau menghirup udara segar di hari terakhir musim gugur,” Kulirik yeoja itu yang masih menatapku bingung, “Ketempat rahasiaku.”

“Tempat rahasia? Terus kenapa kau memberitahukannya padaku?”

“Yah, siapa tahu kau suka. Kita bisa melihat Seoul dari sini”ucapku sambil menunjuk N Seoul Tower yang terlihat didepan mata.

“Waah iya, ternyata selera oppa bukan selera rendahan ya”

“Apa katamu barusan?”ucapku berusaha menyakinkan pendengaranku.

“Ah ani, aku hanya bilang N Seoul Towernya cantik”ucap Younghae sambil menuding-nuding menara merah itu dengan girang.

“Kapan-kapan kita kesana berdua ya,” Younghae langsung menoleh kearahku dan berkata, “Oppa bilang apa barusan? Kesana berdua?”tanyanya dengan mata membelalak. Ppabo! Ppabo! Ppabo! Kenapa aku mengucapkannya, batinku sambil mengetuk-ketukkan kepala yang disambut pelongoan bingung dari Younghae.

[ Donghae Pov ]

Aku baru saja dari laboratorium IPA, menyelesaikan reaksi Kimia kurang ajar itu bersama Sungmin yang kini sudah sibuk memijit dahinya. Kami berdua bukanlah kloter terakhir yang berhasil menyelesaikan reaksi gila itu. Hanya saja nomor 2 dari belakang. “Hyung, masih pusing?”tanyaku pada Sungmin yang masih menunduk lemas. Ia hanya mengangguk pasrah dan kurasa tanda-tanda stress mulai mengambang di permukaan wajahya. “Hyung duduk disini dulu, aku ambilkan obat sakit kepala di ruang kesehatan”ucapku sambil meninggalkan Sungmin yang terduduk lemas dengan wajah pucat.

Langkah kakiku terhenti ketika mendapati gadis berambut tanggung sedang kebingungan. Ia sedang mecari-cari sesuatu atau apa? tanyaku dalam hati. “Ah, nappeun yeoja. Kemana dia sekarang?”tanya gadis itu pada dirinya sendiri. Aku hanya menatapnya bingung dan meneruskan tujuanku ke ruangan ini.

“Ah oppa, apa kau melihat gadis berambut panjang lurus, tubuhnya tinggi dan seksi?”tanya gadis itu sambil mencoleki lenganku.

“Hah? Gadis yang mana?”tanyaku masih tak mengerti

“Mmm.. gadis itu fanatik biru. Jadi kemanapun dia pergi, asesorisnya pasti warna biru.”

Pikiranku langsung tertuju pada gadis yang belakangan ini ikut kumpul bersama anggota band kami. “Namanya Kwon Young Hae bukan?”tembakku langsung pada gadis yanga ada didepanku. Ia mengerjap tak percaya, mungkin bingung karena identitas temannya bisa diketahui oleh seorang namja yang belum ia kenal. Namun ia mengangguk mantap setelah sekian lama otaknya memproses kalimatku.

“Kenapa Younghae diruang kesehatan? Apa dia sakit?”tanyaku pada Hyuna, sahabat dekat Younghae yang kini berjalan bersamaku. Bagaimanapun juga, kondisi Younghae wajib kuketahui. Berhubung aku sudah teracuni oleh pesona tingkah polosnya itu.

“Tidak bisa tidur 2 malam itu hal buruk bagi Aurora Negeri Ginseng.” Aurora Negeri Ginseng? Aurora kan puteri tidur. Negeri Ginseng kan Seoul. Berarti Younghae adalah puteri tidur dari Seoul?

“Isshh… dimanakah ia? Sudah tau pucat begitu kenapa malah jalan-jalan”dengus Hyuna makin kesal. Aku bisa merasakan hawa kekesalannya yang mencuap-cuap itu.

“Sebentar ya aku berikan ini pada temanku yang terkena syndrom praktek Kimia”ucapku sambil menggoyangkan obat sakit kepala dan air mineral didepan Hyuna.

“Heh kau nappeun yeoja! Sudah tau masih pucat kenapa jalan-jalan! Kalau kau sa….. Omonaa”pekik Hyuna tertahan ketika melihat seorang yeoja yang bergandengan tangan dengan seorang namja.

Pandanganku terhenti ketika melihat Younghae yang bergandengan dengan Yesung hyung. Bahkan Sungmin yang mau minum obat pun melongo cukup lama saat melihat hyungnya bergandengan tangan dengan guru privat favoritnya. “Hyung”ucapku dengan nafas tersendat. Rasa cemburu mulai memenuhi kepalaku. Apalagi sampai detik aku bicara mereka belum melepaskan gandengan itu. Detik berikutnya, kulihat mereka saling bertatapan dan melepaskan tangan masing-masing. Younghae langsung dibawa pergi oleh Hyuna, sedangkan Yesung membalikkan tubuh untuk berjalan ke kelasnya.

“Hyung, ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu”

[ Author Pov ]

Yesung dan Donghae mengambil meja yang ada dipojok kafe. Yesung memesan teh ginseng seperti biasa, sedangkan Donghae memesan secangkir kopi hangat. Mereka berdua hanya saling menatap minuman masing-masing, sesekali menatap satu sama lain dengan pandangan acuh tak acuh. Donghae kesal karena gadis yang dia sukai digandeng oleh hyung-nya didepan matanya. Sedangkan Yesung kesal karena merasa Younghae bukanlah milik siapa-siapa, kenapa Donghae mesti sewot padanya.

“Hyung, aku mau tanya kepadamu. Apa kau menyukai Younghae?,” pertanyaan Donghae hanya dijawab pelengosan dari Yesung.

“Kalau kau menyukai Younghae, dekati saja. Jangan seperti pengecut begini, sama saja kau berniat memberi perhitungan denganku”ucap Yesung ringan yang langsung membuat Donghae makin mendidih.

“Jawaban hyung barusan memberi tahuku jika hyung juga menyukai Younghae, bukankah begitu?”

Yesung hanya meneguk teh ginsengnya sampai habis lalu tertawa garing, “Bukan aku yang bilang. Mulai detik ini kau rivalku”ucap Yesung sambil menepuk lengan Donghae pelan dan berlalu pergi menuju rumah Younghae..

***

“Annyeong, maaf aku telat”ucapku ketika sudah memasuki ruang tamu Younghae. Kulihat Ryeowook, Kyuhyun dan Sungmin sedang membantu Younghae memotongi bahan-bahan mading.

“Nado annyeong, hyung. Ayo duduklah dan kita bantu Younghae-ya mengerjakan ini semua”ucap Ryeowook sambil memamerkan pipi tembamnya.

Pandangan Yesung berhenti pada gadis berambut tanggung yang kini menatapnya dengan mata yang membulat. Bukankah gadis itu yang tadi sempat memarahi Younghae? tanya Yesung dalam hati. “Aha, kalian belum berkenalan ya. Oppa kenalkan ini sahabatku, Cho Hyuna. Hyuna kenalkan ini salah satu sunbae kita, Kim Jongwoon.” Mata Yesung dan Hyuna masih saling tatap dengan tatapan ngeri. Yesung takut Hyuna membabi buta, sedangkan Hyuna takut jika sunbae satu ini adalah namja chingu sahabatnya.

“Hey, ayo salaman dulu. Baru kita lanjutkan mengerjakan madingnya.” Ucapan Younghae barusan sama sekali tidak direspon positif oleh keduanya. Dengan cepat, Younghae ‘mencuri’ tangan mereka dan menjabatkannya secara paksa.

“Younghae-ya, aku masakkan makan siang dulu ya”ucap Ryeowook sambil bangkit dari tempat duduknya.

“Hah? Masak?”tanya Younghae sambil melongo.

“Wookie pandai masak loh, jangan remehkan kemampuannya”timpal Yesung yang langsung membuat Younghae manggut-manggut dan Hyuna menatap Ryeowook dengan puppy eyes.

Mereka semua kembali fokus pada tugas masing-masing. Hanya Yesung seoranglah yang menganggur disini. “Emm… Younghae-ya. Aku kebagian apa ya?”tanya Yesung pada Younghae yang sibuk mengarahkan Kyuhyun.

“Oppa cari info saja. Tema madingku musik, jadi terserah oppa mau memasukkan info apa”ucap Younghae masih belum beralih pada kertas ungu yang sedang ia potong.

“Cari pakai laptopku saja oppa. Password-nya younghae kecil semua.”

Yesung langsung menurut dan membuka MacBook Air Pro milik Younghae yang tergeletak diatas meja. Setelah memasukkan password, matanya terpaku pada background laptop milik Younghae. Ada 4 hasil foto stikernya dengan Younghae 2 hari yang lalu terpampang disana. Seketika jantungnya mulai tidak karuan lagi. Namun ia berusaha menyembunyikan itu dan tetap melaksanakan tugasnya dengan baik.

“Makanan sudah jadi! Ayo kita makan dulu! Aku buatkan sup jamur dan bulgogi panas untuk kalian semua”ucap Ryeowook ceria yang baru keluar dari dapur dan masih menggunakan celemek.

Semuanya langsung bubar dan duduk rapi di meja makan, seperti cerita Peter Rabbit yang ibunya memanggil anak-anak kelincinya dan semua akan berkumpul. “Annyeong, maaf aku telat.” TEK. Pandangan mereka berdua langsung bertemu dan Donghae langsung melengos menatap benda lain. Ia langsung mengambil tempat duduk kosong yang ada disebelah kiri Younghae, karena sebelah kanannya sudah lebih dulu ditempati oleh Yesung.

“Ah, siapapun tolong ambilkan aku sumpit dong”ucap Younghae sambil menuding wadah sumpit ditengah meja makan. Dengan sigap, Yesung dan Donghae langsung mengambilkan sepasang sumpit dan berkata “Ini” secara bersamaan.

Semua audience termasuk Younghae hanya bisa melongo ketika menatap sebuah adegan drama yang terjadi diatas meja makan itu. Namun Kyuhyun segera berdeham dan berkata “Ayo dimulai makannya. Aku sudah lapar.” Semuanya kembali menurut dan menunduk menatap piring satu sama lain. Lain dengan Yesung dan Donghae, keduanya masih saling melempar pandangan rival ke satu sama lain.

***

“Dah Ryeowook-ah, Sungmin-ah, Kyuhyun-ah! Hati-hati dijalan ya!”seru Younghae didepan pagar sambil melambaikan tangan dengan heboh kearah mereka bertiga yang sudah pamit pulang. Siapa yang tak mau pulang saat jam sudah menunjukkan jam 8 malam? Hyuna sudah pulang dari jam 6 tadi. Ia takut appa-nya bakal marah besar jika ia pulang terlalu malam.

Didalam rumah hanya tersisa Yesung dan Donghae. Yesung masih fokus menatap laptop, sedangkan Donghae masih sibuk menempeli artikel yang sudah ditulis rapi oleh Younghae. Ji Ae dan eomma Younghae menatap dari jauh kejadian itu. Mereka takut Younghae akan mengamuk lagi jika mereka menanyakan hal yang aneh-aneh lagi.

“Kalian tidak pulang? Lihatlah jam berapa sekarang. Besok masih sekolah loh”ucap Younghae dengan berkacak pinggang ditengah keduanya. Namun mereka berdua sama sekali tidak menggubris ucapan Younghae dan tetap meneruskan pekerjaan masing-masing.

Younghae yang kesal segera menutup layar MacBook-nya yang digunakan Yesung dan mengambil lem yang ada didepan Donghae. “Kalian pulanglah sekarang. Ini tinggal sedikit dan aku bisa meneruskannya sendiri. Gomawo sudah banyak membantu”ucap Younghae dengan nada sedikit mengusir.

Yesung dan Donghae keluar dari rumah Younghae bersamaan, sempat saling menatap satu sama lain sebentar. “Kita buktikan siapa yang pantas untuk Younghae saat hari ulang tahunnya nanti”ucap Yesung sambil berlalu memasuki mobilnya.

Donghae yang mendengar kalimat tantangan itu hanya mengerjap dan berkata “Oke, aku tidak takut.” Mulai malam itu juga, perang dingin akan terus berkobar diantara Yesung dan Donghae. Hanya Tuhan, waktu, dan Younghae lah yang bisa menentukan siapakah pemenang perang tersebut.

 

Part 5

[ Yesung Pov ]

Mendadak aku merasa seperti orang bodoh karena secara tidak langsung aku sudah menyatakan perang terhadap Donghae. Bagaimana bisa aku bicara begitu? Ulang tahun Younghae kapan saja aku tak tahu. Jika aku tanya padanya, bisa-bisa dia menjerit histeris mengira aku sudah resmi menjadi fans-nya. Jika aku tanya pada Hyuna, tidak mungkin dia menjawabnya. Dia sendiri menatapku begitu mengerikan. “Arrgghh… Ppabo namja! Kenapa aku mengucapkannya?”tanyaku pada diri sendiri sambil mengacak-acak rambutku sampai berantakan.

Mobil merahku kuparkir diluar rumah karena mobil hitam appaku sudah lebih dulu menempati carport. Mana bisa mobilku masuk? Kecuali jika mobil appaku kuhancurkan dulu, baru mobilku bisa masuk. “Hyung dari mana saja baru pulang jam segini?”tanya Jongjin, adikku yang sepantar Donghae yang kini berdiri didepan pintu.

Aku mengeryit heran karena tidak biasanya dia tanya padaku, “Dari rumah teman. Membantu mengerjakan mading. Memangnya kenapa? Kau rindu padaku?”tanyaku bertubi-tubi.

“Hyung jangan seperti orang panik begitu. Aku tidak akan menggigit hyung kok”ucap Jongjin sambil nyengir lebar dan mengacungkan tanda V menggunakan tangan kanannya.

Aku mengangguk dan meletakkan sebuah gelas tinggi untuk minum, “Appa belum pulang atau sudah tidur? Eomma mana?.”

“Ada undangan pernikahan yang aku tak tahu siapa yang menikah”ucap Jongjin polos sambil terus mengekor dibelakangku.

“Hey, kenapa kau mengikuti dibelakangku terus menerus?”

“Hah? Tidak apa-apa kok hyung. Hanya saja hyung terlihat bahagia campur kesal hari ini.”

DEG. Prediksi Jongjin benar-benar pas untuk menggambarkan suasana hatiku saat ini. Senang karena seharian ini aku menghabiskan waktu bersama Younghae. Kesal karena Donghae terlihat begitu serius menanggapi tantangan bodohku. “Baru predisi kan? Belum tentu itu benar”ucapku sambil berjalan memasuki kamarku. Jongjin terus mengikutiku sampai aku mau menutup pintu kamar.

“Yesung hyung”

“Ne?”tanyaku ragu sambil menatap Jongjin yang kini ganti menatapku dengan serius.

“Jangan mau mengalah ya. Perjuangkan apa yang hyung inginkan”

Aku sempat termenung mendengarkan ucapan bijak Jongjin barusan lalu menjawab, “Ne, arasseo”sambil menutup pintu.

Kurebahkan tubuhku diatas kasur sambil menatap hasil foto stiker yang memalukan bersama Younghae. Seketika otot bibirku memaksaku untuk melengkungkan sebuah senyuman manis ketika melihat foto itu. Ucapan Jongjin barusan juga menyadarkanku bahwa aku tidak boleh menyerah. Ya, perang dingin ini akan kuselesaikan baik-baik tanpa ada kekerasan.

[ Donghae Pov ]

Setelah memarkirkan mobilku di garasi, aku masuk melewati pintu samping karena pintu depan sudah dikunci. Aku tahu jika yang mengunci adalah appa-ku. Meski aku seorang namja, ia tak membiarkan anak-anaknya pulang malam dan keluyuran tidak jelas di Korea Selatan ini.

“Baru pulang?”suara Donghwa, hyung-ku langsung mengejutkanku ketika aku menutup pintu sambil mengendap-endap. Aku hanya meletakkan telunjuk kananku didepan bibir ketika ia menatapku dengan tatapan datar.

“Oke, tapi traktiran ke kedai harus ada”ucap Donghwa hyung santai sambil meninggalkanku begitu saja yang masih melongo tanpa reaksi. Tanpa tunggu appa-ku muncul, aku langsung naik keatas menuju kamarku.

Kuselampirkan handuk putih dileherku. Seolah tak peduli jika hawa Seoul makin dingin, aku hanya bertelanjang dada dan duduk disamping tempat tidur sambil menatap langit-langit. Pikiranku kembali melayang ke pernyataan perang Yesung hyung. Dia memang hyung yang kusayangi, tapi aku juga tak mau mengalah begitu saja jika yeoja incaranku akan direbut olehnya.

“Ne, bersikaplah seperti seorang namja Donghae-ah! Hwaiting!”ucapku sambil menyemangati diriku sendiri.

[ Younghae Pov ]

Malam ini adalah malam membingungkan yang pernah terjadi dalam hidupku. Entah hanya perasaanku saja atau tidak, tingkah Yesung oppa dan Donghae terlihat berbeda ketimbang saat aku bertemu dengan mereka untuk pertama kalinya.

“Eonni, aku masuk ya”ucap Ji Ae sambil mengetuk pintu kamarku.

“Ne, masuklah.”

JEGLEK. Pintu kamar pun terbuka dan kulihat seorang yeoja tinggi nan imut sudah mengenakan piyama baby doll warna putih. Ia menatapku ragu-ragu diambang pintu, seolah masih trauma akan amukanku saat hari Sabtu kemarin. “Kau kenapa? Kenapa menatap eonni dengan wajah seperti itu?”tanyaku pada Ji Ae yang masih diambang pintu.

“Eon sini ikut aku sebentar”ucap Ji Ae tetap pada posisinya.

Dengan ragu aku mengikuti langkah kaki Ji Ae yang menuju sebuah tempat yang ternyata atap rumah. Kami keluar melalui jendela besar yang ada diatap rumah, lebih tepatnya loteng rumahku. Loteng rumahku ada dua, yang satu menjadi gudang dan yang satu lagi menjadi kamarku sekarang. Namun aku heran, kenapa Ji Ae mengajakku ke loteng yang satunya? Bukankah dikamarku ada jendela besar yang bisa ke atap juga?

“Eon, sekarang tutup mata. Dengarkan lagu ini baik-baik ya.” Aku hanya bisa menuruti perintah Ji Ae, jika aku membangkang bisa-bisa aku mati konyol diatas atap rumah. Andwae! Aku ingin mati dengan cara yang lebih elit!

“Ini bukan lagu, ini hanya dentingan piano”ucapku sambil terus terpejam dan perlahan-lahan merebahkan tubuhku diatas genteng yang seolah ikut membeku di suhu dingin seperti ini.

“Dengarkan saja eonni! Rasakan sesuatu yang menyelinap dihati kecilmu!”

Aku hanya menurut dan terus terpejam. Perlahan-lahan bayangan dikepalaku muncul bergantian seolah seperti film. Ini kan Kiss The Rain. Untuk apa Ji Ae memutarkanku lagu galau seperti ini? Bukan lagu seperti inilah yang kucari, tapi lagu yang bisa membantuku memecahkan masalah yang terjadi antara aku, Yesung oppa dan Donghae.

“Apa yang bisa eon rasakan saat mendengar lagu ini?”tanya Ji Ae saat lagu sudah selesai.

“Tak ada. Hanya memori yang di-rewind, itu saja”ucapku santai sambil memeluk kaki.

“Berarti eon belum mengeri maksudku”

“Belum mengerti maksudmu?”kataku mengulangi kata-kata Ji Ae barusan karena masih belum paham.

Ji Ae segera bangkit menghampiri jendela besar untuk masuk kedalam. Namun ia sempat menoleh kearahku dan berkata, “Hanya hati kecil eonni lah yang bisa menjawab pertanyaan eonni barusan. Aku tidur dulu ya eon, saranghae.” Aku masih duduk termenung memikirkan kalimat-kalimat Ji Ae barusan. Benar juga. Jawabannya hanya ada didalam hati kecilku, yang sampai saat ini mereka belum menampakkan diri ke permukaan.

***

HATCHI!!!

Suara bersin yang cukup keras keluar dari hidungku berhasil membuat seluruh penghuni kelas menatapku. Bahkan spidol yang dipegang guru Matematika-ku sampai jatuh beberapa kali seiring berapa kali aku bersin selama pelajarannya.

“Younghae-ya? Gwaenchana?”tanya guruku itu dengan alis bergerak-gerak seolah mau lari dari dahinya.

“Ne. Mianhae aku mengganggu pelajaran”ucapku dengan bahasa kurang sopan. Sebenarnya dia guru baru yang baru lulus S1 tahun kemarin. Oleh karenanya kami sering memanggilnya dengan panggilan sedikit kurang sopan.

“Lebih baik kau pulang dan beristirahat Younghae-ya”

“Tapi…”

“Sudah tidak apa-apa. Pulang lebih awal 30 menit lebih baik untukmu ketimbang kau mengejutkan guru terakhir yang masuk ke kelas ini.”

Segera kurapikan semua bukuku kedalam tas. Selama beberapa detik aku saling bertukar pandang dengan Hyuna yang menatapku cemas. Namun aku tetap angkat kaki dari kelasku sendiri karena ultimatum pengusiran dari guruku sudah dikumandangkan. Aku jalan keluar kelas dengan gontai, menuju halte bus diseberang sekolah untuk segera pulang.

“Younghae-ya? Kenapa kau bawa-bawa tas?”tanya Yesung mengejutkanku karena ia muncul tiba-tiba dihadapanku.

“Diusir guru gara-gara flu”ucapku sambil menggosok-gosok hidungku yang ingusnya hampir jatuh itu. Bisa malu aku jika ingusku benar-benar menetes saat berhadapan dengan namja!

“Mau kuantar pulang?.” Aku belum sempat bereaksi ketika Yesung sudah lebih dulu menyambar tasnya dan menghampiriku lagi.

“Ya! Yesung-ah! Mau kemana kau! Kau belum mengetik bagian makalah kelompok!”getak seorang namja kurus tinggi dibelakang Yesung. Aku berjinjit untuk melihat siapa namja yang menggetaknya itu karena tinggi Yesung sekitar 178 cm, sedangkan aku hanya 166 cm.

Kerah belakang Yesung langsung ditarik pergi oleh namja yang bernama Heechul itu. Aku mengetahui namanya karena sempat membaca bordiran “Kim Heechul” dalam Hangul yang tertera jelas di bajunya. Yesung hanya bisa menatapku dan nyengir pasrah. Ah, kenapa aku jadi sedih begini tidak diantar pulang oleh Yesung?

***

“Sedang apa disini Younghae-ya?.” Suara khas itu langsung membuatku menoleh ke kiri dan ke kanan karena aku tak tahu si empunya suara ada dimana.

“Aku dibelakangmu”ucap Donghae sambil menurunkan koran yang sempat ia baca. Aku yang terkejut hanya membentuk simbol O raksasa menggunakan mulutku.

“Kau, tidak sekolah? Kenapa disini?”

“Tak ada kendaraan dirumah. Tadi pagi aku nyaris telat ke sekolah. Karena proyek ilmiahku sudah selesai makannya boleh pulang lebih dulu”terang Donghae panjang lebar kepadaku. Aku hanya manggut-manggut tanda paham kepadanya.

“Kuantarkan sampai rumah ya. Kebetulan jalur bis kita sama.” Aku hanya bisa mematung dan pura-pura sibuk dengan ponselku hingga bis datang dan aku harus duduk bersebelahan dengan Donghae.

“Aku mau turun di halte depan itu”ucapku sambil menunjuk halte yang ada 200 meter dari kaca bus.

“Hati-hati Younghae-ya”

Chu~

Sebuah kecupan hangat baru saja mendarat di dahiku. Aku hanya tersenyum kaku dan menunduk keluar dari bis. Aku tak tahu harus merespon apa. Yang jelas aku tahu jika namja itu menggantungkan harapannya padaku…

[ Author Pov ]

“Younghae-ya, nomor ini caranya bagaimana? Aku sudah bertanya padamu sejak 5 menit yang lalu”ucap Sungmin sambil mengeryit kearah Younghae yang sejak tadi melamun.

“Mianhae, mianhae. Aku sedang susah konsentrasi belakangan ini.” Younghae langsung merampas buku Kimia Sungmin yang bertuliskan beberapa reaksi berpangkat.

“Sebaiknya kau pulang saja, Younghae-ya. Istirahatlah dirumah”ucap Kyuhyun sambil menatap serius kearah Younghae.

“Tapi, bagaimana tugas kalian?”

“Gwaenchana. Aku bisa mengerjakannya sendiri berdasarkan cara yang kau ajarkan tadi”ucap Sungmin berusaha menenangkan Younghae.

Akhirnya Younghae pulang kerumah sambil menuntun sepedanya. Belakangan ini pikirannya baru fokus soal perasaannya. Omongan Ji Ae beberapa hari yang lalu benar-benar membuat Younghae terus berpikir mengenai kepastian perasaannya. Ia datang ke tempat latihan semata-mata untuk mengajari 3 umat itu, oleh karenanya ia mengenakan celana jeans, kaus tipis dengan cardigan pink sakura tebal dan satu set syal plus sarung tangan warna putih. “Sudah lama aku tidak kesini”ucap Younghae bermonolog sambil menatap lingkungan sekitarnya, bukit dimana Younghae berusaha untuk menenangkan diri. Tiba-tiba ia mendengar seseorang menyanyi dari arah kirinya. Apa ada orang seputus asa dirinya yang mampir kesini saat suhu musim dingin makin terasa?

“Sedang apa disini?.” Mata Younghae langsung membulat mendapati seorang namja yang menggunakan jaket hitam tebal dan satu set syal plus sarung tangan salju warna merah yang makin mendekatinya.

Mulut Younghae masih terbuka lebar ketika mendapati sosok itu makin jelas dan ia makin mengenalinya, “Yesung oppa? Kenapa oppa ada disini juga?”

Kelopak mata kiri Yesung agak berkedut ketika mendengar pertanyaan bodoh dari Younghae. “Memangnya tidak boleh? Ini tempat favoritku untuk menyendiri, kau tidak berhak mengusirku dari sini”ucap Yesung sambil menghentikan langkah kakinya didekat sepeda pembawa sial itu.

“Tempat favorit?”tanya Younghae lagi dengan nada bloon.

“Ne, memangnya kenapa?”

Younghae langsung menjauh dari Yesung, menuding tepat di wajahnya dan berkata, “Ya! Ternyata oppa memang stalker-ku!”

“Hah? Bagaimana bisa?”

“Buktinya dari tembok sepanjang ini oppa bisa menemukanku”

Yesung agak menyesal karena sudah mendengarkan ocehan bodoh dari Younghae. “Isshh, kukira apa ppabo yeoja. Geser lah dari tempatmu duduk sekarang! Aku mau duduk!”

“Temboknya masih luas, cari saja tempat lain!”getak Younghae tidak mau kalah.

“Aniyo! Yang kau duduki itu tempat duduk favoritku! Minggirlah atau kau kudorong dari sini!.” Karena Younghae tidak kunjung bergeser, Yesung langsung duduk menempel pada Younghae.

Selama beberapa menit Younghae dan Yesung saling diam dan sibuk menyembunyikan kejanggalan yang mulai muncul. Younghae pura-pura sibuk dengan sweaternya, sedangkan Yesung pura-pura bermain ponselnya.

“Kau tahu kenapa bumi dan bulan berdampingan?”tanya Yesung memecah keheningan.

“Mmm… tidak. Menurutku itu sudah menjadi takdirnya”

“Oh ya? Takdir siapa?”

“Takdir dari Tuhan agar bumi dan bulan selalu bersama-sama”jawab Younghae polos sambil terus menatap terangnya lampu Seoul yang seperti bintang jika dilihan dari atas.

“Kau tahu jika bulan tidak ada apa yang akan terjadi pada bumi?”tanya Yesung lagi.

“Saat matahari terbenam gelap pun akan melanda bumi. Seperti rumah yang mati lampu”

Yesung mendesah panjang, karena gadis satu ini belum kunjung mengerti apa yang mau ia bicarakan. “Selain bumi menjadi gelap, air laut juga tidak bisa dikontrol. Jika terlalu surut akan menyengsarakan ikan, jika terlalu naik akan menyengsarakan manusia. Jika bulan pergi jauh dari bumi, ia akan tertarik gravitasi matahari. Bisa kau tarik sebuah kesimpulan dari apa yang kuucapkan?”

“Ani. Oppa berbicara terlalu panjang dan terkesan ilmiah. Seperti kalimat motivasi”ucap Younghae sambil memperbaiki sarung tangannya yang hampir melorot.

“Itu berarti bulan dan bumi sama-sama saling membutuhkan. Bumi membutuhkan bulan untuk mengontrol air lautnya, sedangkan bulan membutuhkan bumi untuk menjaganya dari gravitasi matahari”

“Oh ya? Aku belum pernah berpikir sampai disitu”ucap Younghae berbohong sambil tertawa garing.

Younghae tahu betul apa maksud dari ucapan Yesung barusan. Bukankah itu sama saja ia sebagai bulannya dan Yesung sebagai buminya? Namun Younghae lebih memilih untuk diam ketimbang berbicara sepatah kata pun. Detak jantungnya sudah melemahkan syaraf penggerak bibirnya terlebih dahulu sebelum otaknya memerintah.

“Aku pulang dulu ya. Hati-hati dijalan, jangan pulang terlalu malam. Hidungmu sudah merah tuh”ucap Yesung sambil menepuk-nepuk kepalaku pelan.

“Oppa, jangan….”ucapan Younghae terputus ditengah jalan karena yang diajak bicara sudah berjalan jauh.

Younghae langsung turun dari tembok dan mengebut sepedanya agar cepat sampai dirumah. Aku butuh Ji Ae sebagai tempat konsultasi hari ini!, gumam Younghae dalam hati seraya menaikkan kecepatan sepedanya menyusuri pohon tanpa daun yang ada di kanan dan kirinya.

[ Younghae Pov ]

Aku langsung masuk menerjang pintu rumah yang ada didepanku. Tanpa memberi salam, aku langsung naik ke kamarku, lebih tepatnya ke kamar Ji Ae si konsultan yang super bijak.

BRAKK!!!“Chagi, aku butuh kau sekarang juga!”ucapku jujur saat baru saja membanting pintu kamar Ji Ae sampai sweater adikku itu berjatuhan di lantai. Sedangkan Ji Ae sendiri hanya melongo menatap sweater-sweaternya berjatuhan dan diriku bergantian.

“Itu siapa? Kenapa pakai chagi segala? Kau selingkuh?”ucap suara yang keluar dari dalam MacBook yang kini sedang ditatap Ji Ae.

“Ah, ani Seung-ah! Itu eonniku. Dia sedang membutuhkanku untuk curhat. Nanti telpon saja ya, dah”ucap Ji Ae sambil senyum-senyum didepan layar MacBook miliknya. Astaga, aku nyaris menghancurkan sepasang kekasih yang sedang ber-video-call-ria!

Ji Ae segera menggeretku kedalam kamarnya dan menatapku dengan wajah kecut, “Eonni, jangat buat aku putus dari Seung Hee dulu! Aku baru menjadi pacarnya tadi siang!”ucap Ji Ae sambil menatapku bengis. Aku hanya nyengir lebar dan memamerkan simbol V menggunakan tangan kananku.

“Yesung oppa tadi menyampaikan perasaannya padaku”ucapku sambil memeluk Snoopy yang ada di tempat tidur Ji Ae.

“Jinja? Eon jawab apa?”tanya Ji Ae sambil melotot kearahku.

“Dia hanya menyampaikan teori bumi dan bulannya. Tapi aku tahu itu melambangkan perasaannya”

Ji Ae merebahkan tubuhnya disampingku sambil menatap langit-langit kamarnya, “Lantas, apa yang eon rasakan jika eon bertemu atau dekat dengan Yesung oppa?”

“Apa ya? Seperti wajahku terasa panas, tanganku suka basah dan dingin sendiri, tubuhku suka gemetaran aneh”

“Yak! Aku tahu solusinya!”pekik Ji Ae tiba-tiba.

“Apa? Apa? Beri tahu eon agar eon bisa cepat menyelesaikan hal ini!”ucapku sambil menggoyang-goyangkan lengannya dengan heboh.

“Balas saja perasaannya dengan perasaan eon yang sama itu. Dia pasti akan berwajah merah dan senyum-senyum sendiri”

“Hah? Tunggu, eon belum mengerti maksudmu”

“Aku bilang eon coba jawab dengan perasaan yang sama. Dari ciri-ciri eon saat bertemu dengannya sudah cukup memberi tahuku jika eon juga menyukainya”

“Jinja? Baiklah akan kupikirkan baik-baik tentang hal ini. Jika aku sudah siap, aku akan menghubunginya untuk bertemu”

“Eonni, hwaiting!”ucap Ji Ae sambil mengepalkan tangannya keatas. Aku hanya manggut sambil tersenyum lebar dan menutup pintu kamar Ji Ae pelan-pelan. Oppa tunggu aku ya, gumamku dalam hati.

[ Author Pov ]

Ujian kenaikan kelas telah berakhir. Nilai rapor para siswa pun sudah dibagikan. Untungnya Younghae mendapatkan peringkat 3 besar kali ini. Sedangkan anak didiknya mendapatkan peringkat 10 besar, kecuali Kyuhyun. Makhluk jenius itu bisa menembus peringkat 3 besar juga. Padahal dia jarang bertanya tentang pelajaran pada Younghae. Dia lebih fokus pada game console miliknya tiap Younghae menerangkan pelajaran.

Liburan panjang kali ini Younghae dan Hyuna menghabiskan waktu bersama keempat dongsaeng Yesung yang sama terlantarnya dengan dirinya. Rata-rata alasan mereka karena ayah mereka sedang fokus bekerja. Kemana Yesung? Sejak sebelum ujian kenaikan kelas ia tidak bisa dihubungi. Hal ini tentu saja membuat Younghae lemas karena ia sudah terlalu euphoria untuk menjawab teori Yesung saat di tembok itu.

Annyeong, Younghae-ya! Siang ini bisa jalan denganku? Balas ya!

Pesan singkat dari Donghae sekitar 1 jam yang lalu terus menerus ditatap oleh Youngahe dengan mata nanar. Kapan Yesung membalas pesan singkatku, batin Younghae dalam hati. Namun dengan cepat ia membalas “ya” akan ajakan Donghae barusan.

Hei, Hyuna-ya! Aku punya pekerjaan baru untukmu! Ikuti aku pergi ke Myeondong siang ini ya!

“Send!”ucap Younghae pada dirinya sendiri. Aku wajib bersiap-siap untuk pergi hari ini. Ada sebuah kejutan yang ingin kuberikan pada Donghae, batin Younghae sambil berjalan menuju lemari pakaian.

[ Donghae Pov ]

Hari ini aku berjalan-jalan bersama Younghae. Entah apa yang sedang dipikirkan gadis itu yang jelas dari tadi ia selalu menengok kebelakang ataupun kesamping. Bahkan sesekali ia sempat melamun menatap Galaxy S3 putihnya yang tidak bergeming sejak tadi. “Gwaenchana, Younghae-ya?”tanyaku pada Younghae yang dibalas dengan sentakan kaget.

“Oh, oh. Ne, gwaenchana”ucapnya sedikit gelagapan lalu kembali menengok ke sekeliling.

Kali ini adalah kesempatanku untuk mengatakannya pada Younghae. Mau kapan lagi? Mau saat ia sudah dimiliki oleh Yesung hyung? Mungkin aku akan melakukan hal itu, jika otakku sudah tertukar dengan ginjal. “Younghae-ya?”

“Uhm, ne?”

“Johahae”

“Mwol?”tanya Younghae dengan muka polos.

“Neol”

Ia hanya terdiam dan menatap meja. Sama sekali tidak menjawab apa yang barusan kukatakan. Keringat dingin mulai terasa di jari-jari kakiku. “Mianhae, aku menyukai orang lain.” Suara pelan Younghae barusan cukup membuatku kaget campur kecewa. Namun apa yang bisa kulakukan? Itu keputusannya dan itu haknya.

“Ne. Mian hanya ini yang bisa kuberikan padamu”ucapku sambil menyodorkan amplop putih kecil kepada Younghae. Gadis itu langsung membuka amplop itu. Detik berikutnya dia menatapku dengan tatapan haru dan berkata “Neomu gomawo Donghae-ah. Aku pergi dulu!”ucapnya sambil pergi keluar kafe dan berlari kencang.

“Kenapa sendirian Donghae-ah?”ucap Hyuna sambil menepuk pundakku dan duduk didepanku. Sepertinya aku butuh teman curhat untuk hal yang satu ini…

[ Author Pov ]

Younghae terus berlari menerobos keramaian liburan di Myeondong. Ia terus berlari hingga akhirnya berhenti didepan sebuah rumah bertingkat yang gerbang dan pintu utamanya pun tertutup rapat. “Oppa tahu kenapa bumi dan bulan berdampingan?”teriak Younghae didepan pintu gerbang.

“Oppa tahu kenapa bumi dan bulan berdampingan?”

“Bumi menjadi gelap, air laut juga tidak bisa dikontrol. Jika terlalu surut akan menyengsarakan ikan, jika terlalu naik akan menyengsarakan manusia. Jika bulan pergi jauh dari bumi, ia akan tertarik gravitasi matahari. Bisa oppa tarik sebuah kesimpulan dari apa yang kuucapkan?”

“Itu berarti bulan dan bumi sama-sama saling membutuhkan. Bulan membutuhkan bumi untuk menjaganya dari gravitasi matahari, sedangkan bumi membutuhkan bulan untuk mengontrol air lautnya”ucap Younghae masih dengan berteriak-teriak didepan gerbang yang tak bergeming itu.

“KIM JONGWOON-SSI!!! NEOMU SARANGHAEYO!!!! AKU MAU JADI PACARMU!!!”teriak Younghae sekencang-kencangnya namun tetap tidak ada respon dari pintu tinggi itu.

Saat Younghae berbalik, tiba-tiba ia melihat seorang namja dengan rambut berantakan sedang menatapnya dengan tatapan haru. Detik berikutnya ia sudah berlari dan memeluk Younghae seerat mungkin dan berbisik, “Aku juga mau jadi pacarmu.” Younghae hanya tersenyum manis dan menatap Yesung dengan sebuah tangisan.

“Hei, jangan menangis”ucap Yesung seraya menghapus air mata yang mulai turun dari kelopak mata Younghae.

“Oppa kemana saja? Aku sudah berusaha menghubungi oppa tapi tidak ada respon”ucap Younghae sambil sesenggukan.

“Mianhae, aku fokus ujian kelulusan sejak kita bertemu di dinding itu. Handphone-ku…. disita oleh appaku sampai aku diterima di universitas”

Younghae hanya melongo dan mengerjap beberapa kali, menyadari tingkah kekanak-kanakannya sejak lama itu. “Ppabo”kata Younghae pelan dan didengar oleh Yesung. Namja itu mengangkat dagu Younghae agar berani menatap mata gelapnya, “No one smart when they’re in love.”

“Tunggu, aku ambilkan sesuatu didalam rumah.” Yesung segera berbalik mengambil sesuatu dan menyerahkan sebuah tas biru muda bergambar awan.

“Apa ini?”tanya Younghae sambil mengangkat tas itu kedepan wajahnya.

“Kado ulang tahunmu”ucap Yesung polos sambil terus menatap Younghae dan tas kado yang dibawa oleh gadis itu.

Tawa Younghae langsung meledak manakala tas itu adalah kado ulang tahun untuknya, “Ulang tahunku masih tanggal 31 Januari besok, kira-kira akhir musim salju atau malah awal musim semi.”

Yesung yang malu segera berbalik dan mengunci gerbang rumahnya sambil berkata, “Ayo kita pergi!.”

“Kemana?”

“Kemanapun asal publik tahu jika kau kini milikku!”ucap Yesung sambil menggeret Younghae menuju keramaian jalan raya.

“Aaa, jangan ajak aku lari lagi. Aku capek”

“Yasudah, ayo naik”ucap Yesung sambil berjongkok dan mempersilahkan Younghae naik ke punggungnya. “Kajja!!!!,” Mereka pun berlari sambil tertawa-tawa menembus salju yang terhampar disepanjang jalan, tak perduli seorang ahjuma yang mengatai mereka orang aneh.

Bagaimana dengan Donghae? Tenang, sudah ada Hyuna yang mungkin bisa mengalihkan hati Donghae padanya. Bukankah cinta bisa tumbuh dari luka?. Siapa bilang jatuh cinta meski dengan benci dulu seperti Yesung dan Younghae? Kapanpun, dimanapun, dan siapapun bisa disergap mendadak oleh cinta yang mengendap-endap dari belakangmu tanpa peringatan.***

 

contact: @YesungAREA_

About superjuniorAREA

WE ARE INTERNATIONAL FANBASE DEDICATED TO SUPER JUNIOR ^^ UPDATE THE LATEST NEWS FROM OUR SUPERMAN ~~ SUPPORT US HERE ~~

Posted on December 24, 2012, in FanFiction and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: